Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Desy Nur Kholimah, Wakili Rembang Juara Kepak

Kegiatan Padat, Terpaksa Empat Hari hanya Mandi Dua Kali

01 Oktober 2019, 10: 35: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

BERSAMA TIM: Desy Nur Kholimah (dasi kuning) foto bersama kelompoknya saat acara Kepak baru-baru ini.

BERSAMA TIM: Desy Nur Kholimah (dasi kuning) foto bersama kelompoknya saat acara Kepak baru-baru ini. (DOK PRIBADI)

Share this      

Desy Nur Kholimah terpilih mengikuti Kemah Penguatan Karakter (Kepak) bergabung dengan tim Rembang. Ini merupakan kemah perdananya. Namun, dia dan timnya berhasil meraih juara I dalam ajang itu.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Rembang, Radar Kudus

ELEMEN-elemen keorganisasian pelajar Rembang seakan membaur jadi satu. Dari kelompok Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), Praja Muda Karana (Pramuka), Palang Merah Remaja (PMR), hingga pada pembina. Tim ini merupakan wakil Rembang dalam Kemah Penguatan Karakter (Kepak) se-Jawa Tengah 2019 lalu.

Tim itu pun berhasil menyabet juara I dalam ajang ekspo kesiswaan dan gugus depan (gudep). Alhasil, tropi berwarna kuning itu pun berada di tangan. Ada logo Kepak berbentuk seperti perisai. Di tengahnya bergambar seperti hutan cemara. Lalu ada tulisan berhuruf kapital: Jiara I Expo Kesiswaan dan Gudep. Kepak SMA Provinsi Jawa Tengah 2019.

Tampak mengikilap berbungkus plastik bening dan berpita oranye. Kerja keras tim itu, tak luput dari peran Desy Nur Kholimah. ”Kami satu tim ada delapan anak dan dua pembina,” ujarnya.

Dia menuturkan, satu kabupaten diambil 10 orang. Terdiri dari dua unsur PMR, dua unsur paskibra, dua unsur pramuka, dua unsur pradana, dan dua pembina dari sekolah yang sama dengan pradana. ”Masing-masing unsur diambil satu pasang atau putra dan putri,” imbuhnya.

Siswi SMAN 1 Kragan yang hobi baca novel itu, mengaku mendapatkan kabar dadakan untuk ikut lomba ini. Utusan langsung dari kepala sekolah. Mungkin dia tak punya pilihan lain. Selain sendiko dawuh.

”Kebetulan juga kemarin saya yang mewakili Rembang dikonverensi PMR Jateng 2019 pada Agustus. Makannya saya langsung dipilih lagi untuk mewakili PMR di Kepak Jateng ini,” jelas siswi kelahiran 9 Januari 2003 ini.

Dalam lomba itu, memang ada berbagai kegiatan. Seperti ekspo dan kirab budaya. Ia dan timnya pun tak ketinggalan menampilakn ciri khas Kota Garam. Yakni batik Lasem dan makanan khas. Tentunya mereka juga harus bersaing bersama 34 kabupaten atau kota lain se-Jawa Tengah yang mengikuti ajang itu. ”Kota lain juga sama-sama hebat,” imbuhnya.

Sementara, saat kirab budaya, mereka berjalan beriringan dengan masing-masing pasangan. Mengenakan busana adat.

”Kalau pertunjukannya itu dari masing-masing unsur. Unsur itu seperti perwakilan gitu loh. Jadi, seperti perwakilan PMR, Paskibra, Pramuka, Pradana, dan pembina. Itu dari perwakilan masing-masing organisasi gitu,” jelasnya.

Kriteria penilaian dilihat dari keaktifan dan kreativitas masing-masing kontingen. Selain kegiatan tadi, ada juga kegiatan jelajah. Yang menguji pengetahuan.

Saking banyaknya kegiatan di Lomba itu, Desy tampaknya harus rela menahan bau badannya sendiri. Bagaimana tidak. Selama empat hari tiga malam berkemah di Pusat Kepramukaan Candra Birawa itu, dia hanya mandi dua kali.

”Kalau kemah memang baru kali ini. Itu pengalaman terunik dan terjorok yang pernah saya alami,” kata perempuan yang juga hobi olahraga itu sambil tertawa. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia