alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarkudus
Home > Rembang
icon featured
Rembang

Abarasi Tambah Parah Bikin Warga Pesisir Pandangan Was-Was

02 September 2019, 12: 18: 58 WIB | editor : Ali Mustofa

MENGANCAM: Sejumlah warga Pandangan, Kragan saat ini tengah dihantui ancaman abrasi yang sudah menggerus lapangan dan merusak talud, Minggu kemarin.

MENGANCAM: Sejumlah warga Pandangan, Kragan saat ini tengah dihantui ancaman abrasi yang sudah menggerus lapangan dan merusak talud, Minggu kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

KRAGAN, Radar Kudus – Warga di pesisir Desa Pandangan, Kragan kini tidak bisa tidur nyenyak memasuki musim timuran. Ini lantaran saat malam hari air laut naik kedaratan. Terparah pada Rabu lalu air hingga menggerus lapangan dan saluran air.

 Hingga Minggu kemarin abrasi ini masih menghantui warga. Lantaran setiap pukul 01.00 dini hari sampai 07.00 air laut naik permukaan. Mereka was-was sewaktu-waktu air masuk rumah. Wajar dampak abrasi dirasakan mereka cukup parah tahun ini.

Dulunya lapangan yang biasa digunakan acara sedekah bumi terus terkikis. Dari jarak 80 meter, kini pelataranya terus menyusut. Air sudah mendekati talud. Jika ini terus terjadi jalan kampung bakal tersapu dan rusak.

Baca juga: Percantik Wajah Kota, Pemkab Bongkar Trotoar di Dua Titik

Selain mengancam infrastruktur jalan. Rumah warga yang lokasinya pinggir laut tidak dipungkiri kemasukan air. Di wilayah RT 05 dan 06 saja sudah puluhan keluarga. Untuk mengantisipasi sementara kini mereka terpaksa membeli batu berukuran besar.

Batu-batu ini ditempatkan mereka disamping rumah. Untuk harganya satu truk dapat mencapai Rp 700 ribu. Jika ada rejeki mereka membeli sampai lima truck. Termasuk bantuan juga datang dari anggota DPRD sekitar. Potret ini sempat dipantau Jawa Pos Radar Kudus di lapangan.

”Kalau parahnya hari Rabu lalu. Kejadian pukul 01.00 dini hari sampai 07.00 pagi surut. Hal ini terus terjadi hingga pekan ini. Air laut terus pasang sampai samping rumah ” Kata tokoh masyarakat setempat Suparno, kemarin (1/9).

Menurutnya air pasang ini membuat pasir terus tergerus. Untuk kerusakan belum terjadi sampai merusak rumah. Lebih 30 meter lebih areal pelataran lapangan sudah terisi air penuh. Biasanya ini digunakan warga untuk hiburan orkes dangdut saat sedekah laut.

Biasanya oleh warga sekitar bulan empat budaya ini digelar. Sehingga warga sekitar saat malam hari waspada. Mereka ada yang rondan. Bahkan tidak jarang dirinya pribadi saat tidur malam ketakutan.

”Terus terang kebutuhan beberapa bulan ini besar. Walaupun tidak punya uang, kami usahakan membeli batu. Membelinya secara mandiri.” Terangnya.

Tujuannya agar tanah tidak langsung ketarik ombak. Ini memang serba dilematis. Satu sisi kebanyakan rumah peninggalan orang tua. Sehingga mereka menempati. Untuk pindah juga membutuhkan biaya tidak sedikit.

Di mana musim timuran semacam ini cukup lama. Hitung-hitunga yang ada ombaknya bisa mencapai 5 bulan. Saat ini sudah berjalan tiga bulan. Padahal ini belum saatnya ombak besar dan memusiki musim lumbung.

Pihak BPBD Rembang sudah melakukan tinjauan di lapangan. Mereka datang untuk memonitor empat RT yang terdampak abrasi. Tepatnya di wilayah RT 05/06/07 dan 08/ RW 04 Desa Pandangan.

“Hari Rabu kami mendapatkan laporan anggota dewan. Begitu atasan mendapatkan laporan, kita diminta langsung mengecek lokasi. Saat dilakukan memang ada kejadian abrasi. Kita langsung koordinasi pihak kepala desa dan kecamatan,” ungkap Kasi Kegawatdaruratan Badan Penangguangan Bencana Daerah, Kabupaten Rembang, Pramujo.

Untuk antisipasi sementara desa melakukan pengurukan batu ukuran besar. Termasuk di ikuti masyarakat secara pribadi. Karena menurut keterangan masyarakat parah. Di situ ada tanah kosong biasanya digunakan sedekah laut tersapu abrasi.

Kejadian ini tidak hanya di Pandangan. Sebelumnya laporan yang masuk BPBD setempat di desa Karangharjo dan Kragan. Namun potensi yang tidak kalah diwaspadai di Kecamatan Sarang dan Sluke.

”Untuk Sarang potensi ini terjadi di Kalipang dan Karangmangu. Untuk Kragan di Tegalmulyo, Pandangan Kulon, Pandangan Wetan, Kragan, Karangharjo, Karanglincak. Lalu di Kecamatan Sluke terjadi di desa Sluke,” imbuhnya. 

(ks/noe/ali/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya