Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Features
Santio, Penggagas Museum Nyah Lasem

Wujud Balas Jasa Ortu, Jadi Jujukan Pegiat Sejarah

27 Agustus 2019, 09: 54: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

PEDULI: Santio menunjukkan koleksi Museum Nyah Lasem kemarin.

PEDULI: Santio menunjukkan koleksi Museum Nyah Lasem kemarin. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

Masyarakat Rembang umumnya hanya tahu satu museum di wilayahnya. Museum RA Kartini. Padahal di salah satu gang di Kecamatan Lasem, sudah berdiri museum yang digagas oleh warga Lasem, Santio. Namanya Museum Nyah Lasem. Tempat bersejarah ini, bahkan sudah diakui Ditjenbud Kemdikbud RI.

SAIFUL ANWAR, Radar Kudus, Rembang

GERBANG rumah dari besi di Jalan Karangturi Gang 5 No 2 itu, tampak sudah berkarat. Dari luar, tampak bangunan di dalamnya sudah tua, lapuk, dan tak berpenghuni. Namun siapa sangka, itulah museum kedua di Kabupaten Rembang. Ya, itu juga satu-satunya museum di Kecamatan Lasem. Namanya Museum Nyah Lasem.

Adalah Santio, penggagas sekaligus pemilik museum berupa rumah kuno berusia lebih dari 100 tahun tesebut. Pria kelahiran Rembang, 22 Januari 1941 itu mengaku, rumah tersebut awalnya disewa oleh seseorang sejak zaman penjajahan Jepang. Singkat cerita, setelah melalui sejumlah proses, rumah kuno itu kembali ke tangan Santio dan keluarganya pada 31 Desember 2015 melalui keturunan si penyewa secara damai.

Berselang satu setengah bulan kemudian, tepatnya pada 14 Februari 2016 rumah kuno itu dibuka untuk umum sebagai museum. Dibukanya rumah kuno itu sebagai museum, sebagai wujud syukur kembalinya rumah tersebut ke tangan keluarganya.

Di museum itu, antara lain berisi surat-surat kuno berbahasa Belanda, alat-alat rumah tangga, uang kuno zaman penjajahan Jepang, alat-alat pembatikan kuno, tiket bus kuno, tiket masuk wisata, dan sejumlah benda kuno lain. Koleksi unggulan di sana yakni foto-foto nyonya yang pernah tinggal di Lasem serta surat kuno perdagangan batik Lasem. Museum ini juga disebut untuk melindungi peninggalan Tionghoa yang ada di Lasem.

”Demi mensyukuri itu, saya cepat-cepat ambil keputusan. Kok kebetulan pemkab memerintahkan setiap wilayah ada pokdarwis (kelompok sadar wisata). Kebetulan Pokdarwis Karangturi dirayakan secara besar-besaran dengan arak-arakan,” terang pria yang kini tinggal di Desa Gedongmulyo, Lasem, Rembang, itu.

Dari arak-arakan itu dia menyuruh belok ke rumah kuno tersebut. Saat itulah dianggap pembukaan museum tersebut.

Saat pertama kali dimasuki warga dalam arak-arakan itu, koleksi memang tak selengkap saat ini. Bapak dua anak itu mengaku mempersiapkannya hanya dalam tempo tiga hari. Rumah kuno calon museum itu dikebut dengan diisi seadanya.

”Kebanyakan barang-barang (koleksi museum) milik keluarga sendiri. Ada juga sumbangan dari family, keluarga bus Indonesia, dan semua pabrik tegel di Lasem. Ada yang sumbangan, ada yang saya minta,” tambah pria berambut dominan putih tersebut.

Santio menegaskan, tujuannya mendirikan Museum Nyah Lasem itu, untuk mensyukuri kembalinya rumah kuno tersebut. Selain itu, juga untuk menghormati peninggalan orangtua, juga kakek-nenek. ”Kalau itu saya segera jual atau dihancurkan, saya rasanya tak bisa membalas jasa mereka. Di situ niat saya,” katanya.

Sedangkan dipilihnya nama Nyah, menurut Santio, secara plural bermakna nyonya-nyonya Lasem. Pengusul nama itu adalah orang-orang yang sangat peduli terhadap Lasem. Untuk itu, dia setuju saja atas usulan tersebut.

Santio bercerita, dirinya memiliki latar belakang sebagai redaksi saat duduk di bangku SMP dulu. Selain itu, dirinya sempat disindir teman-temannya ketika duduk di bangku kuliah. Bahwa, dirinya bakal punya museum.

”Jangan-jangan saya ini harus buka museum. Saya juga ditanya orang-orang , teman di gereja Blenduk (Kota Lama Semarang, Red). Museumnya sudah buka belum?” kata dia mengenang.

Dalam sebulan, museum itu memang belum banyak dikunjungi warga. Menurut Santio, rata-rata sejak berdirinya, setiap bulan hanya ada sekitar tiga pengunjung. Sedangkan terbanyak pengunjungnya sekitar 100 orang dalam satu bulan. Mereka rata-rata mahasiswa yang ingin tahu lebih banyak tentang Lasem atau pegiat sejarah Lasem.

Untuk mengunjungi Museum Nyah Lasem, pengunjung harus lebih dulu menghubunginya untuk mengadakan janji. Sebab, museum itu memang belum berpenjaga tetap. Jaraknya menuju rumah Santio sekitar satu kilo meter. Tiket masuknya gratis.

Meski Museum Nyah Lasem baru seumur jagung dibuka, namun ternyata museum itu sudah masuk dalam Katalog Museum Indonesia jilid I terbitan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan (Ditjenbud) Kemdikbud RI tahun 2018. Ulasan museum itu ada di halaman 410. (*/lin)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia