Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Setelah Kota Lama Menjadi Trendi

08 Juli 2019, 08: 57: 43 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

SEPASANG orang berkulit putih terlihat duduk berhadapan. Yang pria berkemeja tetapi hanya mengenakan celana pendek. Yang wanita mengenakan kaos. Mejanya yang disinari lampu temaram masih kosong. Dari luar kafe Spiegel di jalan Letjen Suprapto, Semarang, saya perhatikan, mereka berbincang. Sesekali saling menyorongkan muka. Nyaris bersentuhan. Kelihatannya romantis

Kafe Spiegel merupakan salah satu bangunan tua di Kota Lama, Semarang, yang dipercantik. Sebelum diperbarui, gedung yang dibangun zaman Belanda itu tidak berfungsi. Banyak bagian temboknya mengelupas. Cat pintu dan jendelanya kusam. Sama seperti kebanyakan bangunan di wilayah itu.

Kini wajahnya telah cantik. Temboknya putih mulus. Cat pintu dan jendela coklat tua. Arsitekturnya masih asli. Pintunya tinggi. Saya yang berdiri di sana tidak sampai separonya. Ada tulisan Spiegel jelas di bagian atas tembok. Bangunan ini termasuk cagar budaya. Sebenarnya malam itu, saya ingin ngopi. Tetapi, telanjur kenyang. Baru makan sate di seberangnya.

Sudah beberapa kali saya berjalan-jalan di Kota Lama, Semarang. Tetapi baru pertama itu setelah renovasinya diresmikan Wali Kota Hendrar Prihadi. Kebetulan setelah salat maghrib tanggal 2 Juli lalu seorang teman mengajak jalan-jalan. “Aku kepingin mangan sing enak-enak. Sate tah opo ngunu sing khas Semarang. (Saya ingin makan yang enak-enak. Sate atau apa begitu yang khas Semarang),” katanya.

Saat itu juga saya jemput dia di Hotel Ciputra, tempatnya menginap. Namanya Supriadi. Teman kuliah di jurusan Pendidikan Luar Sekolah IKIP Malang (sekarang UNM). Kedatangannya di Semarang untuk menghadiri Konferensi APEKSI (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia). Dia salah satu dari 6.000 utusan pemerintah kota dari seluruh Indonesia.

Iskandar, general manager Jawa Pos Radar Semarang, merekomendasikan untuk makan di Kota Lama. Dia membawa kami ke warung Sate 29. Nyaris persis di depan gereja blenduk di seberang Taman Sri Gunting yang di sebelahnya ada Kafe Spiegel. Satenya khas. Sayang, waktu itu sudah habis. Yang ada tinggal sate buntel. Sama-sama daging kambing tetapi telah dicincang. Satu porsi hanya dua tusuk. Satu tusuk hanya satu potong daging. Harga per porsi Rp 80.000. Saya pesan tiga porsi ditambah satu mangkuk gule dan satu porsi balungan untuk tiga orang.

Kota Lama telah berubah menjadi tempat wisata kuliner yang menarik. Malam itu warung Sate 29 penuh. Nyaris sama dengan kondisi Kafe Sipegel dan kafe serta restoran lain di Kota Lama itu. Sebelumnya saya sempat kesulitan mencari tempat parkir. Banyak mobil yang berhenti, antre mencari tempat parkir. Jalan Letjen Suprapto macet. Apalagi ketika ada dua bus yang menurunkan penumpang.

Pak Supriadi bertemu banyak kenalannya dari berbagai kota yang sama-sama menghadiri APEKSI. Malam itu mereka juga berjalan-jalan di Kota Lama. Saya ikuti saja langkah kaki Supriadi yang pernah dua kali operasi jantung. Dari warung sate mengililingi Taman Sri Gunting. Dulu, setiap minggu pagi di taman itu ada stan-stan penjual barang-barang lama, termasuk barang baru yang dibikin dengan model lama. Saya sempat tertarik ada radio tabung yang kelihatannya masih mulus. Sayang, sudah tidak hidup.

Sekarang, pasar barang antik itu pindah di bangunan yang kelihatannya bekasa pergudangan. Ada beberapa pintu besar yang bentuknya sama dengan jarak masing-masing sama juga. ‘’Pindah ke sana, Mas,” kata seseorang memberi tahu saya sambil menunjuk ke bangunan yang catnya sudah baru. Bangunan-bangunan lain di sekitarnya telah berubah menjadi trendi meski ketuaannya dipertahankan.

Saya menikmati suasana di pasar barang antik itu. Beberapa saya sudah punya. Radio tabung, paidon (tempat membuang ludah zaman kerajaan), kinangan, lampu gantung kuningan, dan teko keramik Cina. “Bagaimana wali kota bisa mengubah bangunan-bangunan tua itu menjadi tempat bisnis yang menyedot banyak orang,” kata Supriadi heran. “Itulah pintarnya Pak Hendi (panggilan wali kota Hendrar Prihadi,” timpal saya sekenanya.

Hendi sukses mengubah bagian kota mati menjadi ingar-bingar tanpa mengubah keaslian arsitekturnya yang dibangun zaman Belanja. Kehebatannya adalah memprovokasi para pemilik maupun pengusaha membuka bisnis wisata di sana. Dulu, Kota Lama itu memang pusat bisnis. Gedung Spiegel yang berseberangan dengan gereja blenduk yang menjadi cagar budaya adalah toko kain dan peralatan rumah tangga.

Wali Kota berhasil menyulap penampilan kota tua itu menjadi trendi. Ada dua tempat wisata yang sudah dibanjiri orang dari berbagai daerah. Yaitu Old City dan DMZ, dua museum tiga dimensi yang dugemari untuk berfoto anak-anak muda. Yang terbaru ada taman lampu yang gemerlap. “Anda staf ahli wali kota, rekomendasikan Malang seperti Semarang,” kata saya menggoda Pak Supriadi

Kota lama sudah menjadi tempat wisata. Wali kota berhasil memamerkannya kepada peserta APEKSI yang kelak akan memprovokasi warganya untuk datang ke Semarang. Selama konferensi APEKSI belangsung ada 6.000 utusan yang menginap di Semarang. Semua hotel penuh. Saya sampai mengusir balik adik saya dari Kudus yang mau menginap di Semarang pada puncak konferensi APEKSI itu.

Sebenarnya kota tua Semarang sudah pernah ditata ulang. Jalan-jalannya dilapisi paving. Tetapi belum mampu menghidupkannya. Kini sebagian besar dibongkar. Diganti dengan keramik. Kanan-kiri jalan dikhususkan untuk pejalan kaki. Dilengkapi kursi-kursi besi tempa dengan dudukan kayu. Lampu-lampu jalan juga diganti dengan model lengkung Eropa atau zaman kerajaan. “Kota Lama akan menjadi daya tarik wisatawan, khususnya dari Eropa,” kata Hendi suatu saat.

Semarang didarati banyak wisatawan, termasuk dari Eropa. Namun sambil lalu. Mereka yang naik kapal pesiar langsung melanjutkan perjalanan ke Borobudur (Magelang) atau Jogja. Kini sebagian sudah menghabiskan malam di Semarang seperti dua bule yang bercengkerama di Kafe Spiegel. Wisatawan lokal juga. Bahkan warga Semarang sendiri kini menikmati tua yang dulu dianggap menakutkan. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia