Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Pati

Miliki Empat Vihara, Desa Giling Jadi Desa Kerukunan

10 September 2019, 07: 49: 54 WIB | editor : Ali Mustofa

RUKUN: Desa Giling Kecamatan Gunungwungkal dicanangkan sebagai desa sadar kerukunan oleh Bupati Pati Haryanto Sabtu (7/9) kemarin.   

RUKUN: Desa Giling Kecamatan Gunungwungkal dicanangkan sebagai desa sadar kerukunan oleh Bupati Pati Haryanto Sabtu (7/9) kemarin.   (RI PUTJIWATI/RADAR KUDUS)

Share this      

PATI, Radar Kudus- Desa Giling, Kecamatan Gunungwungkal, Pati, dicanangkan sebagai desa sadar kerukunan oleh Bupati Pati Haryanto kemarin. Pencanangan itu diberikan kepada Desa Giling karena warga yang berbeda-beda agama bisa hidup tentram. Meskipun ada empat vihara dan kades setempat beragama Buddha atau minoritas tapi mampu memimpin mayoritas beragama Islam.

Bupati Pati Haryanto menyampaikan, pencanangan Desa Giling sebagai desa sadar kerukunan. Sebab kerukunan antarwarga yang beragama Buddha, Islam, dan Kristen terjaga baik. Terlebih Kades Giling beragama Buddha, namun bisa membawa desa itu tetap kondusif mengayomi semua warganya. 

"Sebenarnya kerukunan antarumat beragama terjadi di semua desa di Pati. Namun penunjukan itu tentunya ada pertimbangan tersendiri. Adat-istiadat dan kearifan lokal di desa itu terjaga dengan baik," kata Haryanto kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Tapi dari semua pertimbangan, lanjutnya, pencanangan desa sadar kerukunan itu karena Sunardih Kades Desa Giling beragama Buddha. Latar belakang kades sebagai minoritas di di Desa Giling menjadi penanda kerukunan dan toleransi. Sebab walaupum sebagai pemimpin minoritas, dapat mewadahi aspirasi masyarakat Desw Giling yang mayoritas muslim.

"Bukti bahwa beliau Kades Giling bisa memberi pelayanan terbaik dan tidak membeda-bedakan. Apalagi memimpin lebih dari satu periode. Harusnya ini diapresiasi. Kepemimpinan tidsk mempermasalahkan status minoritas dan mayoritas. Mayoritas kalau tidak bisa dijadikan panutan pasti ditinggalkan, begitupun sebaliknya," paparnya.

Haryanto berpedan, kerukunan antarumat beragama di Desa Giling di desa itu dapat menjadi contoh baik untuk desa lainnya. Terlebih setelah dicanangkan sebagai desa sadar kerukunan. Kerukunan antarumat beragama terus ditingkatkan. 

Kepala Kantor Kemenag Pati Imron menjelaskan, pencanangan desa sadar kerukunan menandakan pluralisme dan toleransi di Pati sangat luar biasa. Ia berharap pencanangan ini akan menjadi kekuatan luar biasa, seiring banyaknya peristiwa di tanah air brrkaitan tentang kerukunan. 

"Pencanangan itu dilaksanakan Pemkab Pati, Kemenag, dan FKUB. Saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Mudah-mudahan, kerja sama Kemenag Pati, FKUB, dan Pemkab bisa menjaga pilar kerukunan antarumat beragama. Saya juga mengucapkan selamat dan sukses atas terpilihnya Desa Giling sebagai desa sadar kerukunan," jelasnya.

Tepilihnya Desa Giling menjadi desa sadar kerukunan memang didasari atas latar belakang kades yang berasal dari agama minoritas di Pati khususnya di desa setempat. Imron mengapresiasi kepemimpinan kades tersebut karena mampu mengayomi masyarakat, dan sebaliknya masyarakat juga telah memilihnya dengan sepenuh hati.

Sedangkan Kepala Desa Giling Sunarsih berterima kasih atas kepercayaan Pemkab Pati terhadap Desa Giling. Dunarsih memaparkan, masyarakat Desa Giling berjumlah 3.750 jiwa beragama Buddha, Kristen, dan aliran kepercayaan. Namun mayoritas penduduk beragama Islam dan bisa menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

"Kami mempunyai rumah ibadah 24. Terdiri dari 19 masjid dan musala, empat vihara dan cetiya, serta satu gereja. Kehidupan masyarakat Giling relatif aman, kerukunan terjaga, permasalahan yang terjadi bisa selalu diselesaikan dengan musyawarah dan kekeluargaan. Pelanggaran hukum hampir tidak ada," ungkap Sunarsih.

(ks/put/him/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia