Minggu, 17 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

”Bongkar Kardus” Permudah Memahami Patron

10 Juli 2019, 09: 21: 44 WIB | editor : Ali Mustofa

Azharul Hikmah; Guru SMKN 1 Kudus

Azharul Hikmah; Guru SMKN 1 Kudus (dok pribadi)

Share this      

METODE pembelajaran sebagai strategi dalam pengajaran memiliki tujuan untuk memberikan arah ke mana kegiatan belajar mengajar akan dibawa. Tidak semua siswa memiliki daya serap baik apalagi terhadap materi baru yang belum pernah dipelajari. Menurut Dra, Roestiyah N.K, guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien mengena pada tujuan yang diharapkan.

Bukan hal yang mudah bagi siswa lulusan SMP yang selama ini lebih banyak memperoleh pembelajaran yang bersifat kognitif untuk memahami pelajaran pecah pola, khususnya pola busana (patron). Di mana aspek penalaran dan logika lebih banyak berperan dalam pembelajaran keterampilan. Diperlukan strategi untuk memudahkan siswa memahami dan menganalisa gambar bentuk tiga dimensi menjadi bentuk pola dua dimensi.

Berbagai upaya dilakukan guru agar siswa dalam belajar pembuatan pola busana (patron) mudah memahami, sehingga siswa tidak hanya bisa mendesain saja. Akan tetapi mampu membuat patron dengan benar. Mengenalkan siswa yang baru belajar patron ada beberapa metode yang dapat diterapkan. Di antaranya dengan teknik ”bongkar kardus”. Prinsip dari pembelajaran ini, memberi gambaran kepada siswa bagaimana proses perubahan benda tiga dimensi menjadi bentuk lembaran pola dua dimensi dengan cara memberikan potongan bentuk tertentu, agar bisa dibuka dan digelar. Kardus atau karton dipilih sebagai media belajar karena teksturnya yang agak kaku namun mudah ditekuk, dipotong, dan disambung, sehingga memudahkan dalam membentuk benda bervolume.

Pembelajaran bangkar kardus menggunakan pendekatan penyelidikan apresiatif (PA), yaitu pelacakan dan pendayagunaan kekuatan kecakapan peserta didik serta mengaktivasikannya dalam pembelajaran untuk mencapai keterampilan tertentu. Metode bongkar kardus dilakukan dengan tahapan guru membuat media belajar dari karton dengan bentuk benda bervolume yang direkatkan dengan double tipe agar mudah untuk dibuka.

Siswa diminta mengamati benda bervolume tersebut, kemudian menganalisa dengan cara menggambar di kertas. Setelah selesai kertas hasil analisa digambar di papan tulis. Jika siswa telah yakin dengan hasil analisanya, kemudian kardus bervolume tersebut dibuka atau digelar. Hasil dari gelaran kardus dicocokan dengan gambar analisa yang ada di papan tulis dan siswa diminta mencatat bagian-bagian potongan yang tidak sesuai potongan kardus.

 Penerapan metode bongkar kardus memberi stimulus kepada siswa dengan menumbuhkan rasa ingin tahu berupa permainan tantangan, seperti menganalisa model atau bentuk untuk dibangun kembali setelah benda tersebut dibongkar. Praktik berulang dengan model yang atau bentuk yang berbeda secara perlahan siswa-siswa diharapkan tidak lagi mengalami kesulitan dalam menganalisa model busana, karena telah memahami patron dari bentuk benda bervolume.

       Kelebihan metode bongkar kardus ini, siswa tertantang untuk menyelesaikan teka-teki dari bentuk benda yang disajikan, sehingga pembelajaran lebih menyenangkan. Adapun kekurangan dari pembelajaran ini, diperlukan waktu khusus dan biaya bagi guru untuk menyiapkan media belajar sebelum melaksanakan pembelajaran.

Harapan penulis, pembelajaran dengan metode ini memberikan alternatif pilihan model pembelajaran bagi guru produktif tata busana. Yakni dalam memberikan pemahaman tentang pecah pola kepada siswa yang sebelumnya sangat awam terhadap materi pembuatan pola busana di SMK. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia