Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Mengaktifkan Belajar Matematika dengan Bermain Peran

24 September 2019, 15: 03: 52 WIB | editor : Ali Mustofa

Nudju Rahayu, S.Pd.; Guru SDN 2 Sindurejo

Nudju Rahayu, S.Pd.; Guru SDN 2 Sindurejo (dok pribadi)

Share this      

PELAJARAN matematika sampai saat ini masih merupakan pelajaran yang paling tidak disukai dan menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian peserta didik. Matematika adalah mata pelajaran yang dianggap sulit bagi sebagian orang, hal tersebut tak lepas dari bidang kajian matematika yang dominan tentang rumus dan angka-angka sehingga bagi sebagian orang menganggap pembelajaran metematika kelihatan rumit dan butuh teknik khusus dalam mempelajarinya. Pembelajaran matematika memang bersifat abstrak sehingga butuh perantara atau media khusus dalam mengajarkan matematika. Masih banyak kita temui peserta didik yang takut dan merasa bosan saat mengikuti pembelajaran matematika didalam kelas, dan mengakibatkan nilai yang diperoleh pun tidak sesuai dengan harapan. Banyak alasan yang membuat mengapa peserta didik tidak menyukai pelajaran matematika, diantaranya mungkin gurunya kurang asyik, soal yang sulit dipahami, dan peserta didik yang gampang menyerah.

Bagaimana matematika menjadi menyenangkan bagi peserta didik kita? Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab guru sebagai seorang fasilitator agar peserta didik tertarik dan tidak merasa takut saat mengikuti pembelajaran di kelas. Posisikan peserta didik sebagai subyek belajar yang memegang peranan utama, sehingga dalam setiap setting proses belajar mengajar  bisa membangkitkan keaktifan dan kreatifitas peserta didik secara penuh. Guru sebagai fasilitator hanya berperan merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan dan dimanfaatkan peserta didik  yang akan berimbas pada keberhasilan pencapain hasil belajar peserta didik. Untuk menciptakan suasana yang mendukung bagi peserta didik memahami materi ajar, maka peserta didik harus dilibatkan secara langsung dalam pembelajaran ini. Pemilihan metode dan strategi pembelajaran yang disukai dan membuat peserta didik senang, dan bisa dilakukan oleh peserta didik di dalam maupun di luar kelas menjadi salah satu alternatif yang bisa diterapkan oleh guru  dalam pembelajaran matematika salah satunya adalah metode Bermain Peran.

Metode Bermain Peran (Role Playing) adalah salah satu bentuk permainan pendidikan atau suatu alat belajar yang menyenangkan baik dengan alat atau tanpa alat yang mengeksplorasi hubungan antar manusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikan sehingga orang dapat mengeksplor perasaan, sikap, nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah. Bermain peran yang dilakukan oleh siswa dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa bagian, ada yang dapat diklasifikasikan pada gambar dan situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik yang sesungguhnya maupun tiruan yang disertai dengan penjelasan secara lisan. Dengan  metode bermain peran diharapkan  akan sangat membantu pemahaman peserta didik terhadap materi ajar karena disertai dengan peragaan sehingga menghindari terjadinya verbalisme, disamping untuk menumbuhkan sikap penghayatan terhadap materi pengajaran karena materi langsung diperagakan. Dalam metode bermain peran, disamping dilakukan di dalam kelas siswa juga kita ajak pembelajaran di luar kelas, agar siswa dapat memahaminya lebih dalam lagi. Untuk menciptakan suasana yang mendukung bagi siswa untuk memahami materi, maka siswa harus dilibatkan dalam metode bermain peran ini

Selanjutnya bermain peran dapat digunakan sebagai, pertama alat untuk mendiagnosis dan mengerti seseorang dengan cara mengamati perilakunya waktu memerankan dengan spontan situasi dan kejadian yang terjadi dalam kehidupan sebenarnya. Kedua, media pengajaran,melalui proses “modeling” anggota dapat lebih efektif melalui ketrampilan-ketrampilan antar pribadi dengan mengamati berbagai cara dalam memecahkan masalah. Ketiga, metode latihan.

Bermain peran yang bersifat tehnik membimbing (probing) digunakan  untuk menggali pengetahuan siswa agar lebih mengerti lagi. Teknik membimbing (probing) digunakan jika siswa dalam bermain peran kurang memahami dan hanya sebagian siswa saja yang memahami materi yang diajarkan. Teknik membimbing memerlukan waktu dan kesabaran guru dalam memberikan materi yang diajarkan dan juga memerlukan keterampilan guru untuk dapat menggali pemahaman siswa dalam memahami materi yang diajarkan, dengan bermain peran dan melibatkan siswa dengan tujuan untuk meningkatkan respon siswa menuju kepada pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.

Dengan menggunakan metode bermain peran dalam pembelajaran matematika ini yang paling penting dilaksanakan adalah proses berfikir. Peserta didik dilatih untuk mengembangkan kemampuan berfikir secara logis dengan bantuan gambar atau animasi sehingga peserta didik akan lebih mudah dan kesulitan yang dialami akan teratasi. Dengan disertai bimbingan dari guru , peserta didik  dapat merespon materi yang diajarkan dalam suasana menyenangkan dan aktif akan berdampak pada pencapaian hasil belajar yang optimal sesuai dengan apa yang diharapkan oleh guru. Respon siswa yang antusias setelah mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan metode bermain peran diharapkan juga dapat memotivasi peserta didik untuk belajar lebih giat lagi. Selain itu juga akan meningkatkan profesionalisme guru agar dapat terus mengembangkan kreatifitas pembelajaran matematika sehingga dapat memberikan dampak yang positif bagi pembelajaran matematika disekolah masing-masing juga di luar sekolah. Yang paling penting peserta didik dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan senang, nyaman dan dapat  memahami materi pembelajaran. Sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik selain juga untuk menumbuhkan minat peserta didik belajar dan mengenal matematika sejak dini. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia