Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Dari Kami Orang Jawa Tengah: We Love Papua

09 September 2019, 10: 53: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

SEUMUR-umur saya tidak pernah menyangka bakal menjadi pembuka video tayangan sebuah konser dengan penyanyi Didi Kempot. Apalagi bersama Kapolda Jateng Irjen Pol Dr H Rycko Amelza Dahniel MSi. Kami bersalaman. Kemudian kapolda menarik tangan saya ke atas menjadi salam komando. Erat sekali. Sambil menggoyang-goyangkan genggaman.

Video itu diunggah Polda Jateng ke Youtube sekitar pukul 03.00 kemarin. Itu berarti hanya beberapa jam setelah Pagelaran Seni Budaya Nusantara di Simpang Lima Semarang selesai. Sampai pukul 17.34 (setelah 17 jam), ketika tulisan ini dibuat, video sudah ditonton 675 kali. Saya sendiri memutar video itu berulang-ulang saking bangganya.

Video itu berjudul Didi Kempot-Pamer Bojo (Cendol Dawet). Lagu utama yang mengiringi video itu sangat familier di telinga masyarakat. Sampai anak-anak TK pun hafal liriknya. Dinyanyikan oleh Didi Kempot, seorang penyanyi yang honornya terus meroket hingga -kabarnya- mencapai Rp 60 juta sekali manggung.

SALAM HANGAT: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi salam komando dengan Kapolda Jateng Irjen Pol Dr H Rycko Amelza Dahniel yang menjadi pembuka video Pagelaran Seni Budaya Nusantara di chan

SALAM HANGAT: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi salam komando dengan Kapolda Jateng Irjen Pol Dr H Rycko Amelza Dahniel yang menjadi pembuka video Pagelaran Seni Budaya Nusantara di chan (SCREENSHOOT YOUTUBE)

Pergelaran itu diselenggarakan bersama Polda Jateng dan Kodam IV/Diponegoro. Selain dihadiri kapolda juga Pangdam Meyjen TNI Mochamad Effendi SE MM dan Gubernur Jateng H Ganjar Pranowo SH MIP. Nyaris Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang penuh penonton. Bukan hanya dijejali warga Semarang, juga warga dari seluruh daerah di Jateng. Itu terlihat dari benar-benar kecilnya yang diacung-acungkan penonton serta bus yang berjajar di sekitar kantor pemprov.

Pangdam, kapolda, dan gubernur tampak sangat antusias. Beliau bertiga dipersilakan naik panggung ketika Didi Kempot menyanyi. Mereka sama-sama mengenakan topi Papua dan membawa bendera kecil merah putih. Ikut menyanyi dan bergoyang. Riang sekali.

Saya berkesempatan menghadiri pagelaran tersebut atas undangan kapolda langsung. Kapolda sendiri yang menelepon saya. Waktu itu Sabtu pagi saya lagi siram-siram taman kantor Radar Semarang. Ada banyak telepon dan pesan WA masuk. Tiga panggilan dari nomor telepon yang tidak saya kenal. Demikian juga empat pesan WA. Ternyata, itu semua dari seorang pejabat Polda Jateng.

”Selamat pagi Pak.... Bapak Kapolda berkenan ingin berbicara dengan bapak. Mohon apabila nanti telepon, Bapak bisa mengangkat,” demikian salah satu pesannya.

Sumpah, saya ngoplok. Nderedek. Seperti disambar geledek. Belum pernah sebelumnya saya mendapat telepon langsung dari Kapolda Jateng Irjen Pol Dr H Rycko Amelza Dahniel Msi.

Buru-buru saya menelepon balik tiga panggilan tak terjawab. Ternyata jawabannya sama dengan isi pesan WA di atas. Pak Kapolda mau menelepon. Tentang apa juga tidak dijelaskan. Saya segera menelepon kapolda tetapi tidak diangkat. Saya kirim pesan WA juga tidak dibalas. Perkiraan saya waktu itu kapolda lagi naik helikopter. Karena di atas kepala sempat ada heli meraung-raung. Biasanya itu heli kapolda yang kantornya berseberangan dengan kantor Radar Semarang.

Tak lama kemudian kapolda menelepon saya menggunakan nomor pribadi. ”Mohon komandan hadir nanti malam, ya,” katanya. Saya langsung menjawab, siap. Sebelumnya sudah ada undangan tertulis dari panitia untuk menghadiri Pegelaran Seni Budaya Nusantara sehingga saya paham. ”Mengenakan pakaian bernuansa merah putih, ya,” pintanya. ”Siap,” jawab saya. ”Topinya nanti dari saya. Topi Papua. Sudah disiapkan,” tambah kapolda.

Saya datang bersama Pemimpin Redaksi Radar Semarang Arif Riyanto beberapa saat menjelang pagelaran dimulai. Kapolda, gubernur, dan pangdam belum kelihatan. Begitu muncul, saya langsung mendekati dan bersalaman. Kapolda menyambut dengan senyum lebar. Beliau mengajak salam komando. Minta fotografer polda mengabadikannya. Gambar itulah yang kemudian dijadikan pembuka video yang diunggah ke Youtube tersebut.

Kapolda adalah penggagas pergelaran itu. Untuk menunjukkan kebhinekaan Indonesia. Seni yang ditampilkan mulai dari Aceh sampai Papua. Ada juga pembacaan puisi oleh santri dari Rembang. ”Kita adalah bangsa yang selalu menjaga kebhinnekaan, menjaga Pancasila, dan kita adalah bangsa yang tidak mau ambyar (bubar, Red),” kata gubernur ketika memberi sambutan.

Pergelaran itu sangat meriah. Semua pejabat yang hadir ikut menyanyi dan menari. Termasuk para kapolres dan dandim. Sampai di panggung kehormatan, kapolda, pangdam, dan gubernur masih terus bergoyang. Bahkan ketika mereka sudah duduk. Ketika kapolda dan pangdam melambai-lambaikan bendera kecil, gubernur mencabut kembali bendera yang diselipkan di topi Papua yang dikenakannya.

Pergelaran semakin menggema ketika lagu ”Sajojo” dinyanyikan dengan penari-penari dari Papua yang mengenakan pakaian adat mereka. Kapolda terpancing. Beliau kemudian mengajak pangdam dan gubernur turun dari panggung. Menari di sela-sela penonton. Berjoget bersama para penari Papua. Luar biasa. Saya tidak pernah melihat pertunjukan seantusias ini sebelumnya.

Nuansa Papua dihadirkan sekaligus untuk menunjukkan bahwa masyarakat Jateng peduli Papua yang belakangan ini lagi hangat dalam pembicaraan. Papua adalah bagian dari NKRI. Seluruh pejabat Jateng menjamin keamanan dan ketenteraman seluruh warga Papua yang tinggal di daerahnya. ”No one can’t hurt Papua. Because we love Papua,” kata kapolda di panggung yang direkam kemudian diunggah dalam Youtube tersebut.

”Papua is part of Indonesia. We Love Papua. We Love Papua. We Love Papua. From Jawa Tengah untuk dunia,” teriaknya yang diikuti para penonton. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia