Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Tawa Terakhir sebelum Salat Jumat

29 Juli 2019, 09: 29: 28 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

BEBERAPA saat setelah Bupati Kudus M Tamzil diamankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jumat (26 Juli 2019), saya ditanya Diyah Ayu Fitriani, wartawan Jawa Pos Radar Kudus. ”Pak Baehaqi akan bikin cuitan apa,” tanyanya ketika saya mendekatinya di ruang redaksi. ”Pasti banyak orang yang menunggu,” tambahnya sebelum saya jawab.

Saat itu juga sebenarnya saya ingin langsung menulis. Tetapi, tidak ada tempatnya. Ada laporan khusus Hari Jadi Kabupaten Rembang. Halaman Radar Kudus sendiri sudah ditambah sangat banyak. Tambahannya saja 12 halaman. Sabtu lalu, 27 Juli bersamaan dengan berita diamankannya Pak Tamzil, Radar Kudus terbit 20 halaman ditambah 16 halaman nasional Jawa Pos. Karena itu, baru hari ini tulisan saya mendapat tempat seperti yang Anda baca sekarang.

Saya bisa menangkap pertanyaan Ayu. Bahkan, maksud di baliknya. Maknanya sangat dalam. Saya mengenal baik Tamzil. Ketika didatangai KPK, saya menyaksikan. Kebetulan saya berada di sana. Kelihatan wajahnya memerah. Saya katakan kelihatan karena tidak berani menatap langsung. Tidak tega.

Saya sedih. Pak Tamzil sudah pernah tersandung kasus korupsi. Sekarang diduga terperosok lagi ke lubang yang hampir sama. Inilah pelajaran. Manusia tetap manusia. Tidak lepas dari kesalahan dan dosa. Sebaik apapun bisa tergoda. Maka harus hati-hati.

Sebelum anggota komisi antirasuah itu tiba-tiba muncul di kantornya, wajah orang nomor satu di Kota Kretek itu, masih kelihatan berseri-seri. Pemerintahannya berjalan dengan baik. Saya pun memujinya. ”Pak Tamzil kelihatan sehat dan cerah,” kata saya. ”Alhamdulillah,” jawabnya dengan tertawa. Saat itu saya menyalaminya dengan erat. Sambil cipika-cipiki juga. Ternyata itulah tawa terakhir Pak Tamzil sebelum dibawa ke Jakarta untuk pemeriksaan.

Ada banyak tamu yang antre untuk bertemu bupati sebelum Salat Jumat itu. Ada yang dari luar pemkab yang tidak saya kenal. Terlihat beberapa kepala dinas dan asisten yang mengenakan baju putih sebagaimana baju yang saya kenakan bersama para manajer Radar Kudus saat itu. Pak Tamzil juga mengenakan baju putih lengan panjang. Lengkap dengan tanda pangkatnya.

Saya dekat dengan Pak Tamzil sebagaimana dengan kepala daerah lainnya di wilayah Radar Kudus dan Radar Semarang. Ada kerja sama secara kelembagaan. Secara berkala saya dan teman-teman manajer bersilaturrahim. Kebetulan seminggu terakhir ini banyak agenda betemu pejabat, termasuk Pak Tamzil.

Jumat, 19 Juli 2019, bersama bupati dan wabup Pati menyerahkan tropi Duta Wisata, Senin memberikan bunga ucapan selamat Hari Adhyaksa kepada Kajati Jateng, Selasa menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) dengan kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Rabu bertemu wali Kota Salatiga selanjutnya bertemu bupati Wonosobo untuk memberikan ucapan selamat HUT, Kamis sedianya menerima kunjungan pimpinan kejati Jateng tapi batal, Jumat audiensi dengan bupati Kudus, Sabtu memberikan ucapan selamat HUT kepada bupati Rembang (Sabtu pula teragenda membuka pelatihan guru menulis bersama wali Kota Semarang), Senin hari ini, memberikan bunga ucapan selamat HUT kepada bupati Kendal, dan besok silaturahim dengan bupati Pati.

Dengan bupati Kudus saya mempunyai kenangan tersendiri. Antara lain, beliau berkunjung ke Radar Kudus sebelum mencalonkan diri menjadi bupati yang kemudian terpilih untuk kali kedua. Itulah pertemuan kali pertama saya setelah lama sekali tidak berjumpa. Saya ingat betul harinya Jumat.  Setelah Jumatan. Pak Tamzil masih membawa sajadah dan Alquran kecil. Kemudian ketika berpisah (mudah-mudahan tidak dalam waktu yang lama) Jumat juga. Sebelum salat Jumat.

Tentu saya sedih. Pak Tamzil orang yang baik. Dia memiliki visi yang jauh ke depan sebagaimana para kepala daerah lainnya yang sekarang menjabat. Pada 8 Juli lalu, saya atas nama pimpinan Radar Kudus memberinya penghargaan dalam acara Radar Kudus Award. Para bupati se-Pati Raya juga. Penghargaan untuk Pak Tamzil itu tergolong tidak biasa. Yaitu, keberaniannya memberikan tunjangan guru-guru swasta termasuk guru madrasah diniyah. Nilainya lumayan. Rp 1 juta rupiah per guru per bulan.

Sekali lagi, sebaik apapun manusia bisa terperosok juga. Mudah-mudahan seperti pernyataannya, Pak Tamzil tidak terlibat dalam jual-beli jabatan sebagaimana yang disangkakan. Semoga kita semua mendapat petunjuk dari Yang Kuasa. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia