Selasa, 15 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Ekonomi

PT Nojorono Beri Pelatihan Ubah Sampah jadi Rezeki

08 Oktober 2019, 11: 57: 54 WIB | editor : Ali Mustofa

CENDERAMATA: Aktivis lingkungan hidup dan Komposter Heru Santoso, memberikan cenderamata buku pengolahan limbah dan pupuk fermentasi dari sampah kepada Presiden Director Stefanus J.J Batihalim (tengah) dan disaksikan oleh Sekretaris Dinas PKPLH.

CENDERAMATA: Aktivis lingkungan hidup dan Komposter Heru Santoso, memberikan cenderamata buku pengolahan limbah dan pupuk fermentasi dari sampah kepada Presiden Director Stefanus J.J Batihalim (tengah) dan disaksikan oleh Sekretaris Dinas PKPLH. (SAMODRA DAHLIYA/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS, Radar Kudus - Sampah menjadi persoalan serius sekarang ini. Bukan saja karena volumenya yang makin meningkat, namun juga karena kesadaran masyarakat dalam mengatasi sampah yang baik, juga masih rendah. Prihatin akan kondisi tersebut, PT Nojorono Tobacco International (PT NTI) berinisiasi dalam keselarasan alam dengan menyelenggarakan workshop pengelolaan sampah bertema "Penguatan Pengelolaan Sampah melalui Bank Sampah dan Kampung Iklim" di Pusat Belajar Guru, Senin (7/10), kemarin. Pelatihan dihadiri oleh 86 peserta dari perwakilan 35 Bank Sampah di 11 kecamatan.

Dalam pidato sambutannya, Presiden Direktur PT NTI, Stevanus J.J Batihalim mengingatkan semua pihak, agar bisa mengelola sampah dengan baik. "Karena sampah itu bisa juga bermanfaat untuk kita. Apa yang bisa diolah, mari kita olah. Jadikan sumber rezeki bagi kita. Manfaatnya juga besar bagi lingkungan,” katanya.

Apa yang dilakukan pihaknya ini, sebagai upaya untuk memberikan ruang diskusi, koordinasi, dan pemecahan masalah sampah di Kudus. Pihaknya ingin supaya seluruh elemen yang terkait, bisa terintegrasi dengan baik. "Supaya di Kudus ini juga bebas sampah. Kita mulai dari kawasan kecil kita. Kalau semua bekerja sama, pasti bisa," imbuhnya.

ANTUSIAS: Sebanyak 86 Peserta workshop pengelolaan sampah dari perwakilan 11 bank sampah antusias mengikuti pelatihan pengelolaan sampah.

ANTUSIAS: Sebanyak 86 Peserta workshop pengelolaan sampah dari perwakilan 11 bank sampah antusias mengikuti pelatihan pengelolaan sampah. (SAMODRA DAHLIYA/RADAR KUDUS)

Untuk mencapai tujuan tersebut, Departemen CSR PT Nojorono Tobacco International bekerjasama dengan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPKPLH), bersama Aktivis Lingkungan Nasional Rajane Resik, Heru Santoso sebagai pemateri workshop. ”Acara ini merupakan Kick Off sebuah gerakan CSR PT Nojorono Tobacco International yang dilakukan secara masif di periode selanjutnya pada tahun 2020 ke depan,” tegas Corporate Brand and Marketing Communications PT Nojorono Tobacco International Amelia Santoso.

Sementara itu, Sekretaris Dinas PKPLH Kudus Didik Tri Prasetya  menjelaskan beberapa upaya yang dilakukan oleh dinas dalam mengurangi sampah di wilayahnya. Pihaknya sampai harus melakukan sidak atau operasi secara sembunyi-sembunyi, untuk mengetahui warga mana saja yang suka membuang sampah ke sungai. "Contohnya saja saat warga dengan santainya membuang sampah di sungai. Seolah sungai itu bak sampah yang terbuka luas," tuturnya prihatin.

Didik mengatakan, warga rupanya memiliki jadwal tertentu saat membuang sampah di sungai. ”Pernah kita nyanggong dari jam 1 dini hari sampai pagi, saat dapat laporan. Tapi ternyata tidak menjumpai. Rupanya mungkin sudah tahu kalau disanggong, mereka buang sampahnya habis Maghrib," tuturnya

Terkait dengan program Pemkab Kudus untuk mengurangi konsumsi sampah plastik, juga sudah berjalan. Rumah makan ataupun pasar modern, disebutnya semakin mengurangi sampah plastik. Harapannya sampah bisa berkurang 30 persen, dan penanganan menjadi 70 persen.

Didik menjelaskan, membangun komunitas-komunitas yang concern terhadap pengelolaan sampah adalah cara yang dilakukan pihaknya. Itu untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Termasuk membuat bank-bank sampah di lingkungan terkecil di masyarakat.

"Sampai saat ini ada kurang lebih 42 bank sampah di Kudus. Memang belum merata di semua kecamatan, tapi sudah cukup bagus. Ada yang sudah berhasil juga secara profesional mengelola sampahnya. Karena warga sadar jika sampah bisa jadi rejeki. Jangan sampai jadi musibah," tegasnya.

Sementara aktivis lingkungan Heru Santoso mengatakan, dari bahan-bahan sederhana yang ada, maka bisa dibuat hasil daur ulang sampah yang luar biasa. "Sampah daun, sayur-sayuran yang ada di rumah kita, bisa dibuat kompos yang menghasilkan produk sampah cair. Nah, hasilnya bisa untuk mengatasi sampah yang lebih besar. Dan ibu-ibu juga bisa melakukannya di rumah. Semua bisa. Asal kita mau. Sehingga untuk mewujudkan Kudus bebas sampah 2030 nanti, akan mudah dilakukan," jelasnya. (lia)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia