Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Melihat Uniknya Budaya Kebersihan di Desa Lokasi Kongres Sampah

12 Oktober 2019, 16: 02: 20 WIB | editor : Ali Mustofa

KERAJINAN SAMPAH: Ibu-ibu warga Desa Kesongo membuat bermacam kerajinan dari sampah berbagai kemasan makanan-minuman instan di rumah Tri Martini kemarin.

KERAJINAN SAMPAH: Ibu-ibu warga Desa Kesongo membuat bermacam kerajinan dari sampah berbagai kemasan makanan-minuman instan di rumah Tri Martini kemarin. (SEKAR SAMUDRA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

SEMARANG, Radar Kudus – Keuletan masyarakat Kesongo Tuntang Kabupaten Semarang (bukan Salatiga, red) terhadap sampah menjadi magnet kuat terselenggaranya Kongres Sampah yang diinisiasi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pada Sabtu-Minggu (12-13/10) ini. Sejak di dalam rumah warga Kesongo telah memilah sampah antara organik dan non-organik di kantong yang berbeda.

Setiap pagi warga memasukkan kantong-kantong tersebut ke keranjang. "Ini keranjangnya juga beda. Ada dua keranjang, keranjang Iso Bosok dan keranjang Ora Iso Bosok," kata Mareta, warga Dusun Sejambu, Kesongo, Tuntang, Kabupaten Semarang, kemarin.

Istilah yang digunakan memang sangat sederhana dan mudah dipahami siapapun. Itu mempermudah masyarakat untuk turut serta dalam gerakan sadar sampah. Keranjang Iso Bosok berarti dikhususkan untuk sampah-sampah yang bisa membusuk (organik) dan keranjang Ora Iso Bosok untuk sampah yang tidak bisa membusuk (nonorganik).

(SEKAR SAMUDRA FOR RADAR KUDUS)

Untuk sampah yang di keranjang, kemudian diangkut ke tempat penampungan sementara oleh petugas dari desa. Namun tidak semua sampah nonorganik dibuang ke tempat sampah. "Kami memberikan ke tetangga yang membuat kerajinan dari sampah plastik. Ada yang dibuat kostum, bunga, topi dan lain-lain," katanya.

Kepala Desa Kesongo Supriyadi mengatakan, petugas pengangkut sampah tersebut juga melanjutkan pemisahan sampah. Yang organik langsung masuk ke bak pickup sementara yang non-organik dimasukkan ke keranjang plastik. "Di TPS petugas tersebut kembali memilah, sampah yang bisa dimanfaatkan dikumpulkan. Sementara yang tidak bisa dimanfaatkan diangkut truk ke TPA," katanya.

Uniknya apa yang dilakukan warga Kesongo tersebut, bukan karena embel-embel isu bahaya sampah atau semacamnya. Mereka hanya ingin lingkungannya bersih dan sekadar membantu tetangga yang membuat kerajinan berbahan plastik. Meskipun pada mulanya belum ada dua jenis keranjang sampah pembeda tersebut.

"Mulanya hanya dilakukan satu orang yang membuat kerajinan itu. Dia membuat kerajinan dari plastik itupun karena semula jengkel, got depan rumahnya banyak tersumbat sampah plastik. Akhirnya warga di sini saling getok tular, saling memberi tahu kalau ada sampah plastik jangan dibuang, tapi diberikan ke perajin plastik itu," katanya.

Begitu desa membentuk Satgas Sampah yang dipimpin langsung babinsa setempat, pengelolaan sampah di Kesongo semakin tertata. Dia merasa mesti melanjutkan apa yang telah dilakukan warganya itu dengan gerakan yang lebih besar.

Total saat ini ada 200 KK di Kesongo. Bahkan, telah memiliki keranjang Iso Bosok dan keranjang Ora Iso Bosok. Supriyadi mengatakan sampai 2021 seluruh warganya yang mencapai 2800 KK bakal memiliki dua keranjang tersebut di depan rumahnya.

"Yang bisa membuat gerakan ini hanya punya sedikit hambatan adalah karena ini gerakan non komersial dan swadaya. Jadi PR kami di pemerintahan desa adalah membuat manfaat lebih besar dari sampah yang dikumpulkan oleh masyarakat," katanya.

Pada kongres sampah kali ini, ibu-ibu di Desa Kesongo membuat sofa dari bungkus kopi saset. Sofa berhias layaknya kursi raja tersebut seluruh bagiannya tertutup anyaman sachet bungkus kopi warna putih. Di bagian atasnya berhias bunga-bunga plastik yang tegak layaknya sandaran di kursi-kursi raja. Sofa hias tersebut diinisiasi Tri Martini, warga Sejambu Kesongo, Tuntang, Kabupaten Semarang. Dia dibantu sekitar 20 ibu-ibu tetangganya yang datang bergantian.

"Sudah 2.300 saset kopi instan untuk menyusun anyaman di sofa ini. Sudah dua bulan terakhir kami susun sehingga jadi seperti itu. Tapi ini masih kurang sedikit. Paling sekitar 500 bungkus lagi untuk menutup bagian belakang bawah sofa," kata Martini kemarin. Sofa yang tengah mereka kebut penyelesaiannya itu, nantinya bakal jadi tempat duduk Gubernur Ganjar Pranowo di acara kongres sampah yang digelar di desa tersebut, 12-13 Oktober.

Meski sebagai pemilik Sekar Samudra, kelompok pembuat kerajinan berbahan sampah plastik, Martini memang membuka masukan dari siapapun termasuk ibu-ibu yang membantu. Karena di lingkaran Sekar Samudra tidak ada imbalan apapun yang diberikan. Bukan hanya ibu-ibu, para remaja putri pun banyak yang terlibat.

Sementara itu, Gubernur Ganjar menjelaskan, kongres sampah ditujukan untuk mencari solusi penanganan masalah sampah. Segala persoalan dari hulu hingga ke hilir akan dikaji orang-orang yang memiliki kompetensi di dalamnya. ”Yang terpenting adalah mengubah perilaku masyarakat. Maka kita harus memulai dari sekarang untuk bisa mengatasi persoalan ini,” ujarnya. (lhr/ida)

(ks/zen/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia