Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Ini Alasan Mengapa Objek Wisata Kajar Belum Dibuka untuk Umum

23 Juli 2019, 10: 12: 05 WIB | editor : Ali Mustofa

WISATA: Wisata ini berada di sekitar hutan pinus yang berada di Desa Kajar, Dawe. Saat ini wisata ini belum umum karena terkendala izin perhutani.

WISATA: Wisata ini berada di sekitar hutan pinus yang berada di Desa Kajar, Dawe. Saat ini wisata ini belum umum karena terkendala izin perhutani. (PEGIAT WISATA KAJAR FOR RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS, Radar Kudus Desa Kajar, Dawe, Kudus memiliki potensi wisata sejarah, alam, dan religi. Di area alas Dowo, di salah satu titik sungai Satak terdapat batu yang diduga prasasti peninggalan Telingsing. Selain itu juga terdapat danau di atas bukit. Makam ulama penyebar Islam masa lalu juga ada di sini. Sayang, prasasti, dan danau tersebut belum dibuka untuk umum. Sebab hingga kini belum memiliki izin dari perhutani.

Hal ini diungkapkan oleh Sugeng, salah satu penggerak wisata Desa Kajar. Jika dilihat sekilas, batu yang diduga prasasti itu seperti batu sungai pada umumnya. Ukurannya sekitar tiga meter. Tapi jika dilihat saksama terdapat ukiran seperti tulisan Tiongkok. Diduga peninggalan Kiai Telingsing. Sugeng mengatakan, belum ada penelitian yang khusus yang membahas lebih rinci tentang batu ini.

Di daerah ini juga masih terdapat makam tua, batu-batu alam, langgar bubrah, danau di atas bukit atau tlogo jati, dan destinasi sendang-sendang.

BATU BERSEJARAH: Terdapat batu berukiran tulisan tiongkok di Sungai Satak, Kajar, Dawe, Kudus. Batu ini diduga prasasti peninggalan Kiai Telingsing.

BATU BERSEJARAH: Terdapat batu berukiran tulisan tiongkok di Sungai Satak, Kajar, Dawe, Kudus. Batu ini diduga prasasti peninggalan Kiai Telingsing. (PEGIAT WISATA KAJAR FOR RADAR KUDUS)

Sugeng tergabung dalam penggerak wisata Kajar. Jumlahnya ada 10 anggota. Mereka kerap mengantarkan peziarah menuju makam tua yang ada di sekitar tempat itu. ”Itu (makam,Red) yang babat alas Mulyo. Katanya lebih tua dari Raden Umar Said,” ujarnya. Untuk menuju tempat ini harus berjalan 1,5 kilometer.

Kelompok penggerak wisata ini membuka jasa tracking yang selama ini dilakukan secara mandiri. Mereka belum membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Untuk mengembangkan jalan wisata, masih terkendala tanah yang merupakan milik perhutani. Sehingga menghambat kegiatan. Sugeng dan kelompoknya juga belum berani mematok tarif untuk wisatawan.

”Karena belum memiliki izin. Nanti kalau ada resiko di jalan yang nanggung siapa. Selama ini ya hanya mengantarkan peziarah saja,” ungkapnya. Ia juga menceritakan masalah ini kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus. Namun belum menemukan solusi.

Menanggapi hal ini Plt Kepala Disbudpar Kudus, Kasmudi mengimbau agar kelompok penggerak wisata Kajar untuk mengomunikasikan lebih lanjut kepada Disbudpar yang merupakan sebuah instansi yang dirancang untuk perkembangan wisata. ”Kami akan melayani dengan baik,” ujarnya. Baru-baru ini pihaknya juga sudah mempelajari perilaku wisatawan di sekitar wisata Colo, untuk mendapatkan pandangan langkah ke depan dalam pengembangan pariwisata. Ia juga pernah mengkomunikasikan terkait perizinan di perhutani. ”Izin itu tidak perlu ke Jakarta. Katanya KPH sini bisa mengizinkan. Sehingga lebih nyaman,” jelasnya. (vah)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia