Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Fakhri Husaini Tampilkan Barongan di Jogja

Target 300 Penonton, saat Tampil 700 Orang Datang

09 September 2019, 07: 55: 46 WIB | editor : Ali Mustofa

KOLABORASI: Fakhri Husaini dan Riska Kahyang tergabung dalam grup kesenian Satulana. Mereka telah sukses membawakan pementasan Ratna Manggali dan Bahula di Yogyakarta.

KOLABORASI: Fakhri Husaini dan Riska Kahyang tergabung dalam grup kesenian Satulana. Mereka telah sukses membawakan pementasan Ratna Manggali dan Bahula di Yogyakarta. (Satulana For Radar Kudus)

Share this      

Fakhri Husaini berhasil mengolaborasikan pertujukan puisi dengan pementasan kesenian barongan. Dalam pementasan itu pria asal Kudus didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Jogjakarta. Pementasan itu dihadiri oleh 700 orang.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus, Radar Kudus

EFEK gitar mulai di atur oleh Fakhri Husaini. Ia memutar beberapa tombol frekuensi. Pada Sabtu (24/08) lalu ia melakukan pementasan di halaman Balai Budaya Rejosari Kudus tanpa memainkan gitar. Dia hanya bermodal suara saja.

SUKSES: Fakhri Husaini dan Riska tampil dalam even puisi dan barongan belum lama ini.

SUKSES: Fakhri Husaini dan Riska tampil dalam even puisi dan barongan belum lama ini. (Satulana For Radar Kudus)

Suara-suara bising atau noise mulai terdengar. Nada tersebut dijadikan latar pertunjukan dramatik puisinya malam itu. Fakhri sapaan akrabnya berhasil menyita perhatian mata penonton yang hadir. Tak heran penampilan seniman lainnya cukup lumrah ditemui. Mereka hanya mengenakan gitar untuk alat pengiring. Berbeda dengan yang dilakukan oleh Fakhri.

Pemuda kelahiran asal Dawe, Kudus, ini begitu berbakat. Selain menciptakan pengiring musik yang nyeleneh dia telah menyelesaikan pentas Ratna Manggali dan Bahula di Embung Langensari Kliteran Jogjakarta pada Agustus lalu. Ia mengadopsi seni tradisi Barongan khas Kediri yang dipadukan dengan performance art dari grupnya Satulana.

“Awal terbentuknya Satulana berangkat dari dasar puisi. Kemudian dipadupadankan dengan tradisi yang diolah secara milenial. Kami menamainya itu sebagai ilustrator puisi di atas panggung,” ungkapnya.

Grup Satulana terdiri dari dua orang. Yaitu Fakhri dan Riska Kahyang. Pengangkatan pentas barongan itu, berawal dari ketertarikan kedua pemuda yang merantau di Jogja melihat barongan bentuknya tak lazim. Fahkri hanya mengetahui bentuk barongan yang berasal dari Kudus saja. Padahal barongan di setiap daerah bentuknya berbeda-beda. Kepala barongan Kediri punya bentuk berbeda dari yang lain. Di bagian kepalanya terdapat corak-corak gambar barong. Serta memiliki gradasi warna.

Dari kertertarikan tersebut Fakhri dan Riska akhirnya mengulik lebih mendalam. Hingga muncul suatu naskah. Dirinya beranggapan, bahwa selama ini masyarakat sulit memahami maksud dari pembawaan tradisi tari barongan. Selanjutnya pentas barongan tersebut dialihkan menjadi pertunjukan puisi. Agar bisa dinikmati orang kampung. Serta mampu dinikmati kaum milineal yang tidak ingin ribet.

“Saya meriset setiap orang-orang mileniel tanya dengan saya apa sih maksud dari tarian barongan tersebut. Dari situ mereka belum tersampaikan,” kata pria berumur 25 tahun ini.

Meskipun demikian Fakhri tidak meninggal ciri khas dari kesenian barongan. Mereka mengemas pertunjukan tersebut menjadi dua babak pementasan. Di babak pertama Fakhri dan Riska menyajikan babak puisi. Kemudian dilanjutkan dengan babak Rampakan atau menyuguhkan keaslian tarian barongan. Total durasi pementasan itu 2 jam 45 menit.

Singkat cerita Fakhri mengangkat dua tokoh asal Bali Ratna Manggali dan Bahula. Dua orang itu merupakan tokoh yang andil dalam kebermulaan kisah barongan dari versi Calunarang. Ia menyampaikan petuah-petuah kisah yang melalui proses riset. Kemudian baru disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk puisi.

Ada sebanyak enam judul puisi yang dibawakan oleh Satulana saat itu. Di antaranya Ratna Manggali Menggugat, Doa Mencekik Sepi, Menatap Jenggala Benih Menanam Bintik Emas di Jarimu, Sekutu Khianat, Mencekik Suara Sendiri, dan Berkah Titik Hitam.

Dalam pementasan kala itu seniman asal Kudus ini beruntung. Lantaran mendapatkan dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Semua biaya pementasan kurang lebih didanai oleh dinas. Persiapan pementasan ini dilakukan Fakhri kurang lebih selama sembilan bulan.

Fakhri merasa pertunjukan tersebut merasa berhasil. Pasalnya melebihi target penonton. Dirinya dan Riska sebelumnya menargetkan 300 orang bakal menonton pertujukannya. Namun yang hadir di malam itu mencapai kurang lebih 700 orang.

“Kami pentas tidak mematok tiket. Pertunjukannya free,” ungkapnya.

Fakhri dan Riska ingin membawa pertujukan puisi dan barongan hingga ke mana-mana. Pasalnya barongan itu belum banyak dimengerti orang. Ia berkeinginan barongan Kediri diakui oleh Unesco. Setelah sebelumnya barongan dari Blora sudah diakui.

“Saya tidak ingin membedakan jenis barongan. Setiap barongan punya spirit yang sama untuk tontonan, kebaikan, dan petuah bagi masyarakat,” ungkapnya. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia