Selasa, 15 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Features
Moenzayana, Perancang Busana Pengantin Daerah

Sempat Tak Direspon, Tetap Gigih hingga Raih Prestasi

05 Oktober 2019, 13: 18: 10 WIB | editor : Ali Mustofa

KHAS DAERAH: Moenzayana (kanan) bersama model pengantin menunjukkan trofi yang berhasil didapat di TMII.

KHAS DAERAH: Moenzayana (kanan) bersama model pengantin menunjukkan trofi yang berhasil didapat di TMII. (DOK. PRIBADI)

Share this      

Keinginan Moenzayana untuk menghadirkan karya berupa rias pengantin khas Jepara sedikit demi sedikit terwujud. Baru-baru ini, dia bahkan mendapat apresiasi saat menampilkan rias pengantin Jungpara, khas Jepara di lomba rancang busana pengantin khas daerah di TMII.

 FEMI NOVIYANTI, Jepara, Radar Kudus

 USAHA Moenzayana untuk menghadirkan rias pengantin khas Jepara telah dimulai sejak 2016 lalu. Saat itu, tak banyak respon positif yang didapatkannya. Karyanya juga tak mendapat masukan atau saran sebagaimana yang diharapkan.

Namun, perempuan yang juga ketua DPC Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Jepara ini tak menyerah. Dia tetap berupaya memopulerkan karyanya. Gayung bersambut. Setelah sekian tahun berupaya memopulerkan rias pengantin khas Jepara, tahun ini dia berksempatan menampilkan di depan masyarakat luas.

Perempuan yang beralamat di Jalan Amarta III, RT 3/RW 5, Desa Wonosari, Kecamatan Tahunan, Jepara, tersebut menceritakan, beberapa waktu lalu dia menjadi perwakilan Kabupaten Jepara dalam lomba rancang busana pengantin khas daerah yang digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Di sana dia menampilkan rias pengantin Jungpara, yang merupakan busana dan riasan khas pesisiran yang merupakan hasil kreasinya.

Dalam lomba itu, dia bersaing dengan perwakilan dari seluruh Jawa Tengah. Dia pun berhasil meraih juara harapan I. ”Bersyukur bisa meraih prestasi ini,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Mengenai karyanya ini, Moenzayana menjelaskan, dia menampilkan sepasang pengantin yang mengenakan busana berwarna merah pada bagian atas (kebaya dan beskap). Busana itu, dihiasi dengan ukir-ukiran berwarna kuning keemasan. Pada bagian bawah ditampilkan kain batik berwarna dominasi kuning yang dipercantik dengan motif ukir-ukiran Jepara.

Perempuan yang memulai usaha rias pengantin sejak 1988 itu melanjutkan, hias pengantin Jungpara baik busana maupun riasannya merupakan perpaduan kondisi geografis serta perjalanan sejarah dan peradaban budaya di Jepara sebagai daerah pesisir.

Moenzayana menjelaskan, sesuai dengan kekuatan budaya Jepara, ragam hias pengantin Jungpara ini, juga memiliki ciri khas ornamen seni ukir motif Jepara yang dituangkan dalam batik motif Jepara. Selain itu, berbagai pernak-pernik lain yang melengkapi juga sarat akan makna. Seperti mahkota, aksesori bros hingga ronce melai, selop, keris, dan lainnya. ”Semuanya memiliki makna,” jelasnya.

Dia menuturkan, dalam ragam hias pengantin Jepara pesisiran, laut juga menjadi salah satu media untuk mengekspresikan harapan-harapan yang ingin diraih oleh pengantin. ”Laut merupakan simbolisasi keikhlasan, ketidakputusasaan, kesabaran, konsisten, kesetiaan, dan  kemakmuran,” terangnya.

Mengenai busana pengantin Jepara sendiri, dia sudah merumuskan desain dan filosofi dua busana. Yakni kanigaran dan peisisiran sejak 2016 lalu. Pada 2017, sudah ditampilkan pula di depan bupati Jepara dan jajaran dinas, salah satunya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jepara. Namun, setelahnya tidak ada tindaklanjut.

Untuk lomba yang diikutinya, dia mengubah busana pengantin kreasi atau modern yang dulu dibuatnya menjadi tampilan pakemnya. ”Kami buat secara khusus setiap bagiannya di mana masing-masing memiliki makna,” imbuhnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia