Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Grobogan

Tim Jumantik Diturunkan di Rumah Warga Tiap Pekan, Kasus DBD Turun

11 Juli 2019, 14: 34: 49 WIB | editor : Ali Mustofa

MEMANTAU: Petugas Puskesmas mengunjungi setiap rumah untuk memantau jemantik di Desa Pulorejo, Kecamatan Purwodadi.

MEMANTAU: Petugas Puskesmas mengunjungi setiap rumah untuk memantau jemantik di Desa Pulorejo, Kecamatan Purwodadi. (INTAN M SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

GROBOGAN – Jumlah kasus Demam Berdarah Dengeu (DBD) selama Januari hingga Juni di Kabupaten Grobogan tercatat sebanyak 737 kasus, dengan satu kasus meninggal dunia. Kasus DBD tersebut kian menurun setiap bulannya, dikarenakan petugas di Puskesmas terus gencarkan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (GSRSJ).

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan Slamet Widodo. Petugas Puskesmas dikerahkan untuk menggencarkan kebersihan dan menghindari adanya genangan air ke setiap sudut rumah.

Diketahui kasus tertinggi muncul pada Januari dengan 230 kasus, Februari 250 kasus, dan Maret 105 kasus. Setelah itu hanya 70-an kasus per bulan. Akan tetapi hampir semua kecamatan endemis DBD. Penetapan daerah endemis dihitung dari adanya kasus berturut-turut selama tiga tahun. Diungkapkan, hampir semua daerah memiliki kasus DBD setiap tahunnya.

”Namun, paling banyak kasus terjadi di Kecamatan Gabus, Kradenan, Wirosari, dan Purwodadi. Keempat daerah ini termasuk paling endemis DBD. Tapi pada dasarnya semua daerah endemis, maka kami waspada ke seluruh daerah,” ujarnya.

Petugaskan menggencarkan GSRSJ di setiap desa. Petugas berkeliling memantau jentik di setiap rumah. Kemudian memberikan buku yang dipajang di depan rumah. Buku itu harus diisi mengenai pantauan jentik di rumahnya setiap hari. Kemudian, setiap Jumat petugas dari puskesmas akan mengecek buku tersebut dan mencari solusi.

 ”Desa Pulorejo, Kecamatan Purwodadi menjadi pilot project. Hasilnya selama tiga tahun ini di desa tersebut kasus DBD nihil,” ujarnya.

Bahkan, secara keseluruhan tren kasus menurun karena mulai ada kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Ini sangat berpengaruh terhadap kasus DBD. Karena setiap rumah ada satu petugas yang memantu jumantik tersebut. Kalau jumantik hilang dan tidak sampai menetas maka mereka akan aman dari DBD.

(ks/int/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia