Minggu, 15 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Jawa Pos Kerjo, Polisi Juga

01 Juli 2019, 11: 32: 27 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

HARI ini, 1 Juli, ada dua peringatan besar bagi saya. Hari ulang tahun ke-70 Jawa Pos dan hari ulang tahun ke-73 Bhayangkara. Jawa Pos adalah tempat kerja saya kali pertama dan berlanjut sampai sekarang. Sedangkan Bhayangkara adalah kepolisian milik seluruh rakyat Indonesia, tempat kali pertama saya diberi ruang liputan ketika menjadi wartawan.

Cukup lama saya setiap hari bertemu anggota korp berbaju cokelat. Bergaul, berdialog, dan jalan bareng. Setiap hari pula saya menyerap filosofi dan etos kerja kepolisian. Siap setiap saat. Beberapa orang polisi mengatakan saya lebih polisi dibanding polisi.

Dalam beberapa hal (ma’af) bisa jadi wartawan memang lebih tahu dibanding polisi. Sampai-sampai seorang polisi berpangkat mayor (sekarang komisaris polisi/Kompol) “memberi” saya pangkat kapten (sekarang ajun komisaris polisi/AKP), setingkat di bawahnya.

Saya dipanggil komandan oleh banyak orang karena ketegasan saya. Baik di kantor maupun oleh orang kepolisian (waktu itu). Sampai sekarang pun ketika bertemu oleh Pak Azrul Ananda, anak sulung Dahlan, saya masih dipanggil komandan. Di banyak hal Azrul memiliki tipe yang sama dengan ayahnya. Ketika memimpin Jawa Pos pun Azrul memegang prinsip yang sama. Jawa Pos semakin berkibar. Beberapa tahun saya menjadi stafnya.

Ada persamaan antara Bhayangkara dengan Jawa Pos. Yaitu kerja di relnya tanpa terpengaruh oleh kondisi apapun. Polisi harus jujur. Demikian juga wartawan. Mereka menjunjung azas kebenaran. Melihat sesuatu sesuai fakta dan bukan opini. Kritis dalam menegakkan aturan, tetapi mengedepankan pendidikan.

Hari ini saya bahagia luar biasa. Di usia ke-59 tahun saya masih bisa mengabdikan diri di perusahaan yang dibesarkan oleh Dahlan Iskan. Inilah perusahaan yang konsisten dengan tag line Kerja, Kerja, Kerja. Inilah prinsip yang dikembangkan oleh Dahlan dalam situasi apapun. Ketika terjadi gonjang-ganjing politik pun Jawa Pos tetap bekerja dan tidak terpengaruh oleh situasi. Pada usia ke-70 ini pun logonya Ker70 (baca kerjo alias kerja). Kepolisian ‘’Juga’’ (berulang ketujuh puluh tiga). 

Prinsip itu harus dijalankan oleh semua karyawan. Inilah antara lain yang menjadikan Jawa Pos terus berkembang hingga menjadi raksasa media sampai sekarang. Ketika ditunjuk menjadi direktur Jawa Pos Radar Kudus dan dan Radar Semarang, prinsip itu pun saya pegang teguh. Terbukti kedua perusahaan itu juga mengalami kenaikan. Bahkan sampai sekarang ketika banyak media berguguran.

Saya bersyukur bisa mewarnai perjalanan Jawa Pos sejak tiga tahun perusahaan koran itu dijalankan oleh Dahlan. Selama hampir 35 tahun (setengah usia Jawa Pos) belum pernah pindah ke perusahaan lain. Bahkan di saat memasuki masa pensiun, masa kerja saya masih diperpanjang hingga sekarang. Kata banyak teman, saya tipe orang yang loyal. Polisi juga loyal pada korpnya. Hehehe.

Dulu, sebelum menjadi direktur Jawa Pos Radar Semarang dan Radar Kudus, saya sempat bertahun-tahun menjadi komandan open house di ruang redaksi Jawa Pos setiap hari ulang tahun. Banyak kejadian unik. Kebetulan kantor Jawa Pos di Surabaya dan Polda Jatim berdampingan. Di jalan A. Yani.

Setiap tanggal 1 Juli, baik Jawa Pos maupun Polda Jatim, kebanjiran karangan bunga dari berbagai elemen masyarakat. Yang lucu, ada karangan bunga yang mestinya untuk kepolisian dikirim ke Jawa Pos. Ada pula kue ulang tahun yang mestinya untuk Jawa Pos dikirim ke Polda. Kejadian itu dulu sempat beberapa kali saya temui. Entah sekarang.

Selamat ulang tahun Jawa Pos, selamat ulang tahun kepolisian. (hq@jawapos.co.id)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia