Selasa, 15 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Belajar IPS dengan CPT

14 September 2019, 12: 20: 52 WIB | editor : Ali Mustofa

Purwanti, S.Pd.; Guru SMPN 1 Gabus

Purwanti, S.Pd.; Guru SMPN 1 Gabus (dok pribadi)

Share this      

PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan masyarakat pada tataran lokal, nasional, dan internasional menjadi landasan utama dalam pengembangan kurikulum 2013. Pembelajaran IPS di SMP antara lain meliputi pemahaman lingkungan dan masyarakat dalam lingkup nasional dan internasional untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, berpikir logis, sistematis, kritis, analitis, dan berketerampilan sosial. Semua itu selain untuk meningkatkan pemahaman potensi wilayah Indonesia, juga untuk mengembangkan nasionalisme, memperkokoh sikap kebangsaan, dan mampu bekerjasama dalam masyarakat majemuk selaku warga masyarakat, warga negara, dan warga dunia.

Ruang lingkup pembelajaran IPS jenjang SMP antara lain perubahan dan kesinambungan masyarakat Indonesia sejak zaman praaksara hingga masa sekarang. Salah satu materi di kelas VIII yaitu perubahan dan kesinambungan (geografis, politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya)  masyarakat Indonesia pada masa penjajahan.

Salah satu negara yang pernah menjajah bangsa Indonesia adalah Belanda. Pada mulanya tujuan kedatangan Belanda ke Indonesia untuk berdagang rempah-rempah. Setelah berhasil menemukan daerah penghasil rempah-rempah dan keuntungan yang besar, Belanda berusaha mengadakan monopoli perdagangan rempah-rempah dan menjajah. Untuk melancarkan usahanya, Belanda menempuh beberapa cara seperti pembentukan VOC dan pembentukan pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Pada awal abad XIX Jawa, setelah pemerintahan Inggris berakhir, yaitu pada tahun 1816, Indonesia kembali dikuasai oleh Pemerintahan Hindia-Belanda.

Pada masa kedua penjajahan ini yang sangat terkenal adalah sistem tanam paksa yang diterapkan oleh Van den Bosch sejak tahun 1830. Terdapat ketentuan-ketentuan dalam pelaksanaan sistem tanam paksa tersebut. Namun, dalam praktik sesungguhnya terdapat banyak penyimpangan. Terdapat perbedaan antara penerapan sistem sewa tanah yang dilaksanakan oleh Raffles serta sistem tanam paksa yang dilaksanakan oleh Van den Bosch. Keduanya membawa dampak yang tidak sedikit bagi kehidupan bangsa Indonesia.

Dalam perkembangan sampai dengan paruh pertama abad ke-19, kebijakan selain bidang perekonomian, dalam bidang pendidikan juga tidak diabaikan oleh pemerintah Hindia-Belanda, tetapi itu hanya masih berupa rencana. Belanda secara licik menjalankan politik pecah belah sehingga kerajaan-kerajaan yang saling bertentangan itu menjadi lemah. Kesempatan ini digunakan oleh Belanda untuk menjajah Indonesia. Demikian salah satu materi pembelajaran IPS di kelas VIII SMP yaitu tentang perubahan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan Belanda.

Untuk meningkatkan kualitas dan hasil pembelajaran dapat dilaksanakan dengan berbagai metode, tergantung kreasi dan inovasi guru. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah dengan belajar berpasangan. Dalam belajar berpasangan, satu siswa berperan sebagai guru dan satu siswa berperan sebagai siswa. Di dalam pelaksanaannya, siswa diminta untuk mempelajari atau meringkas informasi-informasi materi tertentu dari sebuah buku.

CPT (Classwide Peer Tuturing) merupakan salah satu metode belajar berpasangan yang diperkenalkan oleh Greenwood pada tahun 1989. Dijelaskan oleh Miftahul Huda (2012: 128) bahwa metode CPT melibatkan pasangan tutor (peer tutors); seorang siswa perperan sebagai tutor dan satu siswa yang lain sebagai yang ditutor (tutee). Tutor menanyakan masalah kepada tutee, jika tutee mampu menjawab dengan tepat, ia akan memperoleh poin. Jika tutee tidak dapat menjawab, maka tutor memberitahukan jawabannya, lalu tutee menulis sebanyak tiga kali dan membaca kembali jawaban tersebut dengan tepat. Setiap 10 menit tutur dan tutee berganti peran. Penghargaan (reward) diberikan oleh guru kepada pasangan yang memperoleh poin terbanyak.

Dengan penerapan metode pembelajaran CPT tersebut siswa menjadi aktif, terjalin kerja sama yang baik di antara siswa sehingga tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran pun menjadi lebih bermakna, membekas di dalam pikiran dan diri siswa. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia