Sabtu, 14 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Peran Guru BK Pada Generasi Milenial

13 Juli 2019, 10: 19: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

Fitri Juniati; Guru SMAN 1 Bae

Fitri Juniati; Guru SMAN 1 Bae (dok pribadi)

Share this      

ISTILAH generasi milenial sekarang ini memang akrab kita dengar. Generasi ini dikenal sebagai generasi pengguna teknologi. Hidup dalam dunia yang dilengkapi oleh perlengkapan elektronik dan jaringan online. Oleh karena itu sebagian besar bersosialisasi lewat daring. Mungkin kita langsung teringat pada diri sendiri dan siswa sekarang yang tidak pernah lepas dari gadget/handphone. Kemajuan teknologi telah mengubah tingkah laku siswa sekarang. Berbagai perilaku siswa yang unik dan menarik. Baik yang bersikap positif maupun negatif. Perilaku yang demikian banyak ditemukan khususnya di dalam lingkungan sekolah.

Dalam segi positif siswa dapat dengan mudah mengakses informasi secara cepat. Dapat menggunakan teknologi dengan mudah. Menjadikan siswa lebih aktif, kreatif dan inovatif.  Mampu mengembangkan potensinya untuk meraih prestasi baik akademik maupun non akademik.

Banyak juga siswa yang menjadi korban dampak negatif dari era millennia. Antara lain; kecanduan gadget. Banyak waktu yang terbuang hanya karena terlalu asyik dengan teknologi. Kurang bersosial dengan lingkungan sekitar. Penurunan moral siswa dikarenakan banyak konten-konten didunia maya yang kurang mendidik. Hal tersebut  mengakibatkan siswa dapat terhambat dalam proses pembelajaran di sekolah.

Guru BK memiliki peran sentral dalam mengembangkan potensi siswa. Mendukung perkembangan kognitif, sosial dan kepribadian siswa. Menjadi salah satu komponen pendidikan yang memiliki tanggung jawab terhadap perilaku moral dan sikap siswanya. Membimbing siswa tidak menyalahi aturan yang ada. Melakukan pencegahan dan pendampingan terhadap siswa. Dalam membantu mengatasi masalah siswa, guru BK perlu bekerja sama atau berkolaborasi dengan berbagai pihak. Antara lain; wali kelas, guru mapel, kepala sekolah serta orangtua.

Dalam membina dan mengarahkan siswa, guru BK sering mengalami banyak kendala. Misalnya sarana dan prasarana pendukung yang kurang. Jam pertemuan tatap muka yang hanya 1 kali dalam seminggu. Kurang kerja sama antar personal pelaksana layanan bimbingan di sekolah. Orangtua yang tidak dapat bekerja sama dengan pihak sekolah, yang dapat menimbulkan hubungan yang kurang baik. Contohnya: diberitakan di televisi, orang tua yang tidak terima anaknya dipotong rambutnya oleh guru.

Selain itu guru BK sering kali mengalami penolakan dari siswa. Masih banyak yang beranggapan siswa yang dipanggil guru BK adalah siswa yang bermasalah. Menganggap guru BK sebagai polisi sekolah. Siswa merasa bimbingan dan arahan yang diberikan tidak efektif, ketinggalan jaman atau kurang kekinian.

Salah satu cara yang dapat dilakukan guru BK agar dapat diterima oleh siswa generasi milenial adalah dengan mengembangkan resiliensi. Resiliensi adalah kemampuan seseorang agar dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Tetap teguh dalam situasi sulit agar dapat mengatasi dan menghadapi berbagai permasalahan. Resiliensi tersebut dapat menambah kompetensi guru BK dalam memahami masalah-masalah siswa. Baik masalah pribadi, sosial, belajar, dan karier. Orang yang memiliki resiliensi tinggi akan lebih mudah mengatasi permasalahan hidup.

Dengan kompetensi yang dimiliki, siswa lebih percaya dan senang hati berkonsultasi dengan guru BK. Dapat menerima arahan dan bimbingan dari guru. Tetapi harus memperhatikan nilai dan norma yang harus digunakan dalam mengarahkan dan membimbing siswa agar tidak salah jalan.

Guru BK sebagai guru yang menyenangkan, ramah dan memahami siswa. Kekinian, mengerti trend anak muda dan memahami teknologi namun tetap berpegang teguh pada nilai dan norma dirinya. Pada akhirnya tidak ada lagi yang namanya polisi sekolah namun diganti dengan sahabat para siswa. Sehingga siswa dapat menuju berkembangan secara optimal. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia