Selasa, 15 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Inspirasi

Dapat Pelajaran dari Senior

11 September 2019, 10: 18: 52 WIB | editor : Ali Mustofa

Rika Yaitul Islami

Rika Yaitul Islami (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Share this      

SENI tari awalnya tidak disukai Rika Yaitul Islami untuk berkecimpung di bidang seni tari. Dia merasa kurang sreg. Dia menuruti kemauan orang tuanya. Tapi lama-kelamaan jadi menarik perhatiannya.

Dia terdaftar mahasiswa jurusan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD), memiliki nama Rika Yaitul Islami. Sebenarnya, tari bukan hobinya. Perempuan yang akrab dipanggil Rika ini lebih suka membaca buku sastra, namun demi menuruti orang tuanya ia ikut sanggar tari.

”Saya sempat malas pergi latihan, tapi disanggar tersebut melihat ada orang-orang yang usia jauh lebih tua darinya semangat untuk belajar tari. Dari itulah hati saya terketuk untuk mulai serius belajar tari,” terangnya.

Dia menambahkan, setelah berjalan satu bulan dan kali pertama bergabung 2018, mulai merasa nyaman dan memang benar. Menurutnya kegiatan apapun harus dilakukan dengan hati, kalau terpaksa dilakukan efeknya tidak baik. Hal inilah yang selalu dijadikan pegangan olehnya.

Rika berdomisili di RT 5/RW 6, Desa Rejosari, Dawe, Kudus, mengatakan, tergabung kesenian wayang orang. Menurutnya, sebagai mahasiswa ikut nguri-uri budaya yang hampir punah dan rela menempuh jarak kiloanmeter untuk latihan wayang orang.

”Saya kalau latihan di Balai Desa Karangbener, Kecamatan Bae. Jadi, orang tua saya makin semangat, rela mengantar dan nanti menjeput usai latihan. Karena malam hari jadi tidak diizinkan naik kendaraan sendiri,” ungkapnya.

Pelajaran bersama orang-orang yang sudah berpengalaman Rika dapatkan dari latihan wayang orang. Menurutnya, ada untungnya masuk sanggar tari karena PGSD dituntut harus bisa tari.

”Tapi cita-cita saya tidak jadi penari, melainkan penulis novel atau guru. Ini hanya untuk menambah skill saya. Tapi, serius saya tekuni, ini amanat orang tua karena ingin anaknya pintar tari, padahal tidak ada darah seni sama sekali,” terangnya.

Rika menekuni tari tapi tidak menghilangkannya selera membaca buku-buku sastra. Dia tetap menulis meski cerita pendek. Dia menganggap ide atau curhatan hati bisa dituangkan dalam tulisan.

”Ya, untuk konsumsi sendiri, belum percaya diri untuk mengirimkan cerpen ke media elektronik. Tapi, suatu saat saya akan mencoba publikasikan. Keinginan saya jadi penulis novel saat ini cukup kuat, jadi perlu saya asah terus,” terangnya.

(ks/san/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia