Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Blora

Pelaku Pembunuhan Mayat Terbungkus Karung Ajukan Keringanan Hukuman

23 Juli 2019, 14: 09: 42 WIB | editor : Ali Mustofa

MALU: Polres Blora meringkus tiga pelaku pembunuhan Deni Triatama belum lama ini. Jasad Deni ditemukan di petak 113 KRPH Jati Kusumo, Dukuh Loji Ijo, Desa Kalisari, Kecamatan Randublatung, Blora.

MALU: Polres Blora meringkus tiga pelaku pembunuhan Deni Triatama belum lama ini. Jasad Deni ditemukan di petak 113 KRPH Jati Kusumo, Dukuh Loji Ijo, Desa Kalisari, Kecamatan Randublatung, Blora. (SUBEKAN/RADAR KUDUS)

Share this      

BLORA, Radar Blora - Tiga tersangka pelaku pembunuhan Deni Triatama berharap ada keringanan hukuman. Mereka adalah AN, HD, dan EE. Mengingat mereka masih di bawah umur dan perannya tidak banyak.

Diberitakan sebelumnya, aparat kepolisian berhasil meringkus tiga dari tujuh pelaku pembunuh Deni Triatma. Empat lainnya masih dalam pengejaran. Termasuk aktor utama dibalik pembunuhan sadis tersebut.

Di antara ketiga pelaku pembunuhan masih di bawah umur. Yaitu Ucil (AN), HD, dam EE. Untuk motif pembunuhan, korban dituduh mencuri ponsel. Selanjutnya dibuat mabuk dan akhirnya dilakukan penganiayaan dan meninggal dunia. Pemukulan atau pengroyokan ini dilakukan di wilayah Randublatung, di Taman Randublatanung. Selanjutnya jasad korban dibuang di petak 113 KRPH Jati Kusumo, Dukuh Loji ijo, Desa Kalisari, Kecamatan Randublatung, Blora.

Sugiyanto, Pengacara tiga tersangka berharap mereka mendapatkan keringanan hukuman. Pasalnya, ketiga pelaku ini tidak berperan banyak dalam kasus pembunuhan Deni Triatama. Mereka ikut melakukan kekerasan kepada korban juga karena dipaksa oleh empat tersangka yang saat ini masih buron.

Sugiyanto menambahkan, dalam rekonstruksi kemarin, terlihat ketiga tersangka di bawah umur yang saat ini ditahan oleh Polres Blora. Perannya sangat sedikit. Bahkan sebenarnya ketiga tersangka ini tidak ikut dalam perencanaan dalam penganiayaan Deni. "Dalam proses penganiayaan itu, ketiganya hanya ikut ditanya perihal pencurian yang dilakukan korban, dan mereka mengiyakan. Seperti si ucil (AN) dan si EE itu melakukan kekerasan karena diperintah yang dewasa,'' terangnya.

Sementara HD, meskipun dalam rekonstruksi memiliki peran yang lebih besar dari pada kedua tersangka itu. Sebenarnya, dia juga hanya memiliki sedikit peran. Dia hanya ikut saat di jembatan kecil di tengah sawah dan beberapa kali melakukan pemukulan. '"Lalu saat keesokan harinya, di warung di taman kota hutan Randublatung dia tidak ikut,"tambahnya.

Menurutnya, HD, memilih untuk pulang ke rumah. Dia tidak tahu jika korban sampai meninggal dunia.

Meski begitu, Giyanto tidak mengelak jika ketiga tersangka melakukan kekerasan. Hanya saja tidak banyak. "Seperti AN, EE itu hanya menendang korban di punggung. Kalau dilihat memang itu tidak mungkin menyebabkan orang meninggal,'' jelasnya.

Menurutnya, apa yang mereka bertiga perbuat memang salah, namun, tindak kekerasan yang dilakukan dalam pengaruh tersangka yang sudah dewasa. ''Mungkin saja ketiga tersangka ini dalam posisi tertekan,'' bebernya.

Sehingga ketiga tersangka ini harus ikut menjadi tersangka dan ditahan. Karena mereka itu tahu ada kekerasan tapi diam saja. Dan ada perbuatan pidana tidak melaporkan. "Bahkan motor milik AN digunakan oleh tersangka dewasa untuk membuang jenazah korban. Untuk itu, hak perlindungan anak akan dia perjuangkan dalam persidangan nanti,"tegasnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, pembunuhan ini sudah direncanakan oleh para tersangka. Untuk mencari pengakuan tersangka, sehingga dibuat mabuk dan dipukuli bersama-sama. Sebelum dipukuli dibuat mabuk terlebih dahulu. Berkat penangkapan ketiga pelaku kemarin, pihaknya juga berhasil mengamankan sepatu korban, sepeda motor yang digunakan untuk mengangkut korban, baju korban, celana korban, daun yang ada bercak darah korban serta dua buah handphone.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, akan tetap diproses sesuai dengan ketentuan hukum perundangan yang berlaku. Pelaku akan dijerat dengan undang-undang perlindungan anak dan akan dijuntokan Pasal 130 KUHP Tentang Penganiayaan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. 

(ks/sub/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia