Rabu, 13 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Pengumuman Jelas, Peserta PPDB Tak Lagi Datang Sejak Subuh

26 Juni 2019, 10: 49: 58 WIB | editor : Ali Mustofa

DITELITI: Panitia PPDB SMA 1 Kudus melakukan pendataan berkas yang sudah masuk kemarin.

DITELITI: Panitia PPDB SMA 1 Kudus melakukan pendataan berkas yang sudah masuk kemarin. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS – Hari kedua penyerahan berkas pendaftaran peserta didik baru (PPDB) SMA tidak terlalu bejubel. Juga tak ada lagi orang tua yang datang ke sekolah pukul 05.00. Sebab, jadwal pembukaan perdana verifikasi berkas masing-masing sekolah sudah diumumkan berkali-kali.

Seperti di SMA 2 Kudus sampai ditempel di papan pengumuman kalau orang tua atau siswa yang mendaftar tak perlu datang terlampau pagi. Karena tidak mempengaruhi urutan siswa, sebab yang menentukan tetap jarak.

Kepala SMA 2 Kudus Sri Haryoko mengatakan, untuk jalur zonasi tetap jarak yang menentukan. Setelah calon siswa baru mendapatkan token, lalu melakukan aktivasi akun yang nantinya dibuka 1 Juli mendatang.

Terpisah, di SMA 1 Kudus ada pendaftar dari MTs dari Denpasar dan SMP dari Ambon. Ada juga dari Gresik, Jawa Timur. Panitia PPDB Ari Wijaya mengatakan, mereka menggunakan jalur prestasi luar zona. ”Ada juknis baru kuota 5 persen jalur prestasi luar zona, 5 persen jalur perpindahan orang tua, 20 persen jalur prestasi dalam zona, dan 70 persen jalur zonasi (menggunakan jarak),” ungkapnya.

Sementara itu, tahapan verifikasi dan pembuatan akun penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMA di Rembang diklaim berjalan lancar. Animo calon siswa cukup besar. Belum dibuka saja, antrean sudah panjang. Begitu antusiasnya orang tua rela menunggu berjam-jam sampai memastikan anaknya masuk sistem.

Sedangkan di hari kedua kemarin jumlahnya berangsur menurun. Tidak seperti sebelumnya yang terpantau di sekolah negeri kota. Sebelumnya terlihat antrean panjang hingga di ruang kelas, untuk menunggu giliran.

Pastinya berapapun jumlahnya tetap dilayani. Dengan menyertakan sesuai ketentuan membawa surat keterangan lulus. Lalu fotokopi kartu keluarga (KK) atau keterangan domisili. Begitupun yang jalur prestasi membawa piagam atau surat keteragan (sertivikat hasil ujian nasional).

RAMAI: Sejumlah pendaftar mengantre untuk melakukan verifikasi dan pembuatan akun di SMAN 1 Rembang. Di hari kedua kemarin, antrean menurun.

RAMAI: Sejumlah pendaftar mengantre untuk melakukan verifikasi dan pembuatan akun di SMAN 1 Rembang. Di hari kedua kemarin, antrean menurun. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Ketua Musyarawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Jufri menuturkan, verivikaasi dan pembuatan akun tidak ada kendala. Semua dapat terlayani dan masuk di sistem dengan jaringan internet.

”Khusus di SMAN 1 Rembang, hari pertama 351 anak yang terverifikasi. Pelayanan dibuka mulai pukul 07.00 sampai 15.30,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin (25/6).

Tahapan verifikasi dan pembuatan akun dilaksanakan 5 hari. Mulai 24 Juni sampai 28 Juni. Praktis ini masih ada waktu tiga hari untuk melengkapi persyaratan. Sementara untuk daftar online pada 1-5 Juli.

Mengenai kebijakan pendaftaran tahun ini berubah. Sesuai Permendikbud No 51 tetap ada jalur zonasi, mutasi, dan prestasi. Demikian dari jalur zonasi tersebut untuk tahun ini ada 20 persen menggunakan seleksi.

”Kalau sebelumnya zonasi 90 persen tidak ada. Saat ini ada 20 persen seleksi murni wilayah. Pertimbangan yang anak berprestasi yang dalam zonasi jauh satuan pendidikan sangat dimungkinkan tidak diterima. Padahal masih diberlakukan ujian nasional,” terangnya.

Di Kabupaten Rembang sendiri, koutanya 2.838 siswa. Hanya, saat ini  belum mengetahui mereka memilih di sekolah mana. Karena kuota setiap sekola beda, namun untuk rombelnya ada 34 dan 36 setiap kelas. Karena pada 1 Juli mereka baru menentukan sekolah. Saaat ini masih tahapan verifikasi persyaratan dan diberikan akun. Sebenarnya bisa mendaftar via handphone atau mengakses di rumah masing-masing.

Perubahan aturan pada PPDB SMA memang harus dicermati para pendaftar. Hal ini agar calon peserta didik tidak salah langkah memilih sekolah serta jalur pendaftaran yang digunakan.

Sebelumnya, aturan pada PPDB SMA 2019 ditetapkan 90 persen jalur zonasi, 5 persen jalur prestasi dan 5 persen jalur perpindahan orang tua/wali. Namun setelah ada keberatan yang disampaikan banyak pihak khususnya Gubernur Ganjar Pranowo (untuk wilayah Jawa Tengah) pada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, akhirnya ada penyesuaian peraturan jalur PPDB online SMA Negeri di Jawa Tengah.

ANTRE: Calon peserta didik mengantre proses verifikasi dan pembuatan akun kemarin.

ANTRE: Calon peserta didik mengantre proses verifikasi dan pembuatan akun kemarin. (FEMI NOVIYANTI/RADAR KUDUS)

Untuk jalur prestasi di luar zona sendiri yang awalnya 5 persen kini bisa dikembangkan menjadi 15 persen. Sementara untuk jalur zonasi yang awalnya zonasi murni 90 persen kini dibagi menjadi dua lagi. Yakni 70 persen zonasi murni dan 20 persen jalur prestasi dalam zona.

 ”Pada surat edaran menteri seperti itu, yang awalnya paling banyak 5 persen untuk jalur prestasi luar zona bisa dikembangkan jadi paling banyak 15 persen,” kata Ketua MKKS SMA Kabupaten Jepara Udik Agus Dwi Wahyudi.

Pria yang juga merupakan kepala SMA Negeri 1 Jepara ini melanjutkan, untuk di sekolahnya kuotanya 90 persen jalur zonasi (70 zonasi murni dan 20 prestasi dalam zonasi), 5 persen jalur prestasi, dan 5 persen jalur perpindahan orang tua/wali murid. ”Untuk jalur prestasi luar zona kami tetap 5 persen. Ini tidak menyalahi aturan, karena batas minimalnya 5 persen,” ungkapnya.

Perubahan aturan itu, disosialisasikan pada Jumat (20/6) lalu. Pihaknya sendiri tidak mempermasalahkan perubahan tersebut. ”Pada dasarnya kami siap melaksanakan aturan,” tuturnya.

Disinggung mengenai sistem zonasi pada PPDB tahun ini, Udik menyatakan, ini merupakan tahun ketiga. Dia menyebut, tahun pertama dikenal dengan istilah rayonisasi. Tahun lalu menggunakan zonasi namun tidak zonasi murni atau masih mempertimbangkan nilai. Baru tahun ini ada zonasi murni yang sistem seleksinya berdasarkan jarak rumah ke sekolah tanpa mempertimbangkan nilai.

Aturan baru ini menjadi tantangan tersendiri khususnya bagi sekolah-sekolah unggulan, lantaran tahun ini tak bisa memilih siswa hanya berdasarkan prestasi. ”Dari satuan pendidikan tetap menyiapkan diri sistem apapun yang akan dibuat. Kami siap mengelola, memacu potensi siswa secara optimal, dan siap bersaing dengan beragam strategi supaya tetap unggul,” imbuhnya. 

(ks/san/noe/emy/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia