Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Features
Ernantoro, Sejarawan Dokumentasikan Lasem

Jadi Rujukan Peneliti dan Jurnalis, Ciptakan Tari Tiga Warna

26 Juni 2019, 09: 48: 50 WIB | editor : Ali Mustofa

BUKU LANGKA: Ernantoro menunjukkan buku laporan penelitian Lasem yang dia terlibat dalam penyusunannya.

BUKU LANGKA: Ernantoro menunjukkan buku laporan penelitian Lasem yang dia terlibat dalam penyusunannya. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

Kiprah Ernantoro di jagat kesejarahan Lasem tak bisa dipandang sebelah mata. Penelitian demi penelitian yang dia lakukan menahbiskannya sebagai salah satu sosok yang paling mengerti tentang Lasem. Peneliti hingga jurnalis luar daerah pun selalu menjadikannya jujugan.

SAIFUL ANWAR, Rembang

SENYUM semringah tersungging di bibir Ernantoro saat menyambut Jawa Pos Radar Kudus di kediamannya, di Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, Rembang, baru-baru ini. Setelah mempersilakan duduk, sosok yang akrab disapa Toro ini, memperlihatkan sebuah buku yang berisi laporan penelitian arkeologi. Judulnya ”Identifikasi Potensi Sumber Daya Arkeologi Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang”.

”Buku ini terbatas. Cuma ada beberapa. Dari tim peneliti sebuah, pemkab sebuah, dan satu lagi ini,” tutur pria kelahiran Rembang, 30 Oktober 1962 itu.

Buku yang disusun Tim Penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta pada 2011 itu merupakan salah satu dokumen penting yang merekam banyak hal seputar Lasem. Meskipun hanya disebut sebagai salah satu pihak yang turut menyukseskan penyusunan buku tersebut, Toro dan almarhum ayahnya lah sosok yang turut menginspirasi disusunnya buku tersebut.

Laporan setebal 335 halaman itu, mencatat berbagai hal penting tentang Lasem. Misalnya, catatan mengenai kompleks makam Nyai Ageng Maloko, Situs Pasujudan Bonang, hingga Kadipaten Lasem pada abad ke-16. Berbagai catatan arkeologi seperti prasasti hingga bangunan bersejarah di Lasem pun tak luput dari perhatian.

Laporan itu hanya satu dari sekian dokumen yang dimiliki bapak dua anak itu tentang segala hal yang berkaitan dengan kesejarahan Lasem. Dalam berbagai kesempatan, Toro pun hampir selalu menjadi rujukan bagi mereka yang ingin tahu lebih banyak tentang Lasem. Baik pelajar, peneliti, hingga jurnalis dari luar daerah.

Kiprah Toro di bidang kesejarahan dan budaya Lasem memang dimulai sejak usianya masih belia. Mewarisi darah seni dari orang tuanya yang punya grup seni, Toro sudah gemar menggambar sejak kecil.

Menginjak SMP, Toro sudah membantu ayahnya yang saat itu sejarawan tunggal pengumpul benda-benda kuno di Lasem. Benda-benda itu ditemukan di banyak tempat. Ada keramik, batu bertulis, gerabah, dan sebagainya. Toro bersama pemuda setempat mengumpulkan benda itu di rumahnya untuk kemudian mendokumentasikan.

”Jadi setiap Sabtu, dulu itu ada pekerjaan mengumpulkan benda-benda apa saja yang dicurigai, dicatat, dan difoto. Dikumpulkan, nanti diteliti bareng-bareng,” paparnya.

Ayahnya, Slamet Wijaya selain penggiat grup seni merupakan sejarawan satu-satunya di Lasem. Kemungkinan juga di Rembang. Dari aktivitas itulah yang akhirnya membuat Toro tanpa sengaja ”terjerumus” ke dunia penelitian sejarah Lasem.

Bertahun-tahun agenda Sabtunan itu berlangsung. Hingga akhirnya dilembagakan secara resmi dengan nama Fokmas (Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah) dengan ayahnya sebagai pemimpinnya.

”Pembentukannya ya kami kirim dulu surat ke Balar (Balai Arkeologi) Jogjakarta. Dan diterima. Waktu itu tahun 2010. Malah akhirnya mereka ke sini setahun kemudian, untuk meneliti itu,” aku Toro.

Saat kali pertama dibentuk, Fokmas beranggotakan 24 orang dengan dibagi empat regu. Masing-masing regu memiliki tugas menyisir tempat-tempat yang telah ditentukan untuk menemukan benda-benda yang dinilai bersejarah. Mulai di sungai Kiringan hingga pegunungan Lasem.

Sejak 2010 hingga 2013, ketua Fokmas berganti beberapa kali. Namun, sejak 2013 hingga kini, posisi Toro sebagai ketua tak tergeser sama sekali. Menurut Toro, menjadi ketua Fokmas harus banyak berkorban sehingga posisinya sulit.

”Saya selalu ingat filosofi bapak. Lasem itu bagaikan mutiara yang ditutupi sampah,” kata Toro sembari mengenang almarhum ayahnya.

Karena kiprahnya di dunia kesejarahan sudah cukup lama, dewasa ini ketika masyarakat menemukan benda-benda yang dinilai bersejarah, Toro pun menjadi rujukan. Mulai dari pelajar, balai arkeologi, dinas kebudayaan, hingga jurnalis pun menjadikan dia sebagai jujugan kala ingin mengetahui lebih banyak tentang kesejarahan Lasem.

Satu hal yang membuatnya bangga, yakni ketika mengangkat nilai sejarah Lasem dan masyarakat bisa menikmatinya. ”Suatu kebanggaan bisa mengangkat sejarah Lasem. Karena kami benar-benar independen. Tak terikat pemerintahan,” terang pria berkumis tipis itu.

Sebagai orang yang sangat mencintai Lasem, Toro pun bermimpi suatu saat Lasem bisa menjadi kawasan cagar budaya dunia. Hal itu pun akan dilakukannya dengan pelan-pelan mendekati masyarkat.

”Sendangasri jadi kawasan Jawa, Karangturi jadi kawasan Pecinan, mungkin nanti pesantren mewakili muslim. Akhirnya tiga itu jadi satu, memperlihatkan Lasem ada kerukunan,” ujar suami Diah Wulandari itu sambil menunjukkan konsep kawasan cagar budaya Lasem.

Berdasar dari tiga kawasan khas Lasem itu, Toro pun menciptakan tarian tiga warna. Sebuah tarian yang memadukan rasa Jawa, Tiongkok, dan Arab. Tarian Tiga Warna itu pun kini kerap ditampilkan di berbagai even budaya di Rembang. Bahkan juga di Jakarta. ”Di Jakarta juga sudah sering ditampilkan,” katanya.

Hal lain yang juga menjadi mimpinya, terciptanya batik tulis Lasem bermotif sejarah Lasem. Namun, dia sadar proses itu akan memakan waktu yang panjang. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia