Selasa, 15 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Suatu Hari seperti Menghadap Malaikat

16 September 2019, 10: 00: 44 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

BEBERAPA hari belakangan malaikat penegak hukum bergejolak. Markas mereka di Jalan Kuningan, Jakarta, menghangat. Terutama setelah beberapa kelompok masa berdemonstrasi. Pimpinan KPK pun menyerahkan kekukasaan kepada presiden. Saya ikut meresakan denyutnya.

Dua minggu lalu, persisnya Senin, 2 September 2019, saya berada di  gedung merah putih yang menjadi sasaran demo. Saya menghadap salah satu “malaikat” yang paling ditakuti. Itu menjadi pengalaman berharga. Banyak orang yang ingin tahu ceritanya. “Pak, kapan cuitannya keluar. Banyak orang menanyakan,” kata Saiful Amri, salah seorang karyawan Radar Kudus yang berkantor di Pati.

Sehari setelah saya ke gedung KPK sudah banyak orang menanyakan hal yang sama. Saya jawab tunggu hari Senin. Ternyata Senin lalu menulis Pagelaran Seni Budaya Nusantara yang digelar Kapolda Jateng dan Pangdan IV/Diponegoro di Simpang Lima Semarang. Saya diundang khusus oleh dua jenderal tersebut.

Sebenarnya sudah banyak orang tahu kalau saya tidak memiliki urusan dengan KPK. Hanya kebetulan saat terjadi penegaan hukum di Pendapa Kabuaten Kudus, 26 Juli, saya berada di sana. Saat itu saya bersama seluruh manajer Jawa Pos Radar Kudus sedang menghadap Bupati M. Tamzil di peringgitan. Melaporkan kegiatan jalan sehat dalam rangka HUT Kabupaten Kudus yang akan digelar 29 September. Di akhir pertemuan petugas KPK datang yang kemudian membawa bupati ke Jakarta.

Jumat, 30 Agustus, saya mendapat panggilan. Suratnya datang persis ketika saya menghadap Dandim Kudus yang baru Letkol Arm Irwansyah SAP. Saat itu saya juga ditemani para manajer. Minggu malam saya terbang ke Jakarta. Menginap di hotel Royal Kuningan. Hotel ini persis berdampingan dengan gedung KPK yang berwarna merah putih. Hanya dipisah tanah kosong.

Pemimpin Redaksi Radar Khudus Zaenal Abidin pernah mewawancarai Ahmad Marzuki di hotel tersebut sebelum bupati Jepara (nonaktif) itu diperiksa dan kemudian ditahan.

Manajer Keuangan Radar Kudus Etty Muyassaroh menidurkan saya di sana agar tidak perlu repot ke KPK. Tinggal jalan kaki. Hanya kira-kira 30 meter. Dari jendela kamar bisa melihat kondisi gedung bagian depan maupun belakang, tempat para tahanan. Saya bisa menata hati. Menyiapkan mental ketika diperiksa keesokan hari.

Undangan untuk saya pukul 10.00. Namun Manajer Iklan Radar Kudus Ugik W.P. menyarankan agar saya tiba di gedung KPK lebih cepat. Saya keluar kamar hotel pukul 09.15. Lima belas menit kemudian sudah di ruang tunggu KPK. Suasana masih sepi. Belum terlihat seorang tamu pun. Saya kemudian melapor.

Masuk ke gedung itu memang terasa angker. Di pintu ada alat sensor elektronik seperti di bandara. Semua orang yang melewati pintu itu harus menyerahkan tas untuk diperiksa petugas. Tak ketinggalan pegawai KPK. Saya tidak membawa apa-apa. Begitu melapor, petugas memberi keplek dengan menukar KTP.

Keplek itu sekaligus sebagai kunci pembuka pintu ke ruang penyidikan di lantai dua. Setelah melewati satu pintu kupu tarung  yang hanya setinggi paha petugas meminta melepas seluruh asesoris yang menempel di badan. Kebetulan saya mengenakan arloji, dua gelang tasbih di tangan kanan dan dua di kiri, serta satu cincin di jari manis kanan dan satu di kiri. Dompet dan seisinya juga tidak boleh dibawa. Termasuk uang receh. Hanya kacamata yang boleh dibawa.

Untuk masuk ke ruang penyidikan harus melewati dua pintu. Suasana sepi. Tak ada seorang pun. Ruangannya kecil. Hanya kira-kira 2 x 2,5 meter. Di atas meja ada satu monitor dan dua gelas yang berisi air putih. Aneh, saya membayangkan seperti di liang lahat menunggu malaikat. Tidak bisa lari ke mana-mana. Nderedeg juga.

Saat pikiran menerawang ke mana-mana itu tiba-tiba pintu terbuka. Konsentrasi saya beralih. “Selamat Pagi Pak Baehaqi,” sapa seorang yang kelihatan masih muda. Dia memperkenalkan diri. “Kapan tiba di Jakarta. Naik apa,” tanyanya. Setelah saya jawab dia menawari minuman. “Pak Baehaqi mau minum apa. Hangat atau dingin. Teh atau kopi,” katanya dengan tersenyum. Ramah sekali. “Tidak perlu repot,” jawab saya. “Silakan kalau mau air putih,” tambahnya.

Lelaki sekitar 35 tahunan itu kemudian menyodorkan tiga lembar isian riwayat hidup. Ada juga edaran mengenai hukum  orang yang dimintai keterangan. “Silakan dibaca dan diisi,” pintanya kemudian meningggalkan ruangan. Saya kembali seorang diri. Sepi lagi. Membayangkan apa yang terjadi lagi.

Belum selesai mengisi daftar riwayat hidup, seorang lainnya masuk ruangan. “Selamat pagi Pak Baehaqi,” katanya dengan tersenyum. Ramah juga. Dialah penyidik yang akan memintai keterangan saya. Dia juga menawari minuman. Sama sekali tidak ada kesan angker. Yang terjadi selanjutnya adalah tanya jawab seperti dua orang teman.

“Sehat Pak Baehaqi,” tanyanya. Pertanyaan ini seperti basa-basi. Tetapi sesungguhnya substansi keterangan. Semua orang yang dimintai keterangan penyidik harus dalam kondisi sehat. Begitulah penyidik mengajukan petanyaan selanjutnya. Dialogis. Saya menjadi santai.

Dialog selanjutnya mengenai keberadaan saya di peringgitan ketika dilakukan tindakan hukum oleh KPK. Saat itu saya dan teman-teman manajer Radar Kudus tidak tahu kalau orang yang masuk ke ruang bupati adalah petugas KPK. Saya baru tahu setelah balik ke kantor. Wartawan di pendapa mengabarkan.

Suasana di ruang penyidikan itu betul-betul cair. Beberapa kali kami tertawa. “Apakah Pak Baehaqi mengenal kiai ...,” tanya penyidik. Dia menyebut sebuah nama yang tidak saya kenal sama sekali. “Kalau kiai Sya’roni saya kenal. “Siapa beliau,” kejarnya. “Beliau adalah seorang kiai besar di Kudus. Namanya paling masyhur,” kata saya. Dia tertawa. Saya juga.

“Saya kira materi sudah cukup. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Baehaqi atas semua keterangannya,” kata penyidik menutup pemeriksaan. “Kalau Mas Baehaqi membutuhkan biaya transportasi, kami sediakan,” tambahnya. “Ini demi negara. Alhamdulillah saya kuat membiayai sendiri,” jawab saya. Dia tersenyum lebar.

Saya juga mengucapkan terima kasih. “Penyidikannya enak sekali. Jauh dari apa yang pernah saya alami sebelumnya,” sanjung saya. Dia tersenyum. Saya memang pernah menghadapi penyidik. Yaitu ketika saya kehilangan laptop di bus Patas jurusan Semarang – Surabaya. Pelakunya tertangkap. Saya diperiksa sebagai korban. Cukup lama. Dari jam 02 dini hari. Pukul 10.00 baru bisa pulang.

Begitulah. Setiap orang yang diperkirakan mengetahui adanya suatu peristiwa hukum bisa diperiksa sebagai saksi. Kalau ada tabrakan kendaraan dan Anda melihatnya, Anda juga bisa dimintai keterangan sebagai saksi. Demikianlah saya yang melihat terjadinya penindalan hukum di pendapa Kabupaten Kudus. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia