Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Blora

Tersangka Pembunuhan Mayat Terbungkus Karung di Hutan Tidak Naik Kelas

17 Juli 2019, 10: 59: 36 WIB | editor : Ali Mustofa

Tersangka Pembunuhan Mayat Terbungkus Karung di Hutan Tidak Naik Kelas

BLORA – Pembunuhan Deni Triatama, 16, warga Kelurahan/Kecamatan Jepon, Blora beberapa waktu lalu sempat menyesakkan dada. Sebab, baik korban dan pelaku yang ditetapkan sebagai tersangka masih di bawah umur.

Bahkan, salah satu di antaranya pelakunya, Ucil masih duduk di bangku kelas VIII salah satu SMPN di Kecamatan Jepon. Tahun ini, dia juga tidak naik kelas. Sehingga tetap mengulang di kelas VIII. ”Karena berbagai pertimbangan, dia (Ucil, Red) tidak kami naikkan. Salah satunya karena tingkat kehadiran,” ucap kepala sekolah tempat Ucil berada kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Dia menjelaskan, sebenarnya Ucil merupakan siswa pindahan dari sekolah sebelah. Namun alasannya pindah, dia tidak mengetahui. Yang jelas, saat dia menjabat sebagai kepala sekolah, Ucil sudah menjadi siswa di sekolahnya. ”Saya baru enam bulanan di sini. Orang tua juga sudah kami beritahu kalau anaknya tidak naik kelas,” imbuhnya.

Dia mengaku, orang tua Ucil kemarin juga datang ke sekolah untuk meminta surat keringanan bagi anaknya. Namun, karena pihak sekolah belum mendapat surat resmi dari kepolisian atas status anak didiknya, dia tidak bisa memberikan surat tersebut. ”Saya anggap ini masih kabar berita. Belum ada pemberitahuan atau surat resmi dari kepolisian atas status Ucil. Sehingga belum bisa memenuhi permintaan keluarga,” akunya.

Sementara itu, Uslifati, ibu Ucil mengaku, hingga saat ini masih tidak percaya anaknya melakukan pembunuhan tersebut. Sebab, anaknya dikenal tidak tegaan. ”Saya tidak percayanya, isunya ikut membunuh. Omongannya yang blak-blakan. Tapi tidak mentalanan (tidak tegaan). Tahu kucing di-sadui (ditendang) bapaknya saja, dia marah. Tidak tega melihatnya. Kasihan sama kucingnya,” ucapnya.

Menurutnya, sebenarnya anaknya tersebut sudah banyak perubahan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, hampir setiap hari anaknya itu dinasihati agar tidak lagi sering keluar dan kumpul dengan teman-temannya.

Dia berharap, apa yang terjadi saat ini bisa menjadi pelajaran dan hikmah bagi anaknya. Selain itu, dia terus berdoa agar anaknya selalu diberikan ketabahan, kesehatan, dan menjadi anak yang saleh. ”Saat dijenguk, bilang sama bapaknya untuk didoakan terus-menerus. Dia nangis terus,” ucapnya.

Saat ini, Ucil masih mendekam di tahanan Polres Blora. Kemarin siang, ayahnya datang ke polres untuk menjenguk. ”Tidak ada orang tua yang ingin anaknya sepeti ini, Mas. Mohon doanya, Mas. Semoga semuanya baik-baik saja,” harapnya.

Diketahui bersama, aparat kepolisian berhasil meringkus tiga dari tujuh pelaku pembunuhan Deni Triatama. Yakni Ucil (AN), HD, dan EE. Ketiganya masih di bawah umur. Mayat korban ditemukan di dalam karung di hutan. Empat pelaku lain, masih dalam pengejaran. Termasuk aktor utama di balik pembunuhan sadis tersebut.

Untuk motif pembunuhan, korban dituduh mencuri HP. Selanjutnya, korban dibuat mabuk dan akhirnya dilakukan penganiayaan hingga meninggal dunia. Korban kemudian dipukuli atau dikeroyok di Taman Randublatanung. Setelah meninggal, mayatnya dibuang hutan petak 113 KRPH Jati Kusumo, Dukuh Loji Ijo, Desa Kalisari, Kecamatan Randublatung.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, pembunuhan ini sudah direncanakan oleh para tersangka. Dari penangkapan ketiga pelaku, polisi mengamankan sepatu korban, sepeda motor yang digunakan untuk mengangkut korban, baju korban, celana korban, daun yang ada bercak darah korban, serta dua unit HP.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, para pelaku akan tetap diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Pelaku akan dijerat dengan undang-undang perlindungan anak dan akan dijuntokan Pasal 130 KUHP tentang Penganiayaan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Sementara itu, Ucil salah satu pelaku mengaku, dia ikut membuang sepatu korban. Dia juga sempat ikut mengangkat korban. Tepatnya bagian kaki. Namun dia memastikan tidak ikut menganiaya korban. Juga tak ikut mengarungi korban dan membuangnya. ”Saya tidak tahu siapa yang mengarungi. Saya tidak ikut memukul,” ucapnya.

Dia mengaku menyesal atas kejadian tersebut. Apalagi korban merupakan teman dekatnya. ”Menyesal, Pak. Saya menyesal,” ucapnya. 

(ks/sub/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia