Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Cahya Setya, Penemu Pakan Alternatif Hewan

Sulap Kotoran Ayam Jadi Pakan Ternak

02 Oktober 2019, 14: 57: 30 WIB | editor : Ali Mustofa

INOVATIF: Cahya Setya Utama saat berada di kandang sapi milik warga.   

INOVATIF: Cahya Setya Utama saat berada di kandang sapi milik warga.   (DOK PRIBADI)

Share this      

Cahya Setya Utama menemukan pakan ternak alternatif berbahan kotoran ayam. Penemuan ini dilatarbelakangi kegelisahannya melihat peternak kesulitan mencari pakan saat musim kemarau. Kandungan pakan ini mengandung nutrisi yang tinggi dan aman dikonsumsi hewan ternak.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus, Radar Kudus

MESKI bertepatan dengan hari libur pada Sabtu (28/9) lalu, Cahya Setya Utama sibuk mempersiapkan bahan pakan untuk makanan ternak warga Dukuh Pelang, Desa Margorejo, Dawe, Kudus. Dosen Fakultas Perternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini, menciptakan pakan ternak dari bahan alternatif. Ia memanfaatkan kotoran ayam sebagai bahan dasarnya.

”Kalau libur (Sabtu dan Minggu, Red) saya mengorbankan waktu saya untuk mengabdi kepada masyarakat. Juga sosialisasi ini saya buka secara cuma-cuma,” ungkap pria berambut jabrik ini.

Cahya menjelaskan, munculnya ide pembuatan pakan ternak ini, dilatarbelakangi melihat kegelisahan peternak saat mengalami kelangkaan pakan saat musim kemarau tiba. Para peternak sering mengeluhkan keadaan tersebut. Sebab, mereka kesulitan mencari rumput basah. Kemudian Cahya mencari jalan alternatif dengan memanfaatkan limbah atau litter (kotoran ayam).

Dengan begitu, bahan untuk pakan ini mudah didapat. Juga murah produksinya dan bernilai ekonomis untuk warga. Apalagi, pengolahan kotoran ayam untuk pakan itu, dipercayai Cahya punya nilai kandungan nutrisi tinggi.

Saat sosialisasi, warga yang hadir diberikan materi dan praktik pembuatan pakan. Bahan yang perlu disiapkan. Di antaranya, kotoran ayam boiler yang sudah dikeringkan sekitar 1 ton, urea enam kilogram, tetes 15 liter, mineral enam kilogram, garam tiga kilogram, dan starter enam kilogram. Semua bahan itu dicampur dan diaduk menjadi satu. Setelah tercampur, pakan tersebut ditutup dengan sak selama tiga pekan. Tujuannya, untuk melangsungkan proses fermentasi.

Pria kelahiran Kudus, 26 Juni 1982 ini mengaku, telah menguji coba temuannya ini di beberapa kota di eks Karesidenan Pati. Seperti di Kudus dan Rembang. Bahkan, ia bakal mendapatkan tawaran untuk menyosialisasikan temuannya di Pati. ”Setelah diujicobakan di Rembang, hasilnya tidak ada masalah bagi ternak,” jelasnya.

Dari hasil uji labolatorium itu, ia menyebutkan kandungan protein pada litter yang terfermentasi mencapai 17 persen. Juga tidak ada kandungan bakteri panthogen dan meat bone meal (MBM). Selama empat bulan, para peternak yang mencoba pakan alternatif ini. Hasilnya ternak tidak ada efek samping.

Niat tulus Cahya dibuktikan melalui tindakan untuk tidak mematenkan temuannya ini. Tujuannya, agar masyarakat luas bisa memanfaatkan inovasi pengganti pakan ternak yang terbuat dari kotoran ayam. ”Untuk inovasi ke depan, saya akan kompilasi menjadi komplit fit berstandarisasi dengan bahan baku kotoran berfermentasi,” jelasnya.

Mulyo Irawan, salah satu peternak dari Desa Margorejo sangat mengapresiasi inovasi ini. Selain mudah didapatkan, pakan ini bernilai ekonomis. Dia menyebutkan, pakan alternatif ini sangat membantu di tengah musim kemarau ini. Sebab, ia sering kesulitan mendapatkan rumput basah.

Dia menyebutkan manfaat dari penggunaan pakan ini. Di antaranya bisa menghemat tenaga untuk mencari makan ternak. Juga hemat biaya untuk membeli pakan ternak. ”Alhamdulillah domba peliharaan saya sangat lahap makannya. Tidak ditemukan dampak dari pemakaian pakan dari litter ini,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Pertanian, dan Pangan Kabupaten Kudus Catur Sulistiyanto menyatakan, temuan ini sangat signifikan hasilnya. Sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Ke depan, pemkab akan terus melakukan pendampingan kepada para peternak. Tujuannya, apa yang dibutuhkan mereka bisa terpenuhi.

Pakan dari bahan dasar kotoran ayam ini, juga dirasa akan membantu mengurangi pencemaran di lingkungan sekitar yang selama ini dikeluhkan masyarakat. ”Inovasi ini akan mengurangi dampak pencemaran lingkungan yang disebabkan kotoran ayam,” harapnya.

Selain menemukan pakan dari bahan dasar kotoran ayam ini, ada beberapa eksperimen yang dihasilkan Cahya dan berguna bagi masyarakat. Salah satunya, limbah kubis pro unggas, dedak gandum untuk prebiotik, dan jamu unggas. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia