Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Blora

Tercemar Limbah, DLH Larang Warga Konsumsi Ikan dari Bengawan Solo

12 September 2019, 09: 13: 24 WIB | editor : Ali Mustofa

TERCEMAR: Sejumlah warga memancing di aliran sungai Bengawan Solo yang kembali tercemar material limbah dari hulu sejak Selasa (10/9) kemarin.

TERCEMAR: Sejumlah warga memancing di aliran sungai Bengawan Solo yang kembali tercemar material limbah dari hulu sejak Selasa (10/9) kemarin. (SUBEKAN/RADAR KUDUS)

Share this      

CEPU, Radar Kudus – Sungai Bengawan Solo kembali tercemar material limbah dari hulu. Warna airnya cokelat pekat dan berbuih. Kondisi itu membuat ikan muncul ke permukaan karena air tercemar limbah. Meski begitu, warga Dukuh Kracakan, Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Blora berusaha mencari ikan dengan alat tradisional. Sebagian lagi memainkan kailnya untuk mendapatkan ikan.

M. Nur Hasyim, salah satu warga Desa Ngloram mengaku, pekatnya air bengawan solo sudah terlihat sejak seminggu terakhir. Namun, dia tidak tahu persis waktunya. Akibatnya membuat Pladu (banyak ikan mabuk muncul ke permukaan). “Sering Pladu. Hampir Setiap hari. Kelihatannya memang keracunan limbah,” terangnya kemarin.

Sementara itu, Sarmi, Pejual makanan di Kracakan juga membenarakan hal tersebut. Dia menduga, limbah itu berasal dari tekstil wilayah Hulu Bengawan Solo. “Sering sekali, sudah tak terhitung,” jelasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blora Dewi Tejowati mengaku, hingga saat ini belum mengetahui penyebab limbah tersebut. Yang pasti kondisinya lebih parah dibanding bulan sebelumnya.

“Saya pikir sudah tidak ada masalah. Sebab selama Jambore Daerah kemarin tidak ada masalah. Kemarin lihat gambar kok parah lagi. Yang jelas pencemarannya tidak sepekat ini. Berbusa juga,” jelasnya.

Dia mengaku, pihaknya sudah menyampaikan himbauan kepada masyarakat sekitar untuk tidak mengkonsumsi ikan dan ikan dari Bengawan Solo. Ini untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan. “Untuk smeentara kita himbau untuk tidak mengkonsumsi air Bengawan Solo terlebih dahulu. Kandungannya apa sampai saat ini belum tau. Belum mengambil sampel,” imbuhnya.

Terpisah, Dirut Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Amerta Blora, Yan Ria Pramono mengaku, kondisi air bengawan solo memang dalam kondisi tercemar. Berwarna hitam pekat. Diduga, limbah dari hulu.

Dirinya mengaku sedang berupaya mencari bahan kimia yang bisa mengatasi warna tersebut. “Polutan warna hitam pekat dari hulu sungai bengawan solo dan sudah sampai Kracakan. Kemungkinan nanti malam baru sampai ke Instalasi PDAM kita,” ungkapnya.

Riyan menambahkan, pencemaran limbah seperti ini sering terjadi. Bahkan bisa satu minggu sekali. “Kemarin dari DLH provinsi juga sudah mengirim surat ke Sragen dan Ngawi. Tapi masih gitu aja. Mmebuangnya tetap dengan sembungi-sembunyi. Sebab pakai ipal biayanya mahal,” jelasnya.

Kalau kondisinya tetap seperti ini, bisa dipastikan, pihaknya akan menghentikan sementara pengaliran air PDAM kepada pelanggan. Sedikitnya ada 12.000 pelanggan yang bakal terdampak. Sebab selama ini masih mengandalkan air baku dari Bengawan Solo. “Untuk Tempuran tidak ada airnya. Kering. Sementara Ngampel Off karena terkendala pelebaran jalan. Banyak kena bego dan fibro. Sempat putus,” jelasnya. 

(ks/sub/ali/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia