Selasa, 15 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Features
Agung Setiawan, Perajin Miniatur dari Bambu

Bahan dari Pegunungan Kendeng Diperlakukan Istimewa

08 Oktober 2019, 13: 20: 36 WIB | editor : Ali Mustofa

BERNILAI TINGGI: Agung Setiawan menunjukkan hasil karyanya dari bambu kemarin.

BERNILAI TINGGI: Agung Setiawan menunjukkan hasil karyanya dari bambu kemarin. (SUBEKAN/RADAR KUDUS)

Share this      

Agus Setiawan belasan tahun menggeluti seni bambu. Karyanya dari bambu tak terhitung jumlahnya. Beberapa karya yang ia terkesan ketika membuat miniatur Gereja Katedral dan gedung Bappeda Blora.

SUBEKAN, Radar Kudus, Blora

SUDAH ratusan karya dari bahan bambu dibuat Agung Setiawan. Mulai dari miniatur bangunan, kapal, gedung, tempat ibadah, gereja, dan sebagainya.

Untuk membuat karya itu, dia butuh kejelian dan kesabaran. Satu miniatur membutuhkan waktu sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Tinggal bentuk, ukuran, dan kerumitannya. Selain itu tergantung pemesanan.

Apapun bentuknya, bisa dibuat dengan mudah. Sebab laki-laki asli Bumi Samin itu sudah belasan tahun berkecimpung mendalami kerajinan tangan bambu ini. Berkat keahliannya itu, bambu bisa disulap menjadi karya artistik dan bernilai ekonomi tinggi.

Peralatan untuk membuat miniatur ini juga sederhana. Cukup pakai pisau, cater, gunting, lem, bambu, bahan kimia (anti rayap), dan pernak-pernik lainnya. Jenis bambu yang digunakan bambu apus atau bambu ori. “Biasanya saya pilih dulu kualitas bambunya. Kalau bambu di Pegunungan Kendeng memang tidak tertandingi. Kualitasnya super. Memang berbeda dengan bambu di tempat lain. Postur dan seratnya berbeda. Perlakuannya juga beda. Lebih istimewa,” jelas anak terakhir dari empat bersaudara itu saat menghadiri pameran dalam acara Festival Bambu belum lama ini.

Satu miniatur dia bandrol dengan harga ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Tinggal besar kecil ukuran dan bentuknya. Begitu juga dengan kerumitan. Serta biaya yang dikeluarkan. “Kalau kapal kecil-kecil harganya di bawah Rp 500 ribu. Kalau bangunan bisa sampai puluhan juta,” jelas laki-laki kelahiran 1982 ini.

Ayah dua anak ini mengaku, dia suka dengan bambu karena mudah didapat. Selain itu harganya juga ekonomis. Meraciknya juga mudah. Serta memiliki kelebihan tersendiri. Bisa dibuat sesuka hati. “Miniatur kantor Bappeda Blora salah satu karya saya,” jelasnya.

Menurutnya, membuat bangunan itu tergantung detailnya. Sehingga prosesnya tidak bisa cepat. Bisa sampai satu bulan. Sebab butuh menghitung ukuran dan kedetailannya. “Semakin rumit semakin mahal,” tambahnya.

Menurutnya, selama ini penjualan miniatur yang dibuatnya masih pada kalangan tertentu. Sehingga kalau ada yang pesen, baru dibuat. “Rata-rata saya jual ke Jakarta. Kalau di Blora belum menarik. Mungkin karena harganya memang lumayan mahal,” terang alumni SMAN 1 Blora ini.

Tak jarang, miniatur buatannya ini dibuat untuk sufenir teman. “Teman kirim gambar dan contoh terus kita buat. Saya pakai salah satu jenis bambu yang menimbulkan warna. Sehingga tidak hilang. Sehingga benar-benar natural. Anti bubuk dan anti air. Asal tidak kena air. Sehingga bisa bertahan bertahun tahun. Miniatur karya saya, juga dilengkapi lampu. Sehingga pada malam hari bisa menyala,” imbuhnya.

Menurutnya, perajin bambu bukan menjual bambunya. Namun menjual seninya. Sehingga wajar jika harga yang ditawarkan lumayan mahal. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia