Selasa, 15 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Features
M Arief Zuliyan, Peraih Beasiswa S2 dan S3 LN

Dari Catatan Kecil di Dalam Dompet, Bisa Kuliah di Tiongkok

07 Oktober 2019, 09: 16: 39 WIB | editor : Ali Mustofa

PEMUDA GIGIH: Muhammad Arief Zuliyan foto di salah satu sudut kota di Tiongkok.

PEMUDA GIGIH: Muhammad Arief Zuliyan foto di salah satu sudut kota di Tiongkok. (DOK. RPIBADI)

Share this      

Muhammad Arief Zuliyan berhasil memperoleh beasiswa S2 dan S3 jurusan Diplomat dari Pemerintah Tiongkok. Itu berkat kegigihannya dan motivasi dari secarik kertas yang ditulis dan disimpan di dompetnya.

FAQIH MANSYUR HIDAYAT, Jepara, Radar Kudus

MENEMPUH pendidikan di luar negeri adalah impian sebagian besar orang-orang Indonesia. Selain bisa menyerap ilmu di perguruan tinggi jempolan, para mahasiswa juga bisa mendalami khazanah kehidupan masyarakat setempat yang tentu berbeda dengan tanah kelahiran. Bonus lain, bisa jalan-jalan ke berbagai tempat yang menjadi dambaan banyak orang.

Muhammad Arief Zuliyan, pemuda kelahiran Jepara, 30 Juli 1990 ini, berhasil mendapatkan beasiswa S2 dan S3 penuh dari pemerintah Tiongkok sejak empat tahun silam. Bukan suatu hal mudah baginya mendapatkan kesempatan luar biasa dalam perjalanan hidupnya tersebut.

Cak Muh -sapaan akrabnya- menceritakan, perjalanan itu dimulai dari ia menuliskan lima prioritas yang harus dicapai dalam tiga tahun. Cita-cita itu ditulisnya dalam secarik kertas yang ia simpan dalam dompet sewaktu kursus bahasa Inggris di Pare setelah lulus dari SMAN 1 Jepara. Dalam kertas itu, ia menuliskan sebuah kalimat penyemangat ”Student Exchange must be Mine.” Artinya, pertukaran pelajar adalah milikku. Kalimat ini selalu ia baca setiap kali membuka dompet dan menjadi pelecut semangat untuk mewujudkan.

Pemuda yang beralamat di RT 2/RW 1, Dukuh Sendang Sari, Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, ini menuturkan, kesempatan itu muncul saat ia memasuki tahun ketiga kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Saat itu, ia melihat pamflet pertukaran pelajar ke Tiongkok. Ia berhasil meraih kesempatan itu. Selama setahun (2014-2015) ia menjalaninya dan beruntung mendapatkan informasi dari salah satu temannya yang berasal dari Amerika Serikat, bahwa ada beasiswa penuh dari Pemerintah Tiongkok untuk mahasiswa pertukaran pelajar untuk jenjang S2 dan S3.

Ada tiga alasan utama mengapa Cak Muh memilih Negeri Tirai Bambu itu sebagai salah satu labuhan perjalanan hidupnya. Di antaranya, karena beasiswa dari Pemerintah Tiongkok menjadi tawaran pertama yang menghampirinya. Selain itu, ia ingin mempelajari konsep negara itu menggeser posisi Eropa yang dulunya menjadi pusat ekonomi dunia, namun kini berporos di Asia. Satu lagi, ia ingin mengikuti hadis Nabi Muhammad SAW ”utlubul Ilma walau bisshin”. Artinya, tuntutlah ilmu walaupun sampai ke Negeri Tiongkok.

”Saya ingin membuktikan apa yang dimaksud Nabi Muhammad SAW. Mengapa beliau menganjurkan umatnya belajar ke Negeri Tiongkok yang notabene negeri komunis,” terangnya.

Setelah wisuda dari Jurusan Hubungan Internsional UMY pada 20 Februari 2016 lalu, Cak Muh kembali tiba di Tiongkok untuk menjalani S2 Jurusan Diplomat di Central China Normal University. Untuk mendapatkan beasiswa tersebut, ia harus bersaing dengan 149 mahasiswa Indonesia lain. Hanya sekitar 35 orang yang berhasil meraih kesempatan itu. Salah satunya Cak Muh.

Di awal-awal perjalanannya di negeri dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia itu, dia mengaku sangat kesulitan dalam beradaptasi. Sebab, tak sedikitpun bahasa Mandarin yang ia mengerti. Ia hanya bisa berbahasa Inggris. Sementara, masyarakat setempat jarang yang bisa bahasa Inggris. Beruntung, beasiswa tersebut juga memberi fasilitas les gratis bahasa Mandarin. Kesulitan lain di awal hidup di negeri orang, memilah makanan yang benar-benar halal. Sebab, kurangnya informasi letak penjual makanan halal.

”Pernah pas mau beli telur ceplok, saking nggak bisanya saya berbahasa Mandarin, saya menerangkan dengan menggenggam tangan dan mengibas-ngibaskan kedua tangan persis seperti ayam saat mengibas-ngibaskan sayapnya. Terus penjualnya tertawa terpingkal-pingkal. Sampai sekarang penjual itu masih mengingat saya,” kenangnya.

Kini, Cak Muh tengah berjuang menyelesaikan S3 di kampus yang sama. Ia tak pernah percaya bahwa sebagai anak desa bisa melanglang buana di negara dengan ekonomi terkuat di dunia itu. Sampai kini, yang menjadi salah satu prinsip hidupnya yakni ”bukalah satu pintu, maka pintu lain akan terbuka.” Prinsip itu ia dapatkan dalam obrolan ringan bersama teman seperjuangannya sewaktu pertukaran pelajar.

Selain mendalami ilmu akademisnya, Cak Muh Juga masih terus mempelajari khazanah kehidupan masyarakat Tionghoa. Seperti tentang etos dan semangat kerja yang tinggi. Setelah lulus nanti, ia tak pernah berpikir apapun selain mengabdikan diri untuk tanah kelahiran. Selain itu, ia juga tidak ingin meninggalkan fitrahnya sebagai anak desa. Sebab, dari desa lah Cak Muh memandang Tiongkok sebagai salah satu singgahan perjalanan hidup, yang kini sedang ia jalani. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia