Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Motivasi Belajar Siswa Butuh Sinergisitas Orang Tua

11 Oktober 2019, 09: 15: 09 WIB | editor : Ali Mustofa

Mardhiyantinengsih, S.Pd.; Guru SMPN 3 Lasem Rembang

Mardhiyantinengsih, S.Pd.; Guru SMPN 3 Lasem Rembang (dok pribadi)

Share this      

SINERGISITAS berasal dari kata sinergi yang artinya gabungan atau kerja sama. Menurut Covey yang dikutip melalui jurnal pembangunan pada student jurnal, mengartikan bahwa sinergisitas sebagai kombinasi atau paduan unsur bagian yang dapat menghasilkan keluaran yang lebih baik dan lebih besar dari pada dikerjakan sendiri-sendiri. Dalam dunia pendidikan sinergitas yang dimaksud sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 30 Tahun 2017, pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab bersama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan.

Hal ini diharapkan dapat mendorong semangat siswa dalam meningkatkan motivasi belajar, karena adanya kepedulian wali murid (keluarga) yang terlibat aktif dalam pendidikan akan tercipta kondisi yang aman dan nyaman di sekolah. Keterlibatan orang tua efektif dalam meningkatkan kinerja sistem pendidikan. Keseluruhan proses pendidikan akan berlangsung dari rumah, sekolah, dan masyarakat. Proses itu adalah proses belajar bagi peserta didik yang akan menjadi manusia Indonesia yang tangguh.

Sinergi antara keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan gabungan yang tidak terpisahkan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Keluarga adalah pusat pendidikan pertama yang ditemui oleh setiap anak manusia. Sekolah adalah pusat pendidikan kedua bagi anak bangsa sebagai bekal untuk memakmurkan tanah kelahiran. Hidup bermasyarakat adalah pusat pendidikan ketiga untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh di bangku sekolah maupun keluarga.

Saat ini banyak orang tua tidak memiliki waktu yang cukup untuk membimbing dan mengawasi anak dalam belajar. Orang tua sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, banyak orang tua yang kurang mengawasi pergaulan dan kegiatan anak di luar rumah.  

Kurangnya perhatian orang tua kepada anak juga terlihat dari minimnya komunikasi orang tua dengan pihak sekolah, kepada wali kelas maupun Guru BK, orang tua datang ke sekolah hanya satu tahun sekali saat mengambil rapor saja. Bahkan ada pula orang tua yang tidak datang saat menerima surat panggilan atau undangan dari sekolah dengan alasan bekerja.

Dengan adanya fenomena tersebut, guru Bimbingan dan Konseling (BK) mempunyai tugas untuk membimbing dan memotivasi siswa agar dapat berkembang sesuai dengan arah dan tujuan menempuh pendidikan di sekolah. Peran guru BK dalam layanan kepada siswa secara bertahap meliputi: Pertama, mendata siapa saja yang memiliki motivasi belajar rendah, Kedua, memberikan layanan konseling berupa bimbingan belajar. Ketiga, mengevaluasi hasil dari bimbingan yang telah diberikan, dan memberikan tindak lanjut hingga tuntas.

Dengan usaha-usaha yang dilakukan guru BK, diharapkan orang tua ikut terlibat dalam membimbing dan memotivasi anak untuk lebih bersemangat dalam belajar. Orang tua yang aktif dan peduli, akan berpengaruh terhadap prestasi dan motivasi belajar anak. Sebaliknya orang tua yang tidak peduli, akan mempengaruhi rendahnya prestasi anak. Nah, sinergi antara orang tua, dengan guru BK ternyata sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam menempuh pendidikan di sekolah. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia