Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Kondisi Geologis Kalimantan sebagai Calon Ibukota Negara Indonesia

09 Oktober 2019, 10: 16: 29 WIB | editor : Ali Mustofa

Anis Sulistyanti K., S.Pd.; Guru SMP Negeri 6 Rembang

Anis Sulistyanti K., S.Pd.; Guru SMP Negeri 6 Rembang (dok pribadi)

Share this      

NEGARA Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dilihat dari letak geologisnya Indonesia dilalui oleh tiga jalur lempeng bumi di antaranya adalah lempeng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng Indo Australia. Lempeng Eurasia melewati Pulau Sumatra, Kepulauan Nias, Pulau Jawa, Pulau Bali, Pulau Nusa Tenggara melalui laut Banda sampai ke Laut Sulawesi. Lempeng Pasifik dari Negara Filipina masuk ke Pulau Sulawesi. Lempeng Indo Australia dari arah timur melalui Pulau Papua, Kepulauan Maluku bertemu di Pulau Sulawesi.  

Kondisi seperti ini menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tanah yang subur dengan banyaknya gunung berapi yang tersebar di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang rawan akan bencana alam. Baik gempa bumi yang dapat diikuti dengan tsunami maupun gunung meletus. Namun demikian, ada satu pulau di antara wilayah Indonesia yang kemungkinan kecil tidak terdampak bencana alam, yaitu Pulau Kalimantan.

Pulau Kalimantan sering disebut “Borneo” pada masa penjajahan Kolonial Belanda adalah pulau  terbesar ketiga di dunia, dengan luas 743.330 km, letaknya di sebelah utara Pulau Jawa , sebelah barat dari Pulau Sulawesi, sebelah timur Selat Malaka, dan sebelah Selatan dari Negara Filipina. Pulau Kalimantan terbagi menjadi tiga bagian yaitu Negara Indonesia (73%), Negara Malaysia (26%), dan Negara Brunei Darussalam (1%).

Secara Etimologi ada beberapa pendapat tentang arti “Kalimantan“. Menurut C. Hose dan Mac Dougall, "Kalimantan" berasal dari nama-nama enam golongan suku-suku setempat yakni Iban (Dayak Laut), KayanKenyahKlemantan (Dayak Darat), Murut, dan Punan. Dalam karangannya, “Natural Man, a Record from Borneo (1926)”, Hose menjelaskan bahwa Klemantan adalah nama baru yang digunakan oleh bangsa Melayu.

Menurut Slamet Muljana, kata Kalimantan bukan kata Melayu asli tapi kata pinzaman sebagai halnya kata Malaya. Melayu yang berasal dari India (malaya yang berarti gunung). Pendapat yang lain menyebutkan bahwa Kalimantan atau Klemantan berasal dari bahasa Sanskerta, “Kalamanthana” yaitu pulau yang udaranya sangat panas atau membakar (kal[a]: musim, waktu dan manthan[a]: membakar). Jika ditilik dari bahasa Jawa, nama Kalimantan dapat berarti "Sungai Intan".

Di zaman Penjajahan Kolonial Hindia Belanda, Kalimantan dikenal sebagai Borneo (yang diambil dari kesultanan yang Brunei). Bukan berarti nama Kalimantan tidak dikenal. Terbukti  dalam surat-surat Pangeran Tamjidillah dari Kerajaan Banjar pada tahun 1857 kepada pihak Residen Belanda di Banjarmasin. Pangeran menyebutkan pulau Kalimantan, tidak pulau Borneo. Hal ini menunjukkan bahwa di kalangan penduduk, nama Kalimantan lebih dikenal daripada nama Borneo yang dipakai dalam administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Karakteristik Pulau Kalimantan di antaranya adalah: pertama karena banyaknya sungai–sungai besar, seperti Sungai Kapuas, Sungai Mahakam, sungai Barito, Pulau Kalimantan mendapat julukan “Pulau Seribu Sungai”. Kedua. Kalimantan disebut “Pulau Katulistiwa” yang ditandai adanya Monumen Katulistiwa di Kota Pontianak. Ketiga, di Pulau Kalimantan terdapat juga banyak gunung namun tak satupun yang aktif.

Kondisi geologis Pulau Kalimantan yang demikian, menyebabkan Kalimantan adalah satu–satunya pulau di Indonesia yang terbebas dari bencana alam yaitu gempa bumi, tsunami maupun gunung meletus. Hal inilah yang menjadi dasar oleh Presiden Pertama Indonesia Bung Karno merencanakan Pulau Kalimantan dipilih sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia menggantikan kota Jakarta. Di mana rencana Bung Karno tersebut akan direalisasikan oleh Presiden Indonesia yang sekarang yaitu Bapak Joko Widodo dengan periode jabatan 2019 – 2020. Semoga dengan berpindahnya ibukota ke pulau Kalimantan, akan menambah warganya menjadi lebih sejahtera. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia