Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Matematika dalam Perspektif Agama

11 Juli 2019, 09: 16: 20 WIB | editor : Ali Mustofa

Noor Hidayati, S.Pd, M.Pd.; Guru SMA 1 Kudus

Noor Hidayati, S.Pd, M.Pd.; Guru SMA 1 Kudus (dok pribadi)

Share this      

MATEMATIKA sering dianggap tidak ada kaitannya dengan agama. Bahkan ada guyonan di kalangan pesantren yang mengatakan bahwa matematika tidak penting, tidak jadi pitakon kubur.

Menurut Cak Nun, matematika adalah pelajaran yang paling tunduk dan sujud kepada Tuhan. Dikatakannya bahwa 4 kali 5 hasilnya 20 dalam kondisi apapun. Bahkan tidak ada orang yang mau disuap untuk mengingkari hal tersebut.

Matematika tak terpisahkan dari ilmu-ilmu syariat yang termaktub dalam    Alquran dan Hadis. Ilmu faraidl mengggunakan beberapa konsep matematika. Konsep yang digunakan di antaranya bilangan rasional. Dalam Alquran terdapat ayat-ayat mengenai waris terutama ayat 11, 12, dan 13 pada surat An- Nisa’. Allah SWT sedemikian detail menjelaskan pembagian untuk setiap ahli waris. Yaitu seperdua, seperempat, seperdelapan, duapertiga, sepertiga, seperenam dan seterusnya. Dalam ilmu faraidl, ketika hasil jumlah furudhul muqoddaroh ahli waris menghasilkan pecahan yang pembilangnya melebihi penyebutnya, maka muncullah istilah ‘aul. ‘Aul artinya memperbesar penyebut sehingga sama dengan pembilang. Sebaliknya jika jumlah furudhul muqoddaroh ahli waris menghasilkan pembilang kurang dari penyebutnya maka muncullah istilah radd. Radd artinya memperkecil penyebut sehingga sama dengan pembilang.

Matematika diperlukan untuk perhitungan dalam pembuatan kalender hijriyah yang dipelajari pada ilmu falak. Agar menghasilkan hitungan yang cepat dan tepat, tentunya memerlukan pemahaman matematika dan komputer yang cukup baik. Kompetensi yang diperlukan untuk hal tersebut antara lain operasi aljabar, trigonometri, sistem koordinat,  koordinat bola bumi, dasar MsExell dan lainnya.

Selain ilmu faraidl dan ilmu falak, matematika juga merupakan salah satu faktor kemenangan dalam Perang Badar. Ibnu Hisyam dalam kitabnya Al Sirah Al Nabawiyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW mengetahui secara persis kondisi dan kekuatan musuh, jarak antara pasukan muslim dan pasukan musuh, yang itu semua tak lepas dari ketepatan beliau dalam menggunakan matematika.

Matematika juga dimaknai lebih dalam, tidak sebatas pada angka-angka. Sebagai contoh, misalnya tentang bilangan prima. Bilangan prima adalah bilangan yang mempunyai faktor 1 dan bilangan itu sendiri. Makna yang terkandung adalah dalam kehidupan ini kita harus memiliki  prinsip bahwa penentu kesuksesan dan keberhasilan adalah 1 yaitu Allah dan diri kita sendiri. Keyakinan bahwa Allah penentu kesuksesan membawa konsekuensi pada penyampaian nilai-nilai spiritual yang selalu inheren dalam setiap diri manusia. Namun kita tidak boleh hanya pasrah pada Allah. Kita harus berikhtiar untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan tersebut.

Contoh lain tentang vektor. Unsur yang menentuan sebuah vektor adalah mempunyai titik pangkal dan arahnya. Makna yang terkandung adalah dalam kehidupan ini ada 2 unsur yang penting, yaitu niat dan tujuan. Keduanya harus baik dan positif. Niat hidup ini adalah ibadah dan melakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain dan makhluk yang lain. Seperti dalam hadis “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Ad-Daruqudni. Hadis ini dihasankan oleh Al-Bani dalam Shahihul Jami’  no: 3289).

Alquran dan hadis dalam pengembangan ilmu diposisikan sebagai sumber ayat-ayat qauliyah sedangkan hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis diposisikan sebagai sumber ayat-ayat kauniyah. Matematika dikembangkan atas dasar Alquran dan hadis serta hasil obsevarsi, eksperimen dan penalaran logis. Matematika mempunyai hubungan yang erat dengan agama. Matematika juga bisa dijadikan “jalan” menuju kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia