Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan
Catatan 115 Tahun Berpulangnya RA Kartini

Refleksi Perjalanan Kesetaraan Perempuan

23 September 2019, 12: 05: 14 WIB | editor : Ali Mustofa

Lestari Moerdijat

Lestari Moerdijat (dok pribadi)

Share this      

LAGU ini berkumandang di negeri tercinta sebagai penghormatan kepada Pahlawan Nasional kita -RA Kartini. Hari kelahirannya pada 21 April kini diperingati sebagai Hari Kartini -sebagai penghargaan atas jasanya memperjuangkan emansipansi perempuan.

Lahir di Jepara, 21 April 1869 sebagai anak kelima Bupati Jepara Raden Mas Sosroningrat, R.A. Kartini adalah anak dari seorang selir dan menjadi anak perempuan pertama dari 11 bersaudara. Ibunya, Ngasirah adalah perempuan kalangan biasa. Bukan keluarga bangsawan.

Meskipun demikian, R.M. Sosroningrat mempunyai pikiran yang cukup maju pada masa itu. Anak-anak perempuannya diizinkan sekolah. R.A Kartini berkesempatan sekolah di ELS (Eropese Lagere School). Namun sayang, aturan kala itu hanya memungkinkan perempuan bersekolah sampai usia 12 tahun. Setelah mencapai usia tersebut, perempuan dari kalangan bangsawan harus dipingit dan tidak diizinkan keluar rumah.

Pendidikan di ELS, memberi kesempatan R.A. Kartini belajar banyak dan mampu memetik pemikiran maju. Kemahirannya berbahasa Belanda, kegemarannya membaca, dan berdiskusi serta sikapnya yang kritis, membuka ruang luas untuk pengembangan pikirannya.

Sekalipun dalam pingitan, R.A. Kartini tidak pernah berdiam diri. Korespondensi dengan teman-temannya di Belanda terus dilakukan. Inilah yang kemudian mendorong R.A. Kartini untuk berjuang memajukan kaumnya. Di antara kawan penanya adalah Rosa Abendanon dan Estelle (Stalla) Zeehandelaar, yang antara lain mendorong dan membuat pikiran Kartini menjadi lebih terbuka.

Dari kumpulan surat-suratnya kepada sahabatnya di Belanda yang dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku oleh JA Abendanon sepeninggal Kartini ”Door Duistermis tox Licht” -Habis Gelap Terbitlah Terang- tercatat jelas berbagai pemikian besar yang menjadi bukti betapa keinginannya untuk melepaskan perempuan dari belenggu diskriminasi yang membudaya pada masa itu. Bukan sekedar harapan, namun adalah sebuah keniscayaan yang harus menjadi keharusan.

Perempuan Jawa saat itu sangat tertinggal dibanding mereka yang di Belanda. Mereka tertinggal dalam pendidikan, dalam melakukan kegiatan sosial, dan dalam berpikir kritis. Bahkan, dipaksa menerima saja nasibnya. Inilah yang kemudian diperjuangkan oleh Kartini. Bahwa perempuan Jawa perlu memperoleh persamaan hak dalam menimba ilmu, perlu kebebasan berpikir, memperoleh kesetaraan, mampu menentukan nasibnya, dan berdiri diatas kaki sendiri.

Perjuangannya dimulai dengan mengelola sekolah perempuan di rumahnya di Jepara. Bukan itu saja, semangat perjuangan melepaskan diri dari keterbelakangan dibarengi pula dengan jiwa kewirausahaan. Hal ini mendorong Kartini untuk terus maju mencari cara memberdayakan masyarakat -bukan hanya perempuan, tetapi seluruh masyarakat dengan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.

Di usia 17 tahun, Kartini mengikuti Pameran Nasional Karya Perempuan pada 1898 di Den Haag, Belanda. Dia mengirimkan 21 karya dari Jepara, termasuk seni ukir, pigura, lukisan, sisir, dan batik yang ia kirim beserta tata cara membuatnya. Tata cara dan prosedur pengerjaan batik itulah yang kemudian menjadi penting untuk sejarah batik Hindia-Belanda. Kartini pun dikenal sebagai pelopor batik lunglungan bunga -batik motif Jepara. Demikian pula dengan ukiran Jepara yang dipamerkan, membuka jalan bagi terciptanya industri mebel ukir Jepara yang kemudian mendunia.

Setelah dirasa usahanya cukup besar, Kartini melakukan hubungan dagang dengan Oost en West yang baru saja membuka cabang di Batavia. Lembaga yang dipimpin oleh Ny. N Van Zuylen ini, berdiri pada 1899 dan kerap menggelar pameran di Den Haag untuk mengembangkan dan memasarkan hasil kerajinan bumi putera. Karya ukir Jepara menjadi mendunia atas jasa Kartini. Keberhasilan dalam pameran itu, mendorong dan sekaligus menginspirasinya untuk membantu perajin mengembangkan usahanya. Atas jasanya, Jepara kemudian berkembang menjadi kota mebel dengan kekhasan ukiran yang terkenal .

Berkat kerja keras Kartini di bidang ini, pada 1923 pemerintah Belanda memberikan penghargaan untuk Kartini dengan membangun sekolah pertukangan. Tujuannya, untuk mendidik anak muda menjadi pengrajin mebel.

Ironisnya, di tengah keberhasilannya mendobrak berbagai tradisi dan memajukan perempuan dan masyarakarat, pada perjalanan hidupnya RA Kartini harus menyerah kepada tuntutan adat dan budaya. Mengalami poligami -menjadi istri ke empat dari Adipati Djojoadiningrat, bupati Rembang saat itu. Alasan usia 24 tahun yang pada masa itu terhitung tak lagi muda, bahkan sudah dikategorikan sebagai perawan tua, serta demi baktinya pada sang ayah, Kartini menerima pernikahan itu.

Namun demikian, Kartini tegar yang berpikiran maju menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu langkah perjuangannya. Dia mengajukan sejumlah syarat kepada Adipati Djojoadiningrat untuk bisa menikahinya.

Syarat tersebut, antara lain meniadakan beberapa prosesi adat dalam tata cara perkawinan Jawa yang secara kasat mata menempatkan perempuan di bawah lelaki, mendobrak tata cara budaya yang mencerminkan diskriminasi dalam keseharian, serta permintaan utama lain agar dibuatkan sekolah dan diperbolehkan mengajar.

Setelah menikah, Kartini mengelola sekolah perempuan di daerah suaminya di Rembang. Bahkan, kemudian sekolah ini yang menjadi cikal bakal sekolah Kartini yang berkembang kemudian di banyak daerah, seperti di Surabaya, Jogjakarta, Madiun, Cirebon, dan lain sebagainya.

Manusia berencana, namun Tuhan memiliki kuasa dan rahasia. Kartini tidak ditakdirkan berumur panjang. Pada 17 September 1904 di usia 24 tahun, Kartini berpulang selamanya. Ia tutup usia empat hari setelah melahirkan seorang putra yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat pada 13 September 1904.

RA Kartini dianugerahi gelar pahlawan nasional dari pemerintah Indonesia pada 2 Mei 1964 atas jasa-jasa dan perjuangannya mengangkat harkat dan martabat perempuan. Sebagai salah satu pejuang yang ikut meletakkan dasar emansipasi perempuan di negeri ini.

Pikiran-Pikiran Besar Kartini tentang kesetaraan gender dimulai dengan kesadaran, bahwa perempuan merupakan tiang dan guru pertama bagi anak yang dilahirkan dan ibu anak-anak bangsa. Perempuan adalah ibu bagi kehidupan. Oleh karenanya, perempuan harus memiliki kemampuan dan melepaskan diri dari keterbodohan, mampu mengambil keputusan, dan menentukan nasibnya.

Kartini yang memiliki darah bangsawan dan hidup di kalangan penguasa justru melihat dan berpikir melampaui zamannya. Perempuan memiliki hak yang sama dan kesetaraan dalam tatanan kehidupan, baik dalam keluarga maupun di masyarakat. Perempuan berhak diberi kesempatan dan dinilai kemampuannya untuk diberikan peran penting setara lelaki.

Kartini bahkan sudah berpikir tentang sebuah bangsa sebelum gagasan tentang Indonesia lahir. Dari surat-suratnya, diketahu bahwa Kartini telah memiliki kesadaran nasionalisme meskipun saat itu dalam konteks Jawa. Kartini bahkan berani mempertanyakan kolonialisme Belanda dan menjabarkan dampaknya bagi masyarakat pribumi.

Kartini juga mengingatkan kembali bahwa perempuan adalah tiang utama keluarga dan ibu bangsa. Apa yang dipikirkannya sejalan dengan sabda Rasulullah Muhammad SAW ketika ada seseorang yang bertanya kepada siapakah kira harus berbakti pertama kali. Jabawannya adalah untuk tiga kali pertama adalah Ibu, ibu, dan ibu.

Telah 115 tahun -Ibu Kita Kartini -Putri Sejati -Putri Indonesia- meninggalkan dunia fana. Pikiran besarnya sesungguhnya adalah pikiran restorasi Indonesia- memperbaiki keterbelakangan, mengembalikan harkat dan martabat perempuan sesuai kodratnya sebagaimana diciptakan Tuhan YME, memulihkan posisi perempuan, dan mencerahkan masa depan melalui emansipasi.

Di 115 tahun kepergiannya, kita tundukkan kepala dan berdoa baginya. Ingat kembali jasanya dan laksanakan mimpi besarnya. Kita perempuan -dengan tanpa melupakan kodrat dan tugas sebagai anak, ibu, dan istri- harus mewarnai dan berperan dalam kehidupan. Menjadi diri sendiri, memberi arti dan berarti.

Ibu kita Kartini; Pendekar bangsa; Pendekar kaumnya; Untuk merdeka; Wahai ibu kita Kartini; Putri yang mulia; Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia.

17 September 2019

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia