Minggu, 15 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Belajar Menulis di Sanggar Seni Lukis

22 Juli 2019, 08: 39: 19 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

SUDAH 34 tahun saya menjadi wartawan. Tapi, rasanya masih perlu terus belajar menulis. Lebih-lebih karena jurnalistik berkembang seiring perubahan zaman. Maka ketika kemarin mendapat informasi adanya pelatihan menulis esai, saya buru-buru mendaftar. Biayanya Rp 100 ribu untuk dua sesi teori dan praktik.

Saya tahu ada pelatihan itu secara kebetulan melalui salah satu grup WA. Waktunya sudah mepet. Pelaksanaan pukul 10.00. Sedangkan info saya dapatkan pukul 08.35. Tempatnya jauh lagi. Di Dusun Semambung, Desa Capang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Di google maps jaraknya 67 kilometer dari rumah saya di Sidoarjo.

Tidak ada keterangan lebih lanjut. Tapi, karena butuh, saya mencari informasi. Penyelenggaranya Komunitas Susatra Nusantara didukung Omah Padma. Melalui Google saya temukan, Rumah Padma adalah sanggar budaya dan pendidikan berbasis lingkungan. Bagi saya menarik. Belajar menulis di sanggar seperti pelukis.

Sanggar itu dibangun di atas tanah yang sangat luas. Sekitar 3.000 meter persegi. Tetumbuhannya rimbun. Lokasinya di kampung. Dari jalan raya Surabaya – Malang harus melalui jalan kampung tiga kilometer. Saya membayangkan betapa asyiknya berlatih menulis di sana.

Di sanggar tersebut terdapat rumah induk yang dipergunakan sebagai galeri. Yaitu ruang pamer lukisan karya Yoes Wibowo. Seorang pelukis realis yang belakangan merambah aliran impresif, ekspresif, dan abstrak. Lukisannya banyak. Saya sempat malu pada diri sendiri ketika tahu tembok yang saya sandari ternyata tertempel lukisan di kanvas. Ada juga gazebo yang dipergunakan untuk belajar anak-anak, baik melukis maupun bahasa.

Saya sempat ditolak untuk mengikuti pelatihan menulis esai tersebut. Wina, istri Yoes Wibowo, yang menerima telepon saya mengatakan, pendaftaran sudah ditutup. Peserta genap 30 orang. Lagi pula apa saya bisa mencapai lokasi saat acara dimulai?

Saya ngotot mendaftar meskipun datang terlambat. Setelah telepon ditutup dia mengirim pesan WA. “Ada satu orang yang membatalkan diri,” ujarnya. Saya lega. ‘’Silakan kalau mau. Ngebut ya,’’ kata pelaksana pelatihan itu. Karena mepet, saya tak sempat merapikan diri. Hanya mengganti kaos dengan baju. Celana hitam tetap yang saya pakai ke pasar pagi kemarin. Demikian juga sandal jepit hitam.

Sesuai instruksi saya pacu motor cukup kencang. Tangan terasa keder. Sesekali geringgingen. Kalau melewati jalan tidak rata terasa seperti melayang. Entah berapa kecepatannya. Speedo meternya mati. Perasaan sudah amat kencang. Maklum usia sudah 59 tahun. Tak lagi muda. Sepeda motor Yamaha Vega yang saya naiki juga tua.

Kalau menurut Google Maps, saya yang berangkat dari rumah pukul 09.10 sampai di lokasi pukul 10.36. Perjalanan 67 kilometer membutuhkan waktu 1 jam 26 menit. Kenyataannya saya tiba pukul 10.46. Sesi pertama sudah berlangsung separo. Tidak masalah.

Acara berlangsung sederhana. Tidak ada backdrop seperti kebanyakan acara. Pemateri menggunakan laptop. Proyektor disorotkan ke tembok. Ruangannya menggunakan tembok terbuka. Namun ada exhouse fan yang menempel di sudut tembok. Suguhannya pohong dan ubi talas godog serta pisang goreng. Minumannya teh dan kopi. Saya ambil kopi, pohong, dan ubi talas. Enak. Itu memang kesukaan saya.

Pesertanya ternyata tidak sampai 30 orang. Saya menghitung ada 23 orang termasuk Bu Wina di ruangan dan satu di luar menjaga buku tamu. Di antara peserta ada guru, aktivis LSM, dan penulis. Salah seorang peserta, Yetti, pernah menjadi wartawan Jawa Pos. Dia rekrutan saya ketika saya menjadi kepala koordinator liputan.

Karena terlambat saya mengambil tempat paling belakang. Belum sampai bokong menempel di lantai dengan rapi pemateri menyapa. “Mohon izin komandan,” katanya. Dia adalah Doan Widhiandono, redaktur senior di harian Jawa Pos. Saya kenal betul. Dia pernah menjadi anak buah saya ketika saya masih berkantor di Graha Pena Surabaya. Tulisannya sangat bagus. Detail, runtut, dan enak dibaca.

Selama pelajaran berlangsung saya berkali-kali menunduk. Khawatir Doan repot. Lebih-lebih ketika dia memandangi saya. “Bikin grogi saja komandan,” ujarnya setelah menyalami saya begitu sesi pertama selesai.

Meski pernah menjadi pimpinannya, saya tetap serius mengikuti pelajaran yang dia sampaikan. Bagi saya siapapun bisa menjadi guru yang baik. Saya pun berusaha menjadi murid yang menghagai gurunya. Tidak ada orang berilmu yang sempurna. Saya mempercayai petuah jangan pernah merasa lelah menuntut ilmu bila tidak ingin tergilas oleh ilmu itu sendiri.

Sayang, saya tak bisa mengikuti materi sampai akhir yang direncanakan selesai pukul 15.00. Saya harus drop out setelah sesi pertama. Bahkan tidak ikut makan siang. Sore saya harus bersiap berangkat ke Semarang. Hari ini ada agenda untuk menyerahkan bunga ucapan selamat Hari Adhyaksa kepada Kajati Jateng di Simpang Lima Semarang.

Saya tidak kecewa meskipun tidak bisa praktik. Sesedikit apapun ilmu yang saya terima pasti akan berguna. (hq@jawapos.co.id)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia