alexametrics
Jumat, 06 Aug 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Belajar Asyik Kewirausahaan dengan Product Based Learning

04 Juli 2019, 14: 09: 27 WIB | editor : Ali Mustofa

Noor Chalimah, S.Pd; SMK Negeri 1 Kudus

Noor Chalimah, S.Pd; SMK Negeri 1 Kudus (dok pribadi)

Share this      

MATA Pelajaran Kewirausahaan pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sejak tahun 2006 sampai 2016 mengalami tiga kali pemutakhiran. Tahun 2006 menggunakan Kurikulum KTSP dengan mata pelajaran Kewirausahaan (KWU). Kemudian Kurikulum 2013 dengan mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan  (PKWU) dan Kurikulum 2013 Revisi 2016 dengan mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan (PKK).

Karakteristik Kewirausahaan lebih pada penguasaan kompetensi teori kewirausahaan dan pengelolaan usaha yang tidak selaras dengan kompetensi SMK. Kurikulum 2013 lebih menekankan pada keterampilan memproduksi tetapi tidak sesuai dengan keahlian kujuruan peserta didik. Kurikulum 2013 revisi 2016 memfokuskan pada perancangan produk sesuai keahlian kejuruan peserta didik. Dalam perkembangannya mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan masuk dalam kelompok mata pelajaran produktif. Sehingga bisa diampu guru produktif atau guru kewirausahaan.

Struktur kurikulum mata pelajaran ini diajarkan pada kelas XI dan kelas XII dengan jumlah jam yang lebih banyak. Kelas XI sebanyak tujuh jam pelajaran dan kelas XII sebanyak 8 jam pelajaran. Dengan adanya tambahan jam ini diharapkan peserta didik lebih banyak praktik membuat produk yang sesuai standar industri sehingga keterampilan mereka semakin terasah.

Baca juga: Jika Jembatan Dibongkar, Disbudpar Minta Sisakan Penanda Cagar Budaya

Product based learning atau pembelajaran berbasis produk melibatkan peran peserta didik  secara aktif dan kreatif serta bimbingan instruktur. Instruktur ini bisa berasal dari guru sendiri apabila sudah kompeten atau bisa juga mendatangkan guru tamu. Untuk membuat produk yang sesuai standar industri tidaklah mudah. Peserta didik harus banyak berlatih dan berlatih sampai bisa membuat produk yang sesuai standar industri. Pola latihan yang diterapkan di sekolah tanpa disadari peserta didik ternyata telah mengasah keterampilan mereka menjadi tenaga yang siap pakai.

Hal itu sesuai permintaan DUDI akan slogan SMK Bisa yang tidak hanya slogan semata tetapi bisa dilihat hasilnya secara nyata. Pembelajaran berbasis produk memberikan keuntungan banyak pihak, antara lain peserta didik, guru dan sekolah. Peserta didik mendapatkan latihan praktik membuat produk sesuai standar DUDI sehingga peserta didik dituntut dapat mengaplikasikan berbagai kompetensi secara langsung dalam membuat produk.

Keterampilan yang dimiliki peserta didik sebagai bekal untuk terjun langsung di DUDI atau membuka usaha ketika sudah lulus dari satuan pendidikan. Keuntungan bagi guru dapat menerapkan pembelajaran yang aplikatif dan menyenangkan sehingga peserta didik semangat dalam belajar dan tidak bosan. Keterampilan guru juga semakin terasah bahkan bisa menambah penghasilan secara mandiri. Sekolah dapat mencetak peserta didik yang kompeten, mendapatkan pemasukan secara finansial dan sebagai media promosi bagi sekolah.

Kenyataan di lapangan peserta didik lebih senang praktik dari pada hanya teori saja. Keaktifan, kreativitas dan semangat peserta didik dapat dilihat pada saat proses pembelajaran berlangsung. Mereka lebih semangat, antusias dan tidak bosan. Inilah uniknya pembelajaran berbasis produk, belajar yang menyenangkan.

Dengan membuat produk yang sesuai dengan jurusan masing-masing diharapkan peserta didik akan lebih mudah menciptakan produk yang sesuai standar industri sehingga layak untuk dijual. Kalau sekolah sudah bisa membuat produk yang standar diharapkan mengembangkan teaching factory sehingga bisa memproduksi secara massal  sekaligus menciptakan suasana pembelajaran bernuansa kewirausahaan. Mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan memberikan ajang kepada peserta didik untuk berwirausaha. Kegiatan expo, gelar karya yang diselenggarakan di sekolah bertujuan mendorong dan menginspirasi peserta didik agar mampu menyiapkan diri menghadapi tantangan di dunia kerja, khususnya menyongsong era industri 4.0. Alumni SMK selain bekerja di industri, melanjutkan studi di jenjang pendidikan tinggi juga di dorong menjadi wirausaha kreatif. Peserta didik yang berasal dari keluarga yang mempunyai tradisi wirausaha akan lebih mudah menumbuhkan minat dan bakat dalam berwirausaha. Mereka lebih jeli dalam menangkap peluang usaha yang ada. Alhasil, sekarang muncullah berbagai macam jenis ide bisnis kreatif yang kebanyakan diusung anak muda. Pembelajaran kewirausahaan di sekolah sudah membekali mereka kepercayaan diri  serta  karakter positif yang lain seperti jujur, kreatif, mandiri dan bekerja keras. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP