Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Inspirasi

Direstui Berkat Prestasi

06 September 2019, 14: 57: 38 WIB | editor : Ali Mustofa

Erni Yulianti Sofia Afjad

Erni Yulianti Sofia Afjad (SUBEKAN/RADAR KUDUS)

Share this      

TINJU kini tak melulu didominasi laki-laki. Di antara atlet tinju perempuan, ada Erni Yulianti Sofia Afjad. Meski sempat dilarang ibunya, dia tetap menekuni. Hingga membuktikan dengan meraih prestasi. Bukan hanya tingkat lokal, namun juga sampai tingkat nasional.

Berkat keuletannya, perempuan yang baru berusia belasan tahun ini akhirnya direstui. Bahkan orang tuanya bangga dengannya. ”Awal memilih ikut tinju memang sempat ditentang ibu. Masak iya cewek ikut tinju. Gitu kata itu,” ungkapnya.

Alasannya, karena ibunya khawatir jika anaknya itu sampai terluka. Selain itu, tinju selama ini identik dengan laki-laki. Selama ini juga tidak ada atlet tinju perempuan di Blora. ”Tapi lama-kelamaan ibu sepakat, karena saya buktikan dengan berbagai prestasi,” ujarnya.

Erni mengaku, dia mulai menjadi atlet tinju sejak kelas II SMP. Hingga berlanjut duduk di bangku SMA 11 Semarang. Sudah tiga kali mengikuti kejuaraan. Mulai pada 2017 lalu sebagai kejuaraan perdananya di Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jateng dengan mendapatkan medali perak. Kemudian pada 2018 dengan mengikuti kejuaraan nasional (Kejurnas) dan berhasil meraih emas. ”Alhamdulillah kemarin (tahun ini, Red) dapat emas lagi,” ujarnya. Untuk meraih berbagai medali itu, tidaklah mudah. Butuh perjuangan keras.

Dia mengaku, lebih memilih tinju karena selama ini peminatnya sangat sedikit. Bahkan, di Kota Sate hanya ada dua atlet tinju perempuan. Itupun mereka sudah tidak aktif lagi. ”Dulu saya jadi atlet atletik. Setelah saya ditawari pelatih tinju, saya terima tawaran itu,” kenangnya.

Saat pertama mengikuti tinju, dia tak menampik sempat merasa takut. Sebab, ketika mulai latih tanding takut terkena pukulan. Benar saja saat latihan dia terkena pukulan. ”Ya pertama-tama sakit. Lama-kelamaan sudah terbiasa,” ujarnya.

Dia mengaku, sekarang jika terkena pukulan, berarti dia melakukan kesalahan. Sebab dia salah mengatur gerakan. ”Semakin ke sini saya semakin menikmati. Apalagi saat memukul lawan itu sangat menyenangkan,” katanya sambil tertawa.

Berkat kedisiplinan dan perjuanggannya selama ini, dia juga berhasil mendapatkan beasiswa di SMA 11 Semarang yang saat ini menjadi Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Semarang. Saat ini dia terus berjuang untuk mengeluti atlet tinju. ”Yang membuat saya senang adalah bisa mengangkat drajat orang tua saya berkat olahraga,” jelasnya.

(ks/sub/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia