Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Grobogan

Disperindag Izinkan Pedagang Jualan Nonkuliner di Hutan Kota

10 Oktober 2019, 08: 22: 37 WIB | editor : Ali Mustofa

DUDUK BERSAMA: Para pedagang di Hutan Kota Jalan Gajah Mada saat mengikuti sosialisasi dari Disperindag kemarin.

DUDUK BERSAMA: Para pedagang di Hutan Kota Jalan Gajah Mada saat mengikuti sosialisasi dari Disperindag kemarin. (INTAN M SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

GROBOGAN, Radar Kudus – Sebanyak 27 pedagang di Hutan Kota Purwodadi yang tepatnya berada di Jalan Gajah Mada mendapatkan sosialisasi di Disperindag Grobogan kemarin. Itu terkait kelonggaran aturan yang kini membolehkan pedagang jualan selain kuliner.

Selama ini beberapa keluhan dilontarkan para pedagang yang berjualan di sana. Mereka kerap kehilangan barang dagangan yang mereka tinggalkan. Tak jarang, banyak pula yang dirusak sehingga beberapa shelter pun terlihat kumuh.

Paving sepanjang jalan tersebut juga sempat rusak. Namun, tahun ini mendapatkan perbaikan yang diajukan DLH Grobogan dari APBD sekitar Rp 200 juta. ”Sebenarnya yang diusulkan lebih dari itu karena mau sekalian untuk pengecatan ulang, pemberian papan nama, pemeliharaan, dan penataan ulang shelter. Namun, baru mendapatkan dana sedikit untuk perataan paving,” ujarnya.

Meski begitu, pihaknya akan mengusulkan di anggaran perubahan tahun depan untuk beberapa item tersebut. Bahkan sekaligus untuk penutup shelter. Sebab, para pedagang mengusulkan agar tertutup untuk keamanan barang dan mengantisipasi tempat dijadikan tindakan asusila.

”Mereka mengeluhkan tempat tersebut kerap dipakai masyarakat tidak bertanggung jawab untuk tindakan asusila. Karena tidak ada pedagang yang berjualan hingga pagi. Jadi setelah pedagang pulang, mereka memanfaatkan tempat tersebut. Maka pedagang meminta dengan penuh, agar tahun depan segera dibuatkan rolling door. Entah melalui APBD-P tahun depan maupun swadaya,” ungkap Kabid Perdagangan Disperindag Grobogan Sri Rahayu.

Tak hanya itu, pedagang juga diperbolehkan berdagang selain kuliner di sana. Mengingat banyak shelter yang sepi. Awalnya mereka merupakan pedagang selain kuliner di sepanjang Jalan Gajah Mada. Kemudian mencoba berjualan kuliner namun tidak betah.

”Sehingga shelter banyak yang tidak terpakai. Ke depan kami perbolehkan mereka berjualan nonkuliner. Kami minta dilakukan pendataan kembali. Jika ada yang mau keluar dari sana, kami memberikan waktu sampai 31 Desember. Selanjutnya mereka akan diambil alih pedagang lain,” katanya.

(ks/int/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia