Selasa, 15 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

SMA NU Al Ma’ruf Bertekad Jadi Laboratorium Kader Nahdlatul Ulama

12 September 2019, 13: 43: 28 WIB | editor : Ali Mustofa

BERI PETUAH: Cak Nun tengah memberikan petuah-petuah luhur dalam Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Acara malam itu merupakan salah satu agenda dalam harlah ke-50 tahun SMA NU Al Ma’ruf Kudus.

BERI PETUAH: Cak Nun tengah memberikan petuah-petuah luhur dalam Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Acara malam itu merupakan salah satu agenda dalam harlah ke-50 tahun SMA NU Al Ma’ruf Kudus. (EKO NUGROHO FOR RADAR KUDUS)

Share this      

JATI, Radar Kudus – Di hari ulang tahunnya yang ke-50 tahun, SMA NU Al Ma’ruf mendeklarasikan diri menjadi laboratorium pencetak kader-kader Nahdlatul Ulama. Tekad tersebut dideklarasikan untuk ikut serta dalam membentengi bangsa Indonesia dari radikalisme.

Ketua Ikatan Alumni Noor Hadi mengatakan, bersepakat dengan seluruh alumni untuk menguatkan peran sebagai warga Nahdliyin. Secara moral, pihaknya merasa terpanggil untuk ikut berperan menyiapkan kader-kader NU di almamaternya agar sigap dengan fenomena kebangsaan termutakhir.

”Dengan terbentuknya ikatan alumni ini, kami berharap bisa saling menguatkan jaringan agar bisa berperan aktif mengamalkan warisan-warisan ulama NU dalam menjaga Kebhinekaan ini,” kata Hadi usai mengukuti 50 khataman Alquran 50 tumpeng.

Deklarasi tersebut juga ditandai dengan satu Prasasti Laboratorium Kaderisasi NU oleh Plt Bupati Kudus M Hartopo, Ketua Ikatan Alumni, dan Emha Ainun Najib.

Anas Ma’ruf, Wakil Kepala SMA NU Al Ma’ruf menambahkan, sebagai salah satu sekolah umum berbasis Aswaja, SMA Al Ma’ruf sejak didirikan sampai kini telah berhasil menyeimbangkan pelajaran-pelajaran umum dan keagamaan. Selain itu, SMA NU Al Ma’ruf juga memiliki pondok pesantren yang kental dengan ilmu-ilmu warisan ulama terdahulu.

Sementara itu, Kepala SMA NU Al Ma’ruf Kudus Shodiqun, juga bertekad menjadikan murid-muridnya sebagai tunas bangsa yang berilmu amaliah, beramal ilmiah, dan memiliki sanad keilmuan yang jelas. Selain itu, pihaknya juga mendorong para siswa agar menerapkan perilaku bersih, rapi, dan disiplin dalam segala hal.

”Jebolan SMA NU Al Ma’ruf harus menjadi pemimpin-pemimpin masyarakat. Mereka harus memiliki sanad keilmuan yang jelas asal-usulnya,” tegas Shodiqun.

Di harlah tersebut, SMA NU Al Ma’ruf mendapatkan kado istimewa dari salah satu siswinya. Pada lomba MTQ Pelajar se-Kabupaten Kudus beberapa pekan lalu, salah satu siswinya memperoleh juara tiga dalam kategori Tahfidz lima Juz dan Tilawah.

Dalam gelaran Harlah Emas 50 tahun tersebut, hadir juga Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun bersama Kiai Kanjeng untuk sinau bareng. Untuk mewujudkan tekad yang digagas SMA NU Al Ma’ruf tersebut, malam itu Cak Nun membekali sejumlah hal yang bisa mendasari langkah kader-kader NU itu.

Cak Nun menganjurkan agar pihak sekolah mengembalikan arah pendidikan yang selama ini terlalu melebar dari cita-cita leluhur bangsa. Penilaian itu didasarkan pada pengamatan terhadap realita dunia pendidikan yang lebih memilih budaya asing dibanding budaya asli milik sendiri. Sebagai orang tua, Cak Nun mengajak untuk kembali menjalankan konsep pendidikan berbasis kearifan budaya yang sudah terbukti telah mampu menjadikan para pendiri bangsa menjadi pemikir-pemikir berbudi luhur.

Secara khusus, Cak Nun menuturkan agar SMA NU AL Ma’ruf mengadopsi konsep pendidikan para wali. Terutama Sunan Kudus dan Sunan Muria. Sebab, konsep pendidikan berbasis toleransi budaya yang telah dicontohkan Sunan Kudus terbukti telah membawa kedamaian kehidupan antar umat beragama. Itu terwujud pada Menara Kudus yang menyimbolkan kedamaian di atas keberagaman pada masa lalu.

Menurut Cak Nun, Indonesia akan menjadi pemegang tongkat estafet Islam dan menjadi patron keislaman dunia. Lebih dari itu, yang akan menjadi kiblat keislaman Indonesia adalah daerah-daerah Pantai Utara Jawa. Seperti Kudus, Demak, Pati dan daerah sekitarnya.

”Ini bukan sekedar prediksi yang asal-asalan. Sebab saya telah mengikuti perkembangan fenomena keislaman dunia sejak dulu. Kalau tidak percaya, buktikan sendiri nanti. Daerah-daerah Pantura akan menjadi kiblat Islam dunia, terutama Kudus. Dan SMA NU Al Ma’ruf harus mempersiapkan itu. Sebab saudara-saudara semua yang akan berperan,” tutur Cak Nun. (qih)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia