Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Blora

Finalis Kakang Mbakyu Blora Diajari Merawat Keris

13 September 2019, 10: 52: 45 WIB | editor : Ali Mustofa

BENDA PUSAKA: Wahyu Satria Putra salah satu peserta Kakang Mbakyu Duta Wisata Kabupaten Blora menunjukkan keris saat di rumah artefak di kompleks GOR Mustika Blora kemarin.

BENDA PUSAKA: Wahyu Satria Putra salah satu peserta Kakang Mbakyu Duta Wisata Kabupaten Blora menunjukkan keris saat di rumah artefak di kompleks GOR Mustika Blora kemarin. (SUBEKAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA, Radar Kudus – Puluhan peserta Kakang Mbakyu Duta Wisata Kabupaten Blora Tahun 2019 terus digembleng panitia. Kemarin mereka dilatih dan dikenalkan tentang benda kepurbakalaan. Bagaimana cara merawatnya, proses pembentukan menjadi benda purba dan lainnya. Selain itu, mereka juga diajari bagaimana merawat warisan budaya jawa yaitu keris.

Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (Dinporabudpar) Slamet Pamuji mengungkapkan, puluhan finalis duta wisata diberangkatkan dari halaman hotel Mustika Blora dengan menggunakan mobil antik (VW). Pertama mereka berkunjung museum artefak, wisata edukasi Balong, wisata Seloparang Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon dan wisata religi Sunan Pojok.

Dia menambahkan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk mengenalkan potensi Blora kepada para finalis Duta Wisata Kabupaten Blora. Meskipun ada juara 1, 2 dan 3, ] sebenarnya dia ingin mereka semua(30 finalis) adalah duta wisata. Mereka punya kewajiban untuk mempromosikan wisata di Blora.

 “Makanya kita kenalkan seperti ini. Kita kenalkan wisata-wisata yang ada di Blora. Kita berikan materi teknik cara mempromosikan, teknik kepribadian karena mereka sebagian duta,” jelasnya.

Menurutnya, mereka juga sebagai genre duta wisata. “Kalau kemarin saya katakan ada 80 anak. Walaupun grand final ada 30. Tapi semua ini mereka adalah duta wisata. Kewajibannya mempromosikan potensi wisata yang ada di Blora dengan berbagai cara mereka. Terutama cara-cara kekinian. Dengan gaya kekinian yang masing-masing finalis miliki.

“Contohnya medsos, vlog, IG. Mereka juga punya jarigan sosmed anak muda dan itu yang kita pakai. Mereka menampilkan poto mereka sendiri di lokasi wisata itu promosi bagi Kabupaten Blora,” tegasnya.

Mumuk, sapaan akrab Slamet Pamuji mengaku, Blora memang bukan menjadi daerah tujuan wisata regional dan nasional. “Tantangan kita tidak punya pantai, gunung. Tapi tidak boleh kecil hati tidak punya tempat yang indah. Gua Terawang sebenarnya di Jawa Tengah tidak ada duanya. Potensi wisata edukasi yang ada di Ledok juga luar biasa. Kita jual bersama PHRI ke Singapura dan hasilnya, banyak siswa Singapura mau berkunjung ke Ledok,” imbuhnya.

Sebab, disana ada sumur minyak pertama di Indonesia. Ada momen dan proses pengambilan sumur minyak tua secara tradisional. "Terlepas dari itu semua, saya ingin 800.000 jiwa warga Blora mau berwisata. Kebutuhan wisata sudah dinomorduakan. Setelah pangan. Bukan lagi pangan dan papan. Untuk itu, semua potensi harus kita garap. Yang penting apa yang ada kita nikmati,” tegasnya.

Untuk di rumah artefak di kompleks GOR Mustika Blora kemarin, para finalis Duta Wisata Blora dikenalkan dan praktik konservasi benda kepurbakalaan. Dikenalkan langsung bagaimana prosesnya. “Yang jelas, jaga kesehatan. Jangan makan atau minum sembarangan. Grand final tinggal di depan mata. Kalau perlu minum vitamin agar tetap sehat,” ujarnya.

Wahyu Satria Putra, salah satu finalis mengaku kegiatan ini sangat luar biasa. Dia bersama teman-temannya juga diajari untuk mencuci keris, belajar mengenai fosil, dan mengenal peninggalan-peninggalan purba di masa lalu yang ditemukan di Kapubaten Blora. “Selain itu kami bisa melihat dan praktik langsung untuk mengolah tanah liat menjadi barang jual yang bernilai tinggi. Selain itu, mewarnai hasil kerajinan tanah liat. Makan siang di seloparang juga menikmati outbound,” jelasnya.

(ks/sub/ali/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia