Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Menuju Panggung Internasional

15 Juli 2019, 09: 41: 18 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

AKHIRNYA gelaran yang ditunggu-tunggu itu tiba. Bukan hanya oleh masyarakat Semarang, tetapi masyarakat Jawa Tengah dan masyarakat Indonesia. Yaitu Motocross Grand Prix yang akrab disebut MXGP. Ini adalah even internasional yang digelar di Semarang.

Saya ikut menunggu lomba balap motocross yang paling bergengsi itu, meskipun Tony Cairoli absen.  Dia adalah pembalap Red Bull KTM De Carli Factory Racing yang telah menjuarai sembilan kali pertandingan. Tony disebut-sebut sebagai Valetino Rossi-nya MotoGP.

Saya ingin melihat langsung Delvintor Alfarizi, Diva Ismaya, Aldi Lazaroni, dan Farhrodjie Farhan Hendra. Mereka adalah empat crosser Indonesia yang berlaga di ajang internasional itu. Sayang, ketika sesi pertama berlangsung Sabtu kemarin saya harus menggembleng sendiri 27 wartawan Radar Semarang dan Radar Kudus di Pegunungan Dieng, Wonosobo.

Saat itu saya berharap bisa menyaksikan sesi kedua yang merupakan puncak balapan. Kebetulan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi melayangkan undangan untuk menempati tribun VVIP. Hati berbunga-bunga. Sayang juga, Minggu kemarin itu saya harus ke Surabaya.

Semula banyak orang yang meragukan MXGP bisa digelar di sirkuit BSB Mijen, Semarang. Itu adalah ajang balap motocross paling bergengsi. Diperlukan sarana dan prasarana kelas internasional. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi tidak menjawab dengan kata-kata. Tetapi, mewujudkan semua semuanya.

Sirkuitnya berstandar internasional. Aksesnya bagus. Pendukungnya telah lengkap. Semarang telah memiliki bandara internasional yang sekarang lebih baik dibanding Bandara Juanda di Sidoarjo (sering disebut di Surabaya). Hotel sudah tidak diragukan lagi, baik kecukupannya maupun kelasnya.

Kawasan Mijen, tempat sirkuit tersebut berada, telah menjadi kota baru. Kelompok Ciputra membangun Bukit Semarang Baru (Sering disebut BSB City) dengan lahan 1.000 hektare yang sangat bergengsi. Itu adalah kota satelit terbesar di Semarang. Aksesnya telah didukung Jalan Jrakah-Ngaliyan-Mijen, Jalan Manyaran-Mijen, serta Mijen-Mangkang.

BSB City akan menjadi magnet perkembangan kota selanjutnya. Di sana telah tinggal orang-orang berduit di kawasan Graha Taman Pelangi (GTP), Graha Taman Bunga (GTB), dan Puri Arga Golf (PAG). Kelak juga akan menjadi kawasan bisnis (central business district).  Kawasan itu semakin menarik lantaran berdekatan dengan waduk Jatibarang yang telah disiapkan lahan 300 hektare untuk obyek wisata.

Kini Semarang telah mulai menunjukkan keberimbangannya antara bawah dan atas. Bila keduanya berjalan beriringan bisa segera mengejar ketertinggalannya dengan Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Apalagi setelah Gunung Pati, satu kawasan daerah tinggi lainnya, juga terbangun.

Suatu saat saya sengaja berkeliling di Gunung Pati dan Mijen. Secara umum suasananya masih alam perdesaan. Tetapi, sudah banyak pemandangan kota metropolitan di kedua kawasan itu. Di pusat kota Gunung Pati, misalnya, sudah ada trotoar yang nyaman untuk berjalan kaki. Entah dipakai atau tidak, itu bukti komitmen pemerintah membangun wilayahnya.

Gunung Pati sudah menjadi destinasi wisata. Durennya yang terkenal dengan monti (montong Gunung Pati) menjadi buruan masyarakat setempat maupun luar daerah. Masih banyak potensi alam lainnya yang belum terjamah.

Memang tidak mudah. Semarang terdiri atas dua bagian. Tipologi alamnya berbeda. Semarang bawah yang menjadi pusat bisnis dan pemerintahan selama ini menjadi langganan banjir. Semarang atas, terutama Mijen dan Gunung Pati, masih kental dengan desanya yang di beberapa tempat rawan longsor. Inilah tantangan bagi wali kota dan pejabat-pejabat lain Kota Semarang.

Sekarang Semarang bawah juga semakin menarik. Belum lama wali kota meresmikan hasil penyulapan kawasan kota lama dari kota mati menjadi menjadi kawasan bisnis dan wisata yang ramai. Tinggal membuat lebih cantik lagi dan asri dengan menggalakkan penghijauan, kelemahan yang dimiliki Semarang selama ini. Saya yakin wali Kota Semarang sekarang bisa. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia