Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Bentuk Karakter lewat Tari Tradisional  

14 Agustus 2019, 08: 09: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Luciana Intan P, S.Pd., M.Pd.; Guru SMA Negeri 1 Jekulo Kudus

Luciana Intan P, S.Pd., M.Pd.; Guru SMA Negeri 1 Jekulo Kudus (dok pribadi)

Share this      

PENGUATAN Pendidikan Karakter (PPK) gencar disosialisasikan oleh pemerintah. PPK digadang sebagai ruh pendidikan bangsa. Sasaran PPK mencakup empat dimensi pendidikan. Olah pikir melalui gerakan literasi. Olah hati dengan penguatan etika dan spiritual. Olah rasa berdasarkan pengalaman estetis. Olah raga wujud koordinasi kinetik anggota tubuh. Konsep PPK selaras dengan tri pusat pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Tri pusat pendidikan yang dimaksud yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat. Sekolah sebagai pusat belajar.

Fungsi tari antara lain sebagai media pendidikan. Pembelajaran tari dapat membantu membentuk karakter peserta didik. Aspek nilai, norma dan ritual tidak terlepas dari sebuah karya tari. Setiap tarian berisi pesan dan moral kebudayaan. Dapat diartikan bahwa pembentukan karakter dilakukan melalui proses apresiasi dan kreativitas tari. Kolaborasi antara pikiran, perasaan dan tindakan dibutuhkan sebagai pemacu.

Nilai utama PPK yaitu religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas. Kelima nilai tersebut merupakan satu kesatuan utuh. Religiositas mencerminkan keimanan terhadap Tuhan YME. Karakter religius dalam pembelajaran tari terdapat dalam tiga aspek. Pertama, bersyukur atas anugerah anggota tubuh yang sempurna.

Kita dapat menari dengan indah dengan menggerakan seluruh anggota tubuh. Kedua, berdasarkan tema tari. Beberapa tarian memiliki tema religi, seperti tanda syukur, persembahan atau pemujaan. Ketiga, proses kreativitas tari. Toleransi, jalinan persahabatan, ketulusan serta tidak memaksakan kehendak antar penari dapat mempercepat proses pembelajaran tari.

Dalam pembelajaran tari, peserta didik diajarkan untuk menghormati keragaman budaya, suku dan agama. Pembelajaran tari dapat dilakukan melalui tahapan apresiasi dan mengekspresikan diri. Kegiatan berapresiasi dapat menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap tari tradisional. Setelah berapresiasi, muncul ketertarikan peserta didik untuk mempelajari tari tradisional. Dengan demikian kelestarian tari tradisional dapat terjaga. Cara berpikir, bersikap dan berbuat peserta didik terhadap kelestarian budaya bangsa merupakan wujud nasionalisme.

Kemandirian peserta didik memperlancar pembelajaran tari. Karakter kemandirian yang muncul antara lain tangguh, pantang menyerah, profesional, kreatif, dan pemberani. Tangguh dan pantang menyerah dalam mempelajari sebuah tehnik gerak tari. Bersikap profesional  dengan melakukan pemanasan sebelum berlatih tari.  Pemanasan penting untuk menghindari cidera otot. Menemukan cara kreatif untuk mengatasi kesulitan saat pembelajaran. Berani mendemonstrasikan hasil belajar.

Karakter gotong royong terlihat melalui metode tutor sebaya. Peserta didik dapat menjalin komunikasi dan persahabatan saat belajar tari bersama. Saling tolong mengatasi kesulitan belajar gerak tari. Saling menghargai keterbatasan daya serap antar peserta didik. Tidak melakukan tindakan diskriminasi terhadap sesama peserta didik. Memupuk empati dan solidaritas agar dapat menguasai tarian bersama-sama.

Peserta didik akan menunjukan keteladanan sebagai wujud integritas. Menjadi warga negara yang baik dengan aktif terlibat dalam pelestarian tari tradisional. Jujur terhadap diri sendiri dan guru. Guru sebagai fasilitator dapat membantu permasalahan peserta didik. Peserta didik juga berlatih menghargai penyandang disabilitas. Sikap keteladanan akan tertanam secara tidak langsung. Contoh, saat menari gerak tari tidak boleh mendahului iringan tari. Nilai keteladanan yang muncul yaitu taat norma dan pandai menahan diri. Sebaliknya, gerak taripun tidak boleh lebih lambat dari iringan tari. Nilai keteladanan yang muncul yaitu kedisiplinan dan tanggung jawab.

Sebagai refleksi, kita patut bercermin pada para penari difabel. Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk tetap berekspresi. Di Thailand, sekelompok penari tuna rungu tetap dapat menyajikan tari Seribu Tangan secara spektakuler. Integritas tinggi, semangat juang, profesionalitas, toleransi, percaya diri, keberanian, kebersamaan dan kreativitas menjadi kunci sukses. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia