Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Remaja Digital dan Problematikanya

09 September 2019, 07: 39: 19 WIB | editor : Ali Mustofa

Muh Prayetno, S.Ag., M.S.I.; Guru SMAN 1 Kudus

Muh Prayetno, S.Ag., M.S.I.; Guru SMAN 1 Kudus (dok pribadi)

Share this      

REMAJA adalah masa dimana identitas dan jati diri berusaha dicari atau, lebih tepatnya, dibentuk. Erikson dalam Desmita (2008) menyatakan bahwa salah satu tugas perkembangan selama masa remaja adalah menyelesaikan krisis identitas, sehingga diharapkan terbentuk suatu identitas diri yang stabil pada akhir masa remaja. Remaja yang berhasil mencapai identitas dirinya akan memperoleh status yang jelas tentang dirinya. Kegagalan dalam mengatasi krisis ini akan membahayakan masa depan remaja. Sehingga pemilihan tokoh panutan pada remaja akan menjadi penentu keberhasilan remaja tersebut membentuk identitas dirinya.

Eksplorasi dan pembentukan identitas difasilitasi oleh ekspresi diri, refleksi diri, dan feedback dari orang lain (James, 2009). Di dunia nyata, remaja mengekspresikan diri mereka dengan berbagai macam cara. Melalui gaya berpakaian, model dan warna rambut, hobi, mereka berusaha mengatakan kepada orang di sekitarnya mengenai identitas jenis apa yang ingin mereka bentuk. Namun, identitas jenis ini tidak bisa sebebas-bebasnya diekspresikan. Ada norma, aturan, dan agama yang memberi batasan. Anak perempuan yang suka main sepak bola mungkin tidak bisa mengekspresikan keinginannya karena larangan orang tuanya, yang mengatakan bahwa sepak bola hanya untuk anak laki-laki.

Kehadiran internet dengan berbagai macam jenis aplikasi sosial menyediakan “ruang aman” bagi eksplorasi identitas remaja. Internet sebagai ruang subur bagi remaja untuk membebaskan diri dari kekangan fisik, sosial, dan ekonomi di dunia nyata, individu dapat mencoba berbagai identitas di lingkungan yang dianggap memiliki “risiko yang rendah”. Remaja bisa menggunakan berbagai nama gaul, menulis dengan gayanya sendiri, dan menunjukkan kepribadiannya yang tidak bisa ditunjukkan di dunia nyata. Internet memungkinkan lebih banyak bentuk ekspresi diri dan ruang untuk refleksi diri.

Tanggapan dari orang lain di ruang digital bisa membantu pembentukan identitas remaja. Bila di dunia nyata, mereka hanya memperoleh tanggapan dari orang-orang terdekat, di internet, tanggapan bisa berasal dari banyak orang, yang menjadi teman atau pengikut-nya. Dari tanggapan tersebut, remaja dapat melihat bagaimana reaksi orang lain, positif atau negatif, dan dengan mudah dapat mengubah keputusan berdasarkan tanggapan tersebut. Tanggapan online menjadi penguat identitas seseorang. Kebebasan ekspresi diri dengan berbagai macam identitas tidak selalu membawa efek positif. Ketergantungan terhadap tanggapan yang diberikan orang lain juga dapat mengurangi kepercayaan diri remaja untuk memutuskan keputusannya sendiri. Tanpa adanya media baru, identitas diri sudah merupakan sesuatu yang kompleks. Remaja menjadi masa yang paling rawan dalam tahapan perkembangan individu. Media baru menyediakan “bantuan” dalam pembentukan identitas remaja. Bantuan tersebut selayaknya digunakan dengan bijaksana untuk menghindari hal yang tidak perlu.

Privasi berkaitan dengan self disclosure, keterbukaan diri yang dimiliki seseorang, apa yang akan dikomunikasikan seseorang mengenai dirinya sendiri kepada orang lain harus dilakukan dengan bijak, kapan harus disampaikan dan kapan harus dijaga kerahasiaannya. Menurut De Vito (2001), terdapat tiga hal yang mempengaruhi tingkat keterbukaan seseorang: (a) Siapa dirimu. Orang yang pandai bersosialisasi, ekstrovert, berkompeten lebih bisa membuka diri dibanding orang yang kurang bersosialisasi dan lebih introvert. (b) Gender. Perempuan lebih terbuka daripada laki-laki. Perempuan akan lebih membuka diri seiring dengan semakin dekatnya hubungan yang mereka jalin. Laki-laki memiliki topik-topik tabu yang tidak akan mereka bicarakan kepada teman (c). Pendengarmu. Keterbukaan diri cukup terlihat dalam kelompok yang kecil dibandingkan dengan kelompok besar.

Pembicaraan yang mengikutsertakan ketiga masalah tersebut biasanya dilakukan oleh orang-orang dekat, kelompok yang dianggap berhak untuk memperoleh keterbukaan informasi. Hal ini menyebabkan isu tentang privasi di internet menjadi penting. Banyak remaja yang memiliki asumsinya sendiri mengenai publik dari kehidupan digital mereka, sehingga merea kadang menggunakan media dengan berlebihan, Tingkat keterbukaan dari privasi seseorang memiliki dua mata pisau. Di satu sisi, feedback yang didapatkan dari informasi yang dikomunikasikan kepada orang lain dapat berbuah kepercayaan diri atau solusi mengenai sesuatu masalah.

Di sisi lain, bahaya akan informasi yang dicantumkan di kehidupan maya dapat membuat kehidupan nyata kita mungkin terganggu. Alamat lengkap, nomor telepon, foto keluarga yang ditunjukkan di situs jejaring pertemanan dapat membuat publik yang memiliki tujuan jahat bisa dengan mudah melakukan aksinya. Privasi tidak selalu bersinggungan dengan informasi mengenai diri sendiri, melainkan juga dengan orang lain. Kecepatan dan kemudahan sharing informasi seperti ini sering membuat privasi orang lain terganggu. Dan ketika suatu foto sudah diupload, dapat dipastikan kita sudah tidak bisa lagi mengendalikan aksesbilitasnya. Keputusan bijaksana untuk menentukan informasi apa saja yang akan dikomunikasikan dapat membuat remaja terhindar dari masalah fatal yang mungkin dapat ditimbulkan. Keterbukaan diri secara online ini dapat meningkatkan etika privasi remaja dengan melatihnya untuk mempresentasikan diri dan informasi mengenai orang dekat mereka dengan bertanggung jawab. Remaja akan dapat terhindar dari permasalahan dalam penggunaan internet jika menggunakannya dengan bijak dan tidak menabrak etika, privasi, norma, hukum dan SARA. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia