Selasa, 15 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Ekonomi

Berkat Media Sosial, Suvenir Kopi Tempur Tembus Hongkong

08 Oktober 2019, 15: 39: 09 WIB | editor : Ali Mustofa

TEMBUS PASAR MANCANEGARA: Suvenir berbahan kopi asal Desa Tempur, Kecamatan Keling kini sudah bisa menembus pasar Hongkong.

TEMBUS PASAR MANCANEGARA: Suvenir berbahan kopi asal Desa Tempur, Kecamatan Keling kini sudah bisa menembus pasar Hongkong. (VIAN SHEILA TRIONEXA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

KELING, Radar Kudus – Kreasi suvenir berbahan kopi dari Desa Tempur, Kecamatan Keling kini makin moncer. Tak hanya dipasarkan di Jepara, berbagai suvenir yang diproduksi masyarakat setempat juga telah dipasarkan di berbagai daerah. Terakhir, penjualan suvenir itu bahkan tembus ke Hongkong.

Warga Desa Tempur yang memproduksi suvenir berbahan kopi, Vian Sheila Trionexa mengatakan, dirinya mengkreasikan biji kopi menjadi gelang, kalung, tasbih, dan lainnya. ”Saya pakai biji kopi asli yang sudah di-roasting. Khusus untuk kalung dan tasbih saya pakai biji kopi lanang yang bentuknya bulat sehingga nyaman dikenakan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Perempuan yang tinggal di RT 1/RW 4, Desa Tempur tersebut menceritakan, saat ini penjualannya dilakukan secara online melalui media sosial. Dia juga memasarkan produk melalui beberapa marketplace yang saat ini populer.

Selain itu dia memiliki reseller yang tersebar di berbagai daerah. Mulai beberapa kabupaten di Jawa Tengah (Jepara, Kudus, Pati), Jawa Timur hingga luar negeri Hongkong. ”Kalau di Jepara sendiri ada yang sampai Karimunjawa. Di sana produk dijual pada para wisatawan,” jelasnya.

Sementara untuk penjualan ke Hongkong, dilakukan mulai tahun ini. Yang paling dicari gelang. Namun saat ini banyak pula pesanan tasbih yang datang. ”Ada reseller di sana yang masih kerabat saya, dulu pernah mencoba memasarkan produk kopi ke Hongkong namun kurang diminati. Tapi kalau suvenir berbahan kopi justru diminati,” terangnya.

Sheila menyatakan, saat ini jumlah pesanan yang datang terus mengalami kenaikan. Dalam satu bulan minimal dia mengerjakan pesanan 300 pcs. ”Pengerjaan di rumah, dibantu beberapa teman untuk produksinya,” jelasnya.

Dengan kreasi suvenir kopi ini, dia mengaku bisa meningkatkan nilai jual kopi. ”Kalau saya jual bubuk kopi saja tidak ada perkembangan. Jadi saya gali ide buat biji kopi jadi suvenir dan bersyukur dapat respon positif dari pasar,” imbuhnya. 

(ks/emy/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia