Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Ngopi dari Temanggung sampai Pati

07 Oktober 2019, 08: 56: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

DULU banyak orang bertanya. Siapakah yang bisa mengalahkan Pepsi dan Coca-Cola. Tak ada yang bisa menjawab. Itu saking besarnya dua perusahaan minuman ringan tersebut. Sekarang orang gampang mengatakan. Warung kopi.

Betapa banyaknya warung kopi sekarang. Tak ada lembaga survei yang bisa mendata. Termasuk BPS sekalipun. Mulai yang di pinggir jalan, warungan, rumahan, kafe, sampai di hotel-hotel berbintang. Setiap hari terus bermunculan. Seperti jamur di musim hujan. Penggemarnya bukan hanya laki-laki. Perempuan juga. Mulai anak-anak sampai dewasa.

Zaman saya kecil, kopi masih menjadi minuman kalangan ”tertentu”. Golongan orang-orang miskin di desa-desa. Dan orang-orang kaya. Terutama orang-orang tua. Saya menjadi ikut-ikutan, karena bapak saya minum kopi. Bukan kopi murni seperti sekarang. Tetapi kopi campur jagung atau beras. Ada juga yang dikasih kelapa. Bupati Pati Haryanto menyebut cikalan. Kalau diseduh banyak lethek-nya.

Sekarang kopi dikonsumsi semua kalangan. Jumat lalu saya melihat sepasang muda-mudi yang masih mengenakan seragam sekolah. Mereka bergandeng tangan. Masuk ke sebuah kafe di Temanggung. Pesanannya juga kopi. Saya tahu karena duduk di sebelahnya.

Mantan wartawan Jawa Pos itu, menunjukkan kecerdasannya. Sepekan lalu, Al Khadziq meluncurkan program agar masyarakatnya membiasakan minum kopi. Namanya Jum’at Ngopi. Wartawan Jawa Pos Radar Semarang di Temanggung Tabah Riyadi meresponnya. Dia ajak bupati ngopi. Tidak di kantor bupati. Juga tidak di kantor Radar Kedu (Radar Semarang Biro Magelang) di Jalan Pahlawan 135.

Bupati ditarik ke sebuah kafe tidak jauh dari Alun-alun Temanggung. Namanya Kafe Srinthil (Srinthil sebenarnya jenis tembakau). Ternyata mau. Beliau didampingi Kabag Humas Witarso Saptono, Kabag Umum Supriyanto, dan Sekdin Kominfo Sumarlimah. Saya datang bersama seluruh manajer Radar Semarang. Pak Bupati minum kopi Arabika saring. Saya memilih tubruk.

Sudah lama Temanggung menghasilkan kopi. Bahkan telah dikirim ke beberapa daerah. Sampai luar negeri juga. Produksinya sekitar 1.000 ton. Kualitasnya sangat baik. Apalagi jenis Arabika. Namun tidak begitu terkenal. Popularistasnya kalah dengan tembakau. Orang masih menyebut Temanggung Kota Tembakau.

Yang Pak Bupati menjadi sedih, sekarang pamor tembakau menurun drastis. Apalagi kelak kalau cukai tembakau dinaikkan dan harga rokok melambung. Orang-orang desa yang sebelum ada aliran listrik sudah membeli kulkas bisa jatuh miskin lagi. ”Harus ada solusi,” kata Al Khadziq serius. Pilihannya jatuh pada kopi.

Bukan hanya bupati Temanggung yang jatuh cinta pada kopi. Bupati Pati Haryanto juga demikian. Ahad, 29 September saya diajak mengobarkan semangat minum kopi. Dalam rangkaian Festival Kopi Pati. Acara itu digelar Disperindag bersama Jawa Pos Radar Kudus yang juga saya pimpin. ”Kopi Pati Mantab,” pekik Haryanto di atas panggung. Pekikan yang diikuti seluruh undangan itu, juga diulangi setiap meninjau stan pameran. Berkali-kali. Divideokan juga.

Pati juga termasuk penghasil kopi yang baik. Ada perkebunan beserta pabriknya yang terkenal. Yaitu Jollong. Kemudian pabrik itu surut. Kopi Pati ikut tenggelam. Kini bangkit lagi. Malah sudah ada 200-an merek kopi yang diproduksi oleh para petani dan pengusaha. ”Sayang tidak kunjung terkenal,” kata Haryanto.

Saya yang duduk di samping kiri Pak Bupati di deretan kursi VIP ikut berpikir. Saya jelalatkan pandangan mata saya ke stan-stan pameran. Pak Bupati benar. Merek kopi Pati sangat banyak dan beragam. Di satu stan saja ada beberapa merek. ”Dikerucutkan saja, Pak,” saran saya. Pak Bupati tertarik.

Saya perlihatkan contoh beberapa bungkus kopi. Mereknya berbeda-beda. Tidak ada yang menunjuk secara khusus kopi Pati. Lantas saya sarankan agar semua merek menggunakan nama Kopi Pati di kemasan paling atas. Baru diikuti merek dagang. Misalnya, Kopi Pati Jollong. Pak Bupati setuju. Saat itu juga diinstruksikan. ”Nanti diikuti surat edaran,” tegasnya.

Upaya para bupati itu, bukan tidak mungkin memuluskan jalan kopi menggantikan tembakau. Mungkin mula-mula dari produksi. Kelak bisa juga dari segi konsumsi. Masalah beratnya, biasanya kopi dan rokok itu berdampingan. Orang ngopi sambil merokok. Tapi pasti ada jalan. Sekarang sudah terbukti kopi mengalahkan raksasa minuman jenis cola. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia