Minggu, 17 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Jamari, Sekretaris Komisi D DPRD Pati

Lincah Main Ketoprak, Tekankan Alur Cerita Dibanding Sisi Hiburan

11 Juli 2019, 16: 02: 55 WIB | editor : Ali Mustofa

Jamari, Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Pati, yang juga pemerhati seni budaya di Kabupaten Pati.

Jamari, Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Pati, yang juga pemerhati seni budaya di Kabupaten Pati. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Share this      

Di tengah perkembangan zaman, ketoprak mendapat tantangan. Sisi hiburan menjadi yang banyak diminati. Sebagai pecinta ketoprak, Jamari mendorong sisi alur cerita untuk kembali jadi yang utama. Agar tontonan tetap menjadi tuntunan.

ACHMAD ULIL ALBAB, Pati

SELEPAS Isya’, seperangkat gamelan mulai mengalun. Suara lembut sinden melengking indah. Memecah keramaian alun-alun belum lama ini. Pelataran pendapa semakin padat dijejali penonton.

Malam itu sedang berlangsung pentas ketoprak yang tak biasa. Para pemainnya selain seniman ketoprak, adalah para pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pati. Sejumlah kepala dinas dan juga anggota DPRD Kabupaten Pati.

Lakon yang dimainkan adalah Babat Bumi Pati serial Geger Kedung Kali Telo. Berkisah tentang masa lalu Kadipaten Pati. Jamari, memainkan peran sebagai Baron Skeber. Seorang pelaut dari tanah Eropa.

Meskipun bukan asli seniman ketoprak, Jamari tampak sangat luwes memainkan perannya tersebut. Tak terlihat raut muka grogi. ”Ya sudah mulai menikmati. Jadi asyik saja ikut bermain ketoprak,” terang politisi PDI Perjuangan yang juga gemar olahraga sepakbola dan futsal ini.

Jamari memang sudah cukup luwes untuk urusan bermain sandiwara kolosal ini. Total sudah 3 kali, pria yang juga tokoh nelayan Juwana ini ikut bermain peran dalam pentas ketoprak pejabat.

Selain itu, Jamari juga sempat menjadi pemeran Sunan Kudus dalam film kolosal “Saridin”. Tokoh nyentrik dari Bumi Landoh Kayen yang sangat legendaris kisahnya di Kabupaten Pati tersebut.

”Kalau memainkan peran sudah enak. Yang masih sulit itu dalam penuturan bahasa. Bahasa Jawa sehar-hari dengan di panggung ketoprak kan beda. Jadi masih belepotan,” katanya. Ketertarikan Jamari di dunia kesenian seperti ketoprak ini merupakan buah dari apa yang sering dilakukannya sejak kecil.

Waktu kecil bersama bapaknya dia sering mendatangi pentas-pentas kesenian tak hanya ketoprak saja. Wayang, tayub dan lainnya. Tiap ada kegiatan semacam sedekah bumi, Jamari selalu meluangkan waktu untuk menonton. Dari sana kecintaannya terhadap kesenian terutama di Kabupaten Pati ini tumbuh dan kini menjadikannya peduli untuk nguri-uri kekayaan budaya tersebut.

Namun, ada kegelisahan yang berkecamuk dalam hatinya. Jamari merasa suguhan kesenian semacam ketoprak sudah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya saat dia masih kecil. Ada semacam pergeseran yang jika dibiarkan akan berbahaya. Nilai-nilai pentas ketoprak bisa saja melenceng jauh.

”Sekarang ini pentas-pentas ketoprak lebih banyak mementingkan sisi hiburannya. Ketimbang esensi pentas ketoprak yang merupakan tontonan sekaligus tuntunan. Di mana banyak berkisah tentang sejarah yang paling tidak harus dimengerti anak-anak muda sekarang,” kata Jamari.

Hal itu seperti yang terlihat dalam pentas ketoprak belakangan ini. Pentas ketoprak sendiri biasanya terbagi dalam beberapa bagian. Mulai dari pembukaan dengan pembacaan narasi lakon sekaligus pemerannya, tarian srimpi, lakon cerita, emban (Red, suguhan lagu-lagu dengan beberapa sinden), lakon cerita, dan juga dagelan.

Dari tiap bagian pementasan itu, porsi hiburan dalam hal ini emban sangat dominan. Bahkan terkadang durasinya ekstra. ”Dari sini, sisi alur cerita kadang menjadi terkesampingkan. Padahal itu yang harusnya lebih menonjol. Dengan cerita-cerit sejarah, semisal babad Kabupaten Pati yang harus diketahui,” kata Jamari.

”Sebenarnya tak mengapa. Sisi hiburan juga baik. Namun nilai-nilai kesenian ketoprak ini juga harus ditonjolkan agar generasi muda ini paham, dan akhirnya mencintai kesenian ketoprak. Oleh karena itu, bersama teman-teman yang bergelut langsung dengan kesenian ketoprak ini saya dorong untuk menonjolkan sisi cerita ketoprak. Jangan sampai dikesampingkan dengan embannya dan dagelan,” paparnya. (*)

(ks/him/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia