Minggu, 15 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Seni Punya Andil Bentuk Karakter Siswa

22 Agustus 2019, 12: 28: 39 WIB | editor : Ali Mustofa

Moch. Muchlas, S.Pd. M.Pd.; Guru SMA N 1 Kudus

Moch. Muchlas, S.Pd. M.Pd.; Guru SMA N 1 Kudus (dok pribadi)

Share this      

BERANGKAT dari pemikiran bahwa segala proses belajar dapat memperluas cakrawala pemikiran manusia. Literasi seni dalam hal ini, diharapkan memiliki peran dan manfaat sebagai salah satu medium penunjang bagi pengembangan pendidikan karakter berbasis seni dan budaya. Perkembangan seni di masa mendatang sangat dibutuhkan. Meminati seni tidak menjadi wacana atau minat sekelompok orang yang berlatar belakang seni saja. Dalam dunia literasi medium seni entah itu seni rupa, drama, puisi dan semacamnya menjadi salah satu ruang bermain. Belajar memberikan ruang dan gerak kepada anak untuk mengeksplorasikan potensi sebagai sebuah pengalaman belajar yang menyenangkan. Konteks imajinasi dan improvisasi sangat diperlukan. Hal ini dibutuhkan manakala anak mengalami proses pencarian pengetahuan yang meliputi spiritual, moral, emosional, intelektual dan mungkin juga fisik. Seni rupa misalnya, penerapannya pun dalam pembelajaran sangat variatif.

Pada saat mereka membuat karya dan melakukan pertunjukan dibutuhkanlah banyak proses pembentukan watak. Proses mencipta, menganalisis, dan merespon berbagai bentuk lukisan menjadi karakter tiap-tiap siswa sangat beragam. Dengan karya seni rupa yang ditampilkan anak-anak berefleksi dan memperkaya dirinya dengan budaya sekitar. Komunitas dan jaringan sosial juga mereka butuhkan manakala guratan-guratan di kanvas dilakukan.

Sementara itu, asumsi yang berkembang kesenian yang berkembang masih sebatas media hiburan saja. Padahal seni, tanpa disadari telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Jika kita telusuri seni apapun bentuknya punya andil yang besar dalam membentuk karakter siswa. Lewat seni rupa utamanya dalam kajian ini realitas kehidupan bisa dituangkan. Ada suka, duka, makna sosial, gejala alam, dan sebagainya merupakan bagian dari ungkapan perasaan yang mewakili karakter dirinya.

Beranjak dari tulisan ini, penulis lebih menekankan aplikasi seni rupa. Dalam pembelajaran seni rupa secara langsung menerapkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Minimal menerapkan  lima nilai, yaitu nyaman, jujur, peduli, cerdas, dan tangguh atau bekerja keras. Kelima nilai budaya dan karakter bangsa ini dipandang dapat menjadi awal terbentuknya nilai-nilai karakter lainnya.

Penumbuhan karakter siswa misalnya telah penulis lakukan dengan cara melakukan pameran. Tujuannya memberikan kesempatan menunjukkan potensi siswa. Tidak banyak yang tahu kedalaman kreativitas dan bakat siswa. Yang terpenting pameran tersebut bisa meningkatkan kualitas pendidikan karakter untuk mewujudkan siswa yang berkepribadian unggul. Seyogyanya pameran dilaksanakan secara rutin. Pajangan terbaik mendapatkan hadiah. Berbentuk apa pun ini akan menjadi motivasi untuk anak.

Dengan gaya dan bahasanya dalam mengungkapkan ide, akal dan kreativitas siswa akan berkembang. Kegiatan pameran seni yang diikutinya akan menopangnya melakukan kegiatan sosial bermasyarakat. Setelah bermasyarakat terbentuklah kearifan dalam berbudaya. Kearifan budaya merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam, lingkungan sekiartnya juga. Lukisan yang mereka bangun pun bisa beraneka ragam. Mungkin bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, alam dan seisinya, ataupun budaya setempat. Semuanya terhubung secara alamiah dalam komunitas lingkungan sekitar dia berada. Dari sinilah terbangun karakter siswa secara alami.

Harapannya penyelenggaraan pameran seni untuk meningkatkan karakter siswa. Di samping itu menumbuhkan kreativitas karena di dalamnya terbesit pelestarian budaya, ekspresi dan seni. Pameran seni rupa bukan untuk membina anak-anak menjadi seniman, melainkan untuk mendidik menjadi kreatif. Pameran seni yang dirancang sekaligus sebagai aktivitas belajar berkompetisi. Mendidik siswa agar terbina kreativitas sedini mungkin. Pembelajaran seni di sekolah jangan pernah dianggap sebagai beban kurikulum, melainkan menjadikannya sesuatu yang menyenangkan dan punya makna khas. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia