Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Dari Kata Depan sampai Papua

26 Agustus 2019, 11: 16: 18 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

BAGI banyak orang hal ini remeh. Tidak banyak orang yang memperhatikannya, kecuali orang-orang bergerak dalam bidang kepenulisan secara profesional. Yaitu kata depan dan kata sambung. Banyak kesalahan dalam penulisan. Kata depan di, ke, dan dari masih sering disambung dengan kata di depannya.

Kesalahan lainnya yaitu penulisan kata depan atau preposisi dan kata sambung atau konjungsi pada judul. Sering orang menulis dengan awalan huruf besar. Ketentuan umum memang begitu. Semua kata pada judul diawali huruf besar. Tetapi, ada pengecualian. Yaitu preposisi, konjungsi, dan interjeksi (kata seru).

Sudah satu setengah tahun saya memperhatikan masalah ini di Radar Semarang. Nyaris setiap malam ada saja yang harus dibetulkan. Saya sampai jengkel. Karena itu saya harus cari cara yang jitu. Tinggalkan cara parsial dan lakukan secara sistemik. Mula-mula dibuka sekolah khusus dengan materi preposisi dan konjungsi. Dijelaskan pengertiannya, penggolongannya, dan kata-kata yang termasuk di dalamnya.

Dibelajari saja belum cukup. Karena kata yang termasuk preposisi dan konjungsi itu banyak sekali. Saya mendaftarnya ada 63 kata. Cukup sulit mengingat-ingat. Maka, pagi-pagi Sabtu lalu saya mencetaknya dalam selembar kertas kecil. Saya tempel di semua kompoter redaktur dan layout. Supaya, setiap saat dilihat. Ada yang berterima kasih telah diingatkan. Seperti Ida Noor Layla, koordinator liputan. Mungkin juga banyak yang jengkel.

Itu juga belum cukup. Harus juga dilakukan kontrol setiap malam. Seluruh halaman koran harus dikirim ke grup WhatsApp (WA). Diinstruksikan seluruh karyawan memperhatikan halaman koran itu sebelum dikirim ke percetakan. Mekanisme terakhir adalah dengan memberi sanksi kepada redaktur yang masih melakukan kesalahan.

Persoalan lain yang kelihatan kecil tetapi berdampak luas adalah deadline. Bagi orang awam, batas waktu itu sepele. Tetapi, di perusahaan koran bisa menjadi bencana besar. Sedikit saja terganggu, akibatnya panjang. Mengatasinya tidak bisa parsial. Harus sistemik juga.

Kamis lalu saya harus mengadakan rapat khusus untuk mengatasi deadline di Radar Semarang. Ada persoalan yang menurut kami sangat serius. Koran terlambat cetak. Akibatnya, banyak koran yang sampai di tangan pembaca tidak tepat waktu.

Saya menjelaskannya kepada peserta rapat sambil memperbaiki pompa kolam renang yang rusak. Kerusakannya sistemik seperti halnya keterlambatan koran. Bagian-bagian pompa itu saya boyong ke ruang rapat. Kebetulan ruangannya persis menghadap kolam renang.

Pompa rusak karena saluran airnya tersumbat dakron yang tersedot dari dalam kolam. Itulah dakron yang berhamburan dari bantal saat lomba gebuk bantal memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan RI pada Selasa, 20 Agsutus 2019 lalu. Saluran pompa mampat. Pompanya mejan sampai terjadi over heating. Panas. Seal-seal pompa menjadi bocor.

Mengatasi kerusakan pompa itu harus sistemik. Seluruh sumbatan dibebaskan. Saringannya juga. Termasuk kotoran-kotoran yang menghambat kumparan. Semua seal yang bocor dibongkar. Diganti baru. Semua saya jelaskan dan saya praktikkan di ruang rapat. Memang aneh. Rapat mengatasi deadline sambil memperbaiki pompa yang rusak.

Ternyata peserta rapat lebih mudah memahami. Temasuk persoalan gangguan deadline dan cara mengatasinya. Persoalannya sudah sistemik. Cara mengatasinya pun harus sistemik. Setelah mereka paham, saya tinggal untuk memasang pompa. Arif Riyanto, pemimpin redaksi yang ganti memimpin rapat.

Dia menjadwal seluruh bagian yang berkaitan dengan deadline. Seluruh komponen redaksi mulai dari wartawan, redaktur, dan layouter harus masuk kantor pukul 16.00. Penulisan berita harus diselesaikan secara berjenjang. Demikian juga penggarapan halamannya. ”Halaman terakhir harus sudah dikirim ke percetakan pukul 22.00,” kata Aro, panggilan beken Arif Riyanto.

Keputusan harus dilaksanakan malam itu juga. Nyaris berhasil. Sebelum pukul 22.00 seluruh halaman koran sudah selesai. Sayang, karena masih harus merapikan beberapa hal, sampai di percetakan masih beberapa menit setelah pukul 22.00. Hari berikutnya sampai Sabtu malam tidak ada keterlambatan.

Mengatasi deadline koran secera sistemik itu sudah saya terapkan sejak saya masih di redaksi Jawa Pos di Surabaya. Juga saya terapkan di Radar Kudus. Sampai sekarang masih berjalan dengan baik. Demikian jugalah kiranya mengatasi segala persoalan di segala bidang. Tidak parsial. Harus sistemik.

Sama juga mengatasi persoalan Papua. Dibangunkan jalan tol tidak cukup. Orang Papua butuh kehidupan. Ditingkatkan kesejahteraannya juga tidak menyelesaikan masalah. Orang Papua butuh kemanusiaan. Jadi, harus sistemik. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia