Minggu, 15 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Satu Jam Bersama Ganjar Pranowo

12 Agustus 2019, 10: 11: 44 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

SEJATINYA kemarin sore setelah Salat Ashar saya ingin menulis tentang kurban. Kebetulan pada Idul Adha kali ini, Radar Kudus dan Radar Semarang memfasilitasi masing-masing 10 karyawan untuk berkurban. Ada yang disembelih di kampung halaman, ada yang dititipkan di pondok pesantren, ada pula yang dipotong sendiri di rumahnya. Jenis kurbannya macam-macam. Ada kambing, kerbau, ada juga sapi.

Ketika lagi berpikir untuk menemukan angle tulisan, tiba-tiba teringat Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Segeralah saya bermanuver. Toh seluruh umat Islam yang salat Idul Adha telah mendengar khutbah mengenai kurban. Khutbah itu pun telah menjadi santapan rohani yang begitu saja berlalu.

Soal Ganjar, sebenarnya tulisan kali ini telah terlambat. Saya bertemu beliau Selasa, 6 Agustus 2019 pekan lalu. Persis di hari wafatnya KH Maimoen Zubair. Ulama karismatik yang menjadi guru bangsa. Ganjar ikut berduka yang mendalam. Dia memiliki kedekatan khusus. Di samping itu, Mbah Moen merupakan ayah kandung Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin (Gus Yasin). ”Saya merasa lebih sebagai anaknya dibanding Gus Yasin,” ujarnya.

Hari Selasa itu sebenarnya saya diagendakan oleh Noor Syafaatul Udhma, redaktur Jawa Pos Radar Kudus, untuk bertemu Plt Bupati Kudus Hartopo. Tetapi, Senin sore mendapat kabar gubernur berkenan menerima rombongan pimpinan Radar Semarang. Tempatnya pun istimewa. Tidak di kantor gubernur di Jalan Pahlawan, tetapi di Puri Gedah, rumah dinas gubernur di Semarang.

Pertemuan sempat mundur sekitar sejam. Tetapi saya malah senang. Bisa melihat-lihat suasana rumah gubernur yang asri dan berseni tinggi. Ada beberapa set meja kursi di ruang tunggu tamu yang terbuka. Saya memilih duduk di kursi kayu panjang. Mejanya lima meter. Terbuat dari kayu jati utuh dengan ketebalan 15 sentimeter.

Lurus di depan saya ada sungai-sungaian di taman. Airnya gemericik. Syahdu. Apalagi banyak benda-benda seni terpajang di sekeliling. Banyak karikatur putra kelahiran Karanganyar, 28 Oktober 1968 itu, tertempel di dinding. Ada juga sepeda antik. Pak Ganjar yang tanggal kelahirannya sama dengan Mbah Moen itu gemar bersepeda.

Sore itu, Ganjar kelihatan seperti anak muda gaul. Usianya delapan tahun lebih muda dibanding saya. Mengenakan hem warna khaki bergaris. ”Anak-anak TK dari mana ini,” sapanya begitu muncul di ruang pertemuan. Candaan itu seketika mencairkan suasana jadi gayeng. Para manajer Radar Semarang yang mengenakan seragam batik tulis biru bermotif gunung ringgit tersenyum. Kami yang berseragam itulah yang diguyonkan sebagai anak TK.

Setelah tahu kalau saya sebagai direktur Radar Semarang dan Radar Kudus, tiba-tiba wajah Ganjar berubah menjadi serius. ”Sebentar, sebentar,” kata anak kelima pasangan Pamudji dan Sri Suparni itu. ”Apa kata masyarakat Kudus tentang bupatinya yang ditangkap KPK?,” tanya Ganjar yang namanya berarti hadiah Sang Pencipta.

Bagi saya, pertanyaan itu sangat menggelegar bagai geledek. Saya yang duduk berhadapan menyerong nyaris tidak siap menangkapnya. Pertanyaan itu mengandung banyak arti. Ada perhatian yang dalam dan kecerdasan yang tinggi. Belum sempat saya menjawab dia mengerucutkan. ”Gambarkan dengan satu kata,” pinta kader PDIP yang menjabat gubernur periode kedua itu.

Setelah diam beberapa saat saya ungkapkan, ”prihatin.” Menurut saya kata itu sudah pas menggambarkan reaksi masyarakat Kudus. Tetapi Pak Ganjar tidak sependapat. ”Kenapa tidak marah,” tanyanya lagi.

Pertanyaan tersebut semakin menunjukkan bahwa gubernur yang memiliki slogan Ora Ngapusi, Ora Korupsi itu, memiliki kecerdasan tinggi. Saya tidak tahu IQ Pak Ganjar. Perkiraan saya di atas superior (120-129). Saya sempat nderedeg dibuatnya. Untung Pak Ganjar segera mencairkan lagi dengan guyonannya. Pak Ganjar memiliki keahlian bisa mengubah mimik seketika dari serius menjadi renyah. Demikian sebaliknya. Dia komunikator ulung.

Pertemuan saya tersebut bukan kali pertama. Ketika mencalonkan diri sebagai gubernur untuk kali kedua, saya juga bersilaturrahim. Kala itu di rumah kontrakan. Beliau sedang cuti dinas. Itulah pertemuan resminya. Yang tidak resmi berkali-kali. ”Lama. Satu jam,” kata pemimpin Redaksi Radar Semarang Arif Riyanto menggambarkan lamanya pertamuan minggu lalu itu. Dia menengok arlojinya.

Kali ini saya mengundang gubernur untuk menghadiri acara Anugerah Radar Semarang September nanti, sekaligus menerima penghargaan. ”InsyaAllah,” jawabnya. Saya juga melaporkan Jawa Pos Radar Semarang ikut mangayubagyo saat HUT Jawa Tengah 15 Agustus nanti dengan terbit khusus 69 halaman (riilnya 72 halaman) sesuai hari jadi. ”Hebat. Radar Semarang tetap eksis,” katanya. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia