Selasa, 15 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Grobogan

Sidang Eks Pemilik Kafe Aniaya Tiga Warga Getasrejo Dilanjutkan

11 September 2019, 10: 04: 00 WIB | editor : Ali Mustofa

BERHARAP KEADILAN: Puluhan warga Sanggrahan, Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan menyampaikan aspirasi di halaman Pengadilan Negeri Purwodadi Kelas IB, kemarin.

BERHARAP KEADILAN: Puluhan warga Sanggrahan, Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan menyampaikan aspirasi di halaman Pengadilan Negeri Purwodadi Kelas IB, kemarin. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

PURWODADI, Radar Kudus – Lanjutan sidang penganiayaan tiga warga di Dusun Sanggrahan, Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan kemarin beragendakan pemeriksaan terdakwa. Yakni Yanto alias Bariyo dan Bambang. Dalam sidang kemarin, keduanya dicecar tiga hakim yang diketuai Cyrilla Nur Endah.

Dalam sidang yang turut disaksikan puluhan warga Dusun Sanggrahan tersebut, keterangan kedua terdakwa dinilai bertentangan dengan kesaksian para saksi yang dihadirkan di sidang sebelumnya. Hakim ketua sampai berkali-kali bertanya dengan nada tegas terhadap para terdakwa.

”Di sidang sebelumnya terdakwa membenarkan keterangan saksi. Tidak membantah. Mengapa keterangan hari ini malah berbeda seratus delapan puluh derajat,” kata Hakim Ketua yang juga Ketua Pengadilan Negeri Purwodadi tersebut.

Kedua terdakwa dicecar seputar kronologi penganiayaannya terhadap tiga warga Sanggrahan, Desa Getasrejo yang satu di antaranya masih berusia di bawah umur. Hakim jengkel karena keterangan yang diberikan tidak sinkron dengan kronologi yang telah dipaparkan di sidang sebelumnya.

Selain itu, terdakwa juga mengaku tidak mengerti hukum, tidak bisa baca tulis, hingga menolak didampingi pengacara. Hakim ketua juga sempat menyinggung terdakwa yang diduga memiliki beking kuat sehingga merasa percaya diri tak akan divonis penjara maksimal.

Ketua RT 06 Dusun Sanggrahan Sarjono mengungkapkan, pihaknya pun berharap para terdakwa setidaknya diputus dengan bui separuh dari total tuntutan jaksa, atau sekitar tiga tahun. Sebab, tuntutan penjara bagi keduanya yakni 5,5 tahun.

”Apalagi tadi terdakwa kan menyangkal keterangan saksi-saksi sebelumnya. Padahal di sidang sebelumnya membenarkan. Semoga itu juga bisa jadi pertimbangan hakim untuk memutus nanti,” kata dia kemarin.

Untuk diketahui, kedua terdakwa sebelumnya melakukan penganiayaan terhadap tiga warga Sanggrahan, Desa Getasrejo pada awal Juni, tepat pada Hari Raya Idul Fitri lalu. Penganiayaan itu diduga punya hubungan dengan aksi demonstrasi ratusan warga pada awal April lalu terhadap kafe Bariyo.

Kafe itu diduga kuat menjadi tempat pornoaksi karena terdapat perempuan pemandu lagu di dalamnya. Selain diduga tanpa izin, kafe tersebut juga berada di kawasan warga yang mayoritas muslim, sehingga keberadaannya meresahkan. Kafe itu pun akhirnya ditutup oleh Satpol PP setempat pada pertengahan April.

Orangtua tiga warga yang dianiaya itu merupakan salah satu warga yang turut demonstrasi. Terdakwa semua mencari orangtua tersebut, namun karena sedang tidak di rumah, akhirnya ketiga warga itulah yang salah satu di antaranya di bawah umur (15 tahun) menjadi korban. Terdakwa pun dilaporkan kepada kepolisian setempat dan dibui sejak saat itu juga.

Sebagai informasi, satu warga korban penganiayaan di bawah umur itu yakni atlet sepeda nasional yang sudah beberapa kali mewakili Jateng. Dirinya bersama kedua saudaranya sempat mendapat perawatan beberapa hari di rumah sakit setelah dianiaya.

(ks/ful/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia