Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Reinforcement Motivasi Belajar Mewujudkan Prestasi Gemilang

13 Agustus 2019, 08: 01: 50 WIB | editor : Ali Mustofa

Sri Lestari; Guru SMP 2 Mejobo, Kudus

Sri Lestari; Guru SMP 2 Mejobo, Kudus (dok pribadi)

Share this      

REINFORCEMENT (penguatan) merupakan bentuk penciptaan suasana belajar yang menyenangkan. Bertujuan agar frekuensi tingkah laku positif siswa dapat meningkat, sehingga prestasi belajar semakin meningkat.

Menciptakan motivasi belajar siswa menjadi hal yang penting dikelola oleh guru. Penguatan motivasi belajat dibedakan menjai dua. Pertama, penguatan verbal dengan menggunakan kata-kata (bagus, benar, tepat, dan hebat) serta penguatan verbal dengan menggunakan kalimat pendek (pekerjaan baik sekali, saya senang dengan kerjamu, hebat hasil kerjamu, dan pekerjaan semakin baik). Kedua, penguatan nonverbal berupa mimik dan gerakan badan, penguatan dengan cara mendekati, penguatan dengan sentuhan, penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan, dan penguatan berupa symbol atau benda.

Motivasi adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorong untuk melakukan kegiatan demi tercapainya tujuan. Dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia. Terkandung keinginan yang mengaktifkan, mengerakkan, menyalurkan, serta mengarahkan sikap dan perilaku.

Belajar ditandai adanya perubahan diri seseorang. Ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kemampuan, serta daya reaksi dan daya penerimaan yang ada pada individu.

Menumbuhkan motivasi belajar siswa adalah teknik dalam mengembangkan kemampuan untuk belajar. Guru harus selalu berupaya untuk dapat meningkatkan motivasi belajar, terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar.

Upaya yang dapat dilakukan guru dalam memotivasi siswa berupa; memperluas tujuan yang ingin dicapai; membangkitkan motivasi siswa; menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar; menggunakan variasi metode yang menarik; serta memberi pujian setiap keberhasilan siswa dengan kalimat antara lain: kamu hebat!, kamu cerdas!, kamu pintar!, luar biasa!. Kalimat ini berefek timbulnya rasa senang dan percaya diri, sehingga termotivasi untuk belajar. Selain itu, ada juga memotivasi dengan memberikan penilaian, memberi komentar terhadap hasil pekerjaan siswa, dan menciptakan persaingan dan kerja sama.

Sedangkan motivasi dibedakan menjadi dua. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik yaitu keadaan diri siswa sendiri yang dapat mendorong untuk melakukan tindakan belajar. Motivasi ini lebih bermakna dalam proses pembelajaran. Prinsip utama motivasinya terletak pada kekuatan untuk mendorong belajar secara alami. Mengikat pembelajaran dalam proses pembentukan kepercayaan terhadap diri sendiri. Contoh: siswa belajar karena ingin mendapat ilmu pengetahuan. Sedangkan motivasi ekstrinsik yaitu keadaan yang datang dari luar individu. Contoh: siswa belajar karena besuk pagi ujian dengan harapan mendapat nilai baik, sehingga mendapat pujian dari temannya.

Prestasi belajar sebagai bukti keberhasilan siswa dalam melakukan kegiatan belajar. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan). Siswa akan terdorong untuk belajar manakala mereka menulis motivasi untuk belajar. Yakni, kuatnya kemauan untuk berbuat, jumlah waktu yang disediakan untuk belajar, kerelaan meninggalkan kewajiban atau tugas yang lain, dam ketekunan dalam mengerjakan tugas.

Peningkatan motivasi dalam belajar dapat diidentifikasi dengan beberapa indikator. Antara lain, durasi kecepatan; frekuensi kecepatan; persisten pada tujuan kegiatan; ketabahan, keuletan dan kemampuannya dalam menghadapi kegiatan untuk mencapai tujuan; pengabdian dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; tingkatan aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; tingkat kualifikasi prestasi; dan arah sikap terhadap sasaran kegiatan.

Guru memiliki pengaruh yang luar biasa bagi arah pengembangan pendidikan di Indonesia. Guru mempengaruhi berhasil tidaknya proses belajar. Pendidikan yang baik mampu melahirkan generasi intelektual, bisa mengarahkan kader bangsa serta mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal, memiliki etos kerja, kreatif, dan berbudi pekerti. Pemberian penguatan dalam belajar siswa diharapkan mendorong untuk memberikan respon setiap stimulus dari guru. Mendorong memperbaiki tingkah laku dan meningkatkan kerja.

Kata mutiara ”Barang siapa sungguh-sungguh akan mendapat.” Islam mengajarkan manusia wajib bekerja, berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan meraih kebahagiaan dalam kehidupan. Tak boleh berdiam diri, menganggur, bermalas-malasan tanpa ikhtiar dan usaha.

Hukum III Newton menjelaskan tentang gaya aksi reaksi pada dua benda. Ketika benda pertama mengerjakan gaya (ke benda kedua), maka benda kedua itu akan memberikan gaya (yang sama besar ke benda pertama) tetapi arahnya berlawanan. Ini berarti siswa yang rajin belajar akan mendapatkan ilmu. Sebaliknya siswa yang malas tak akan mendapatkan ilmu. Semakin giat belajar, semakin banyak ilmu yang terserap. Sebaliknya, semaikin malas belajar, semakin sedikit ilmu yang terserap. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia