Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Politik

Sudah Menjabat 3 Periode, Ketua PDIP Rembang Mundur dari Dunia Politik

Sukses Antarkan Gubernur hingga Presiden

29 Juni 2019, 05: 33: 53 WIB | editor : Ali Mustofa

TETAP SEMANGAT: Sumadi mengenakan baju dan tongkat peninggalan almarhum orang tuanya usai putuskan mundur di dunia politik, kemarin.

TETAP SEMANGAT: Sumadi mengenakan baju dan tongkat peninggalan almarhum orang tuanya usai putuskan mundur di dunia politik, kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA – Ketua DPC PDI Perjuangan (PDIP) Kabupaten Rembang Sumadi memutuskan mundur dari dunia politik, setelah tiga periode menjabat. Ke depan warga Tlogotunggal, RT 01, RW 04, Kecamatan Sumber ingin meneruskan jejak orang tuanya yang memiliki kemampuan supernatural dan berkumpul bersama keluarga.

Kabar ini disampaikan pada Jawa Pos Radar Kudus saat bersilahturahmi di kediamannya kemarin. Sumadi menyatakan secara resmi memutuskan mundur tanggal 25 Juni lalu. Pertimbangan usia, larangan istri maupun dokter pribadi mengenai kesehatannya.

”Saya sudah di weling almarhum orang tua saya. Besok kalau tahun 2019 harus berhenti dari dunia politikus,” terang, Sumadi kelahiran Rembang 25 Desember 1951.

Sumadi sendiri terjun dunia politik sejak 15 tahun silam atau 2004. Banyak asam-manis yang dirasakan selama menekuni politik di partai banteng moncong putih.

Berawal dari dorongan rekan-rekan sesama politikus. Seperti beberapa figur di partai PDI Perjuangan ada Ridwan maupun Suwardi. Selain atas restu dari orang tua sekaligus gurunya, Patmo Sugondo. Termasuk peninggalan berupa tongkat.

”Kalau terjun di PDI sudah lama, sejak Partai Nasional Indonesia (PNI). Untuk ketua DPC sudah tiga periode ini,” terang suami dari Ny. Royong.

Selama menakhodai PDI Perjuangan di Rembang banyak hal dicapai. Sebagai kilas balik berhasil mendulang suara naik. Perjuangan berikutnya ikut andil mengantarkan orang yang didukung menjadi Gubernur Jawa Tengah. Seperti, Bibit Waluyo berpasangan Rustriningsih (periode 2008 hingga 2013). Hal itu berlanjut pencalonan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo dua periode.

”Sebenarnya di Rembang kalah. Karena saya mendatangkan Bu Megawati, pendukung dari Rembang kembali bangkit. Feeling saya tepat pemilihan gubernur yang diusung PDIP menang, termasuk saat pencalonan Bu Megawati” bangganya.

Termasuk saat pencalonan presiden Joko Widodo-Ma’aruf Amin. Dirinya secara mati-matian mendukung penuh. Hasilnya di klaim 87 persen kemenangannya di kabupaten Rembang, lewat pendekatan langsung masyarakat.

“Bagaimanapun Jokowi tetap menjadi presiden. Ini berkat wahyu kamulyaning urip. Memang semua tidak mudah. 15 tahun ini berkat wejangan almarhum orang tua sekaligus guru, Patmo Sugondo segala rintangan berhasil saya lalui. Kini orang tuanya kita makamkan di Parang Kesuma, Jogjakarta. Kebetulan dulu paranormalnya Presiden Suharto,” terangnya.

Dia mengakui banyak suka-duka memimpin partai. Sebab, ada banyak kepentingan di dalamnya. Namun begitu, semua ditelan tanpa mengucap apa-apa. “Meskipun tahun 2017 kesandung masalah. Termasuk tidak jadi calonkan wakil bupati bersama Abdul Hafidz,” kenangnya.

Ke depan pasca mundur ia ingin menikmati waktu bersama keluarga. Demikian tetap menjalin silahturahmi bersama teman-temannya. Jadi prinsipnya ketika ingin dibutuhkan pengurus baru tetap support.

”Kini pengganti sudah ada. Tapi baru diusulkan di tingkat DPD Provinsi Jawa Tengah. Ini setelah tanggal 23 Juli kita kumpulkan ketua PAC di kantor DPC. Saya bilang tidak mencalonkan, biar dipegang anak-anak muda,” imbuhnya.

(ks/noe/ali/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia